16 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Serangan Tikus Makin Menjadi, Pagar Perangkap Jadi Solusi

Sinar Tani, Ungaran — Serangan tikus sawah memang kerap membuat pusing petani. Begitu menyerang, tikus bisa menyebabkan kerugian bahkan hingga petani gagal panen. Berbagai cara dilakukan petani untuk mengatasi serangan hewan pengerat yang satu ini, salah satunya dengan metode pagar perangkap tikus.

Tikus sawah (Rattus argentiventer),  berbeda dengan tikus rumah. Tikus sawah mengerat tanaman padi tidak hanya untuk makan. Walau perutnya telah penuh dia tetap mengerat, hanya agar giginya tidak bertambah panjang.

Serangan tikus sawah terhadap tanaman padi bisa ringan, tetapi dapat juga berat mengakibatkan tanaman puso. Dibeberapa daerah serangan tikus berlangsung bermusim-musim tanam. Sehingga petani menderita gagal panen, produksi padi didaerah tersebut merosot merosot drastis. Tikus sawah termasuk hama yang relatif sulit dikendalikan.

Tubuh bagian atas tikus sawah berwarna cokelat kekuningan dan bagian bawah berwarna putih keabu-abuan. Panjang kepala sampai badan 13-23 cm dan ekor yang lebih pendek dari panjang tubuhnya. Perkembangbiakan hama tikus amat cepat. Tikus betina siap kawin ketika berumur 1-1,5 bulan dan tikus jantan lebih lama yaitu 2-2,5 bulan.

Masa bunting tikus berlangsung selama 21 hari dan mampu kawin kembali 48 jam setelah melahirkan. Seekor tikus betina berkembang biak dari awal musim menjadi 120 tikus di akhir musim. Daya rusak hama tikus pada tanaman padi juga  cukup tinggi karena menyerang tanaman sejak di pesemaian hingga menjelang panen.

Sedikit Mengenal Tikus

Tikus termasuk hewan menyusui (kelas mamalia) yang amat cerdik dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Namun dalam kehidupannya, tikus tergolong hama yang sangat merugikan karena sering menimbulkan kerusakan terutama di lingkungan sawah, ladang, rawa, semak-semak, gudang, dan rumah. Hanya pada jenis tikus putih (rattus norvegicus strain albino) dan mencit putih (Mus musculus strain albino) yang bisa dimanfaatkan sebagai hewan percobaan untuk pengujian obat manusia.

Tikus termasuk binatang malam sehingga aktivitasnya lebih banyak dilakukan pada malam hari, diawali matahari terbenam hingga menjelang matahari terbit. Kegiatan tikus setiap harinya meliputi mencari makan dan minum, mencari pasangan, dan orientasi kawasan.

Jarak jelajahnya tergantung pada jumlah sumber pakan yang ada, di saat sumber pakan cukup banyak maka jarak jelajahnya tidak jauh dari sarangnya. Pada saat sumber makanan berkurang, tikus akan melakukan migrasi untuk mencari sumber makanan yang baru hingga mencapai jarak 1-2 km.

Tikus termasuk hewan pemakan segala (omnivora) yang mampu memanfaatkan beragam pakan untuk bertahan hidup. Makanan utamanya adalah tumbuh-tumbuhan, serangga dan beberapa jenis binatang kecil.

Tikus termasuk hewan pengerat yang mempunyai gigi seri sangat tajam dan selalu tumbuh memanjang. Untuk menekan pertumbuhan gigi serinya maka ia sering mengerat benda-benda keras maupun lunak yang dijumpainya.

Upaya Pengendalian

Beberapa cara pengendalian hama tikus yang biasa dilakukan petani yaitu : Gropyokan, Pengumpanan, Pemasangan Jaring, Penggenangan air, Sanitasi, Pengendalian Hayati, Pengaturan Pola Tanam

Pada saat ini banyak petani, dengan dibimbing oleh Penyuluh Pertanian dan POPT (Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) melakukan pengendalian hama tikus dengan cara yang relatif   baru. Yaitu  sistem TBS ( Trap Barrier System) dan atau system LTBS (Linear Yrap Barrier System).

Sistem Trap Barrier System (TBS) atau Sistem Perangkap Pagar,  yaitu penggunaan pagar dan perangkap untuk menjebak tikus.  Di beberapa daerah, penggunaan TBS cukup efektif mengendalikan serangan hama tikus. Di salah satu tempat , populasi tikus yang tertangkap dalam TBS ini mencapai 1000 an ekor  tikus dalam satu musim tanam. TBS sangat efektif diterapkan pada daerah endemik tikus dengan tingkat populasi yang tinggi.

Ada beberapa cara melaksanakan metode TBS agar efektif. Cara-cara tersebut dapat dipilih sesuai situasi dan kondisi setempat. Beberapa cara melakukan metode TBS tersebut adalah :

TBS tanam awal (early trap crop)

Tanaman perangkap TBS ditanam 3 minggu lebih awal dibandingkan pertanaman padi disekelilingnya. Hal ini dimaksudkan untuk menarik tikus datang dari lingkungan sekitarnya hingga radius 200 m. Petak tanaman perangkap berukuran kurang lebih 25 x 25 m atau lebih, sehingga berfungsi optimal untuk menarik tikus supaya datang.

Pada saat tanaman perangkap ditanam, lahan disekitarnya masih dalam periode olah tanah, sehingga petak TBS akan lebih dahulu memasuki stadia primordia. Perbedaan umur tanaman antara TBS dan sekitarnya tersebut akan membuat tikus tertarik mendatangi petak TBS.

Baca Juga :   Gunakan Drone Untuk Pemupukan, PPL Masamba Bikin Petani Penasaran

Disekeliling petak perangkap dibuat parit dan diberi pagar plastik. Lebar parit ± 50 cm dan harus selalu terisi air agar tikus tidak melubangi pagar. Parit tidak boleh ditanami padi dan harus bebas gulma supaya tidak digunakan untuk memanjat tikus melompati pagar plastik. Pagar plastik dapat berupa plastik bening (0,8 mm), plastik mulsa, atau plastik terpal (semua warna dapat digunakan) yang dipasang dengan tinggi 60 – 70 cm mengelilingi tanaman perangkap. Pemasangan pagar plastik ditegakkan dengan ajir bambu pada setiap jarak 1m. Ujung bagian bawah terendam air dalam parit.

Perangkap berupa bubu, yang terbuat dari  ram kawat kotak berukuran 40 x 20 x 20 cm, dilengkapi dengan corong masuk tikus (depan) dan pintu (belakang) untuk mengeluarkan tikus. Bubu perangkap dipasang pada setiap sisi pagar dengan jarak masing-masing perangkap 20 m, dan corong masuk menghadap keluar.

TBS Pesermaian

Persemaian dapat difungsikan sebagai TBS dengan cara pemasangan pagar plastik dan bubu perangkap. Bekas persemaian tersebut selanjutnya ditanami padi varietas umur genjah (contohnya varietas Situbagendit, Ciherang, dll) agar memasuki stadia generatif terlebih dahulu. Kombinasi cara tersebut terbukti efektif setara dengan TBS standar.

Petak Tanaman Perangkap Ditanam Lebih Akhir

Komponen TBS ini sama seperti TBS Standar, tetapi tanaman perangkap ditanam 3 minggu lebih lambat dibandingkan pertanaman petani di sekitarnya. Ketika tanaman padi petani sudah dipanen, petak tanaman perangkap TBS akan menjadi “tanaman penarik” tikus dari segala arah. Jika banyak tikus tertangkap diakhir pertanaman, maka pada musim tanam berikutnya populasi awal tikus sawah akan rendah.

TBS perlindungan penuh (full protection)

TBS perlindungan penuh terdiri atas pagar plastik dan bubu perangkap, tanpa memerlukan tanaman perangkap yang ditanam lebih awal atau lebih akhir. Pemagaran tanaman padi dilakukan dalam skala hamparan & dipasang bubu perangkap setiap 20m

Cara membuat TBS

  • Buat parit selebar ±50cm mengelilingi calon petak TBS
  • Pancangkan ajir bambu tiap 1m di parit, pasang tali antar ajir, pasang plastik pada tali dengan lidi.
  • Apabila menggunakan terpal, pasang ajir bambu pada terpal, bentangkan, tarik kuat-kuat, dan pancangkan ajir di parit dekat pematang dalam
  • Pasang bubu perangkap, pastikan menempel pagar plastik sehingga tikus tidak bisa menerobos.
  • Buat gundukan tanah di depan corong bubu agar tikus mudah menemukan pintu masuk

LTBS (Linear Trap Barrier System)

LTBS berupa bentangan pagar plastik setinggi 60-70cm sepanjang minimal 100m. Bubu perangkap LTBS dipasang setiap 20m berselang-seling agar mampu menangkap tikus dari arah habitat & sawah. LTBS dirancang berdasarkan pergerakan harian tikus sawah yang selalu berpola pergi-pulang antara lokasi bersarang & tempat makan.

Pasang LTBS diantara sawah dan habitat tikus, seperti tepi kampung, tanggul irigasi, & tanggul jalan. LTBS juga efektif mengendalikan migrasi tikus, dengan membentangkan LTBS dan memasang bubu perangkap memotong jalur migrasi.

LTBS merupakan bentangan pagar plastik / terpal setinggi 50 – 60 cm degan panjang 60 m dilengkapi dengan bubu untuk menangkap tikus pada jarak setiap 20 m tanpa harus menggunakan umpan ataupun racun. Pemasangan plastik / terpal pagar LTBS dibentangkan menggunakan ajir setiap 1 m (tinggi ajir 1 m) antara perbatasan sawah dengan habitat tikus sawah sehingga memotong jalur migrasi tikus sawah dan mengarahkan tikus sawah tersebut masuk kedalam bubu perangkap.

Pemeriksaan LTBS dilakukan setiap hari, jika terdapat lubang pada LTBS harus segera ditambal dan tikus yang terperangkap dalam bubu harus segera “dimusnahkan” dan bubu perangkap dipasang kembali serta hasil tangkapan tikus didata.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan TBS maupun LTBS adalah :

  • Periksa bubu perangkap setiap pagi, bunuh tikus tangkapan dengan merendam dalam air bersama bubu perangkap.
  • Periksa pagar plastik, apabila berlubang segera lakukan perbaikan/penambalan.
  • Pastikan parit terisi air sehingga tikus tidak bisa menerobos masuk.
  • Bersihkan gulma di parit TBS karena tikus mampu memanjatnya untuk jalan masuk ke dalam petak tanaman perangkap TBS.

Sumber:

  1. Pest Management: How to control rice field rats, Rice Knowledge Banks, IRRI
  2. Pengendalian Hama Tikus di Lahan Sawah, 2018.
  3. Sistem Bubu TBS dan LTBS, Dr. Aguis Wahyana, BBPa

Penulis : Djoko W dan Warsana SP, MSi , (Penyuluh Pertanian Madya di BPSIP Jawa Tengah, Ketua

Perhiptani DPW Jawa Tengah.)

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini