21 Februari 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Ditengah Pro Kontra, Ini Tips Membuat Biosaka Anti Gagal

Sinar Tani, Semarang — Pro kontra terhadap inovasi teknologi Biosaka masih berlangsung di tengah masyarakat pertanian. Yang kontra mengatakan bahwa, biosaka belum teruji secara ilmiah, yang terjadi justru mengakibatkan kerugian dan kerusakan tanaman. Sedangkan bagi yang probiosaka, mengcounter pendapat-pendapat miring tersebut dengan berdalih, bahwa kegagalan tersebut kemungkinan besar karena salah aplikasi atau menggunakan biosaka yang  “tidak jadi” dalam proses pembuatan.

Biosaka pertama ditemukan dan dicoba sejak tahun 2006 oleh petani dari Blitar, bernama Muhamad Anshar.  Penemu biosaka menegaskan bahwa biosaka bukan merupakan  pupuk, bukan pestisida ataupun perangsang tumbuh.

Biosaka yang berupa larutan terbuat dari  tumbuhan atau rerumputan adalah “elisitor”. Menurut mbah Google Elisitor adalah molekul signal yang memacu terbentuknya metabolit sekunder di dalam kultur sel. Elisitor yang berasal dari bahan hayati disebut elisitor biotik yang meliputi polisakarida, protein, glikoprotein atau fragmen-fragmen dinding sel yang berasal dari fungi, bakteri, dan tanaman.

Larutan tersebut oleh penemunya dinamai “biosaka”. Biosaka dikatakan mampu melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Biosaka juga  mampu menekan penggunaan pupuk mencapai 50-90 persen, pada tingkat produktivitas yang sama.

Menurut Anshar, biosaka terdiri dari dua suku kata, Bio dan Saka, Bio singkatan dari Biologi, dan Saka singkatan dari Soko Alam Kembali Ke Alam atau dari Alam Kembali ke Alam.  Biosaka merupakan inovasi yang telah dikembangkan oleh petani dari bahan-bahan yang  baru-terbarukan dan tersedia melimpah di alam.

“ Elisitor Biosaka memang beda, karena tidak menggunakan mikroba maupun proses fermentasi dalam pembuatannya, dan bukan merupakan teknologi yang rumit, tapi hanya sesuatu yang sederhana sekali ” kata Anshar.

Reaksi biosaka dapat dilihat dalam waktu 24 jam setelah aplikasi. Dapat digunakan pada seluruh fase tanaman, mulai dari benih sampai panen. Proses produksinya pun sangat cepat karena tidak menggunakan metode fermentasi yang biasanya memakan waktu paling cepat 1 minggu.

Beberapa jenis tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan baku pembuatan biosaka antara lain: babadotan (Ageratum conyzoides L), tutup bumi (Elephantopus mollis Kunth), Kitolod (Hippobroma longiflora), maman ungu (Cleome rutidosperma), Patikan kebo (Euphorbia hirta L), Meniran (Phyllanthus niruri L), anting-anting ( Acalypha indica).  Tanaman-tanaman  tersebut memiliki kandungan senyawa fitokimia seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, steroid, saponin, tanin, fenolik dan kuinon

Lalu bagaimana agar Biosaka dapat berdaya guna (efektif) ketika di aplikasikan terhadap tanaman ?  Para praktisi dilapangan,  yang terdiri dari Penyuluh Pertanian, Petugas POPT dan Kontak Tani mengatakan bahwa pada dasranya tergantung pada  : (1) Cara pembuatan benar, sehingga menghasilkan biosaka yang jadi, dan (2) cara aplikasi yang benar.

Slamet Riyadi, penyuluh pertanian di sentra sayuran Bandungan, Semarang , berhasil meningkatkan keragaan tanaman bayam dengan aplikasi biosaka. Dia memberi tips agar dapat menghasilkan biosaka jadi :

  1. Siapkan bahan berupa rumput-rumputan/daun-daunan. Pilih yang sehat,  simetris, bebas hama /penyakit, tidak bolong-bolong, tidak jamuran, ujung daun tidak kusam dan warna daun rata. Ambil yang pucuk,  masih hijau,   2-4 lembar daun dengan batangnya. Yang paling bagus adalah yang tumbuh di tempat ekstrim, tumbuh di pinggir jalan kering dan berbatu, di dinding/di tembok, pegunungan berbatu, di tanah PH rendah/masam, di lahan rawa dan air genangan sepanjang tahun. Cukup satu genggam tangan untuk 1 wadah dalam satu kali pembuatan, 5% bahan dan 95% air atau sekitar 2,5 ons bahan rumput/daun dalam 5 liter air.
  2. Proses pembuatannyadilakukan dengan cara meremas dedaunan atau rerumputan di dalam air   selama kurang lebih 10 -15 menit sampai tercampur homogen tidak mengendap, tidak berubah warna menjadi bening dan tidak mengeluarkan gas meskipun disimpan dalam waktu yang lama).
  3. Peremasan harus dilakukan dengan perasaan yang lega, senang gembira. Lakukan dengan remasan yang kuat tapi pelan-pelan saja. Setiap 3 remasan lakukan menyibak air ke kiri. Sehingga akan terjadi semacan pusaran air “Putaran kekiri ini sesuai fenomena alam, tanaman merambat yang enak dimakan, seperti kacang panjang, selalu merambat berputar kekiri, tapi tanaman beracun, seperti gadung, merambat berputar kekanan” jelas Mustafik seorang Penyuluh Pertanian pula.
  4. Peremasan dilakukan sampai ramuan menjadi homogen , menyatu antara air dengan saripati rumput/daun.  Ciri-ciri   homogen: tidak mengendap, merata homogenitas dalam botol mulai dari bagian atas, tengah dan bawah; tidak timbul gas, tidak ada butiran, bibir permukaan membentuk pola cincin,   pekat dan mengkilap, diterawang tidak bening, bisa berwarna hijau/biru/merah sesuai dengan warna rumput/daun yang digunakan.
  5. Biosaka homogen yang sempurna (jadi) bisa disimpan hingga 5 tahun.
Baca Juga :   Warsana Kembali Pimpin Perhiptani Jateng

Aplikasi yang benar menghasilkan dampak yang diharapkan, sebaliknya aplikasi yang salah justru mengakibatkan kerusakan tanaman. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam aplikasi biosaka antara lain :

  1. Alat semprot harus bersih .
  2. Dosis  padi dan jagung 40ml/ 15-16 liter. Aneka kacang dan umbi 30ml/15 lt air –  10ml/tanki. Per hektar   2 – 4 tanki sprayer @ 15 liter.
  3. Aplikasi pertama  padi dan jagung 7-10 HST, dilanjutkan 7 kali semusim, interval   10-14 hari. Sayuran tiap minggu.
  4. Penyemprotan dilakukan dengan nozzle kabut di atas pertanaman, minimal 1 meter di atas tanaman, posisi nozzle menghadap ke atas, tidak boleh diulang-ulang.
  5. Bila setelah disemprot daun justru menguning/menggulung , maka hari berikutnya disemprot kembali dengan cara yang benar dan sesuai dosis anjuran, sehingga daun menjadi pulih dalam waktu 24 jam.
  6. Waktu penyemprotan  pagi/siang/sore. Sebaiknya pada sore hari saat ada angin sehingga mudah menyemprot kabut.
  7. Penyemprotan cukup dari atas pematang dengan stik/gagang semprot

Budi Santoso,SP, seorang petugas POPT yang bertugas di kecamatan Guntur dan kecamatan Kebonagung, yang merupakan daerah lumbung padi di kabupaten Demak,Dari catatan Budi Santoso, perlakuan Biosaka yang dipadukan dengan pupuk kompos dan penggunaan APH dapat menghasilkan produktivitas 8,5 ton GKP per Ha. Penggunaan pupuk kimia dosis rekomendasi menghasilkan 7,8 ton GKP per Ha. Sedangkan perlakuan petani menghasilkan 5,6 ton GKP per Ha. Budi menambahkan produktivitas tersebut merupakan hasil riil pada saat panen.

Sudarno, Penyuluh Pertanian kecamatan Trucuk, kabupaten Klaten mengatakan,pPetani di kelompok Rukun Tani, yang menerapkan   perlakuan  elisitor biosaka di lahan bengkok seluas 2 Ha, pada musim tanam 2022/2023, ditanam secara jajar legowo 2 : 1,  dapat menghasilkan produktivitas 9 ton GKP per Ha.

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini