15 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Susupan Gunung, Resahkan Petani Lahan Rawa Lebak Kalimantan Selatan

Sinar Tani, Banjarbaru — Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) selama ini cenderung identik dengan hama dan penyakit saja. Seperti pada tanaman pangan antara lain serangan penyakit tungro, penyakit blas, penyakit Hawar Daun Bakteri,  Hama Tikus, Hama Ulat grayak, penyakit Layu Fusarium,  hama bangkui (kera besar). Begitu juga pada tanaman hortikultura, seperti penyakit keriting, penyakit antraknose, kutu kebul dan lain-lain.

Organisme pengganggu tanaman itu sendiri terdiri dari berbagai jenis seperti hama, penyakit dan gulma. Mereka menyerang tanaman pangan, hortikultura maupun tanaman perkebunan lainnya dengan intensitas serangan beragam, mulai dari sedang, berat, bahkan sampai dapat menggagalkan panen.

Salah satunya adalah Gulma, tumbuhan yang tidak diinginkan kehadirannya, sehingga tumbuhan ini diusahakan tidak ada di pertanaman. Keberadaan gulma mengakibatkan ketersediaan makanan/unsur hara bagi tanaman yang sedang diusahakan terganggu dalam artian diserap/diambil gulma tersebut untuk pertumbuhannya yang mengakibatkan asupan tanaman utama berkurang.

Disisi lain, gulma juga dapat menjadi habitat hama-hama tertentu bahkan manjadi inang bagi penyakit yang mengakibatkan kerugian bagi petani. Akan tetapi keberadaan gulma tersebut jarang/hampir tidak pernah menjadi masalah utama petani khususnya di wilayah Kalimantan Selatan.  Pengendalian terhadap gulma cendrung bisa di atasi petani baik secara fisik-mekanik maupun menggunakan herbisida.

Pengendalian gulma selama ini juga dilakukan petani berbarengan dengan pelaksanaan budidaya tanaman tersebut berlangsung, seperti antara lain pada saat pemupukan atau pembumbuman dengan penyiangan/pembuangan gulma dengan alat pertanian biasa.

Keberadaan gulma sangat jarang ditemukan atau hampir bisa dikatakan belum sampai meresahkan apalagi merugikan petani, bahkan gulmapun ada yang berkhasiat sebagai tanaman obat dan dapat juga menjadi sayuran bagi mahluk hidup lain.

Meresahkan Petani Rawa Lebak

Tanaman yang tidak dikehendaki tumbuhnya ini, sekarang membuktikan diri bahwa diapun mampu membuat resah petani khususnya pada lahan rawa lebak. Karena pertumbuhannya yang cepat dan mampu tumbuh dengan subur bahkan tinggi bagaikan gunung dengan nama gulma “Susupan Gunung”.

Diungkapkan H. Normansyah, petani yang berdomisili di jalan Brigjen H. Hasan Basri-Tapus Dalam Kecamatan Sungai Pandan Kabupaten Hulu Sungai Utara Prov. Kalsel bahwa lahan miliknya dipenuhi gulma susupan gunung dengan pertumbuhan sangat cepat, dan untuk mengendalikannya memerlukan dana yang besar.

“Kondisi lahan yang dipenuhi gulma susupan gunung pernah terjadi di lahan rawa Kabupaten Tapin, pemecahannya saat itu adalah petani harus rajin membersihkan dan lahan tersebut harus ditanami terus menerus,” Ungkap Herry Purnomo, PNS Dinas Pertanian Kab. Tapin yang saat ini sudah purna tugas.

Dari dua pernyataan ini terkesan bahwa gulma tersebut perlu mendapat perhatian yang serius bagi petani agar bagaimana kehadirannya tidak akan menimbulkan masalah apalagi membuat resah, dan diharapkan akan ada juga manfaat yang berdampak positif pada pendapatan petani setempat.

Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) merupakan kabupaten dengan lahan rawa lebak terluas di wilayah provinsi Kalimantan Selatan, saat ini gulma Susupan Gunung telah menutupi hampir semua permukaan lahan rawa lebak petani tersebut dengan ketinggian hingga setinggi rumah yang terlihat di kiri kanan jalan utama sejauh mata memandang.

Keberadaannnya saat ini boleh dikatakan pada intensitas serangan berat. Oleh karena itu dibutuhkan perhatian serius bagi petani agar bersungguh-sungguh dalam mengusakahan kegiatan pertanian di lahan tersebut sehingga tidak sampai terkalahkan dengan pertumbuhan cepat dari susupan gunung pada kondisi iklim seperti sekarang. Disamping itu perlu juga diketahui manfaat lain dari gulma susupan gunung tersebut

Ketua Komisi II DPRD Kab. HSU, Fadillah mengatakan Pemerintah Daerah kabupaten HSU sudah berusaha untuk membantu mengendalikan gulma tersebut dengan berbagai cara namun dirasakan masih belum efisien.

Bahkan untuk mengendalikan gulma tersebut dilakukan Kelompok Diskusi Terfokus (KDT), Jumat (11/11) di Aula Dr. Suhaimi Sulaiman Balittra Banjarbaru, dengan melibatkan instansi terkait baik dari tingkat Provinsi dan Pusat dengan harapan akan ditemukan solusi untuk kemudahan petani dalam menjalankan usahatani yang mau tidak mau harus mereka lakukan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kelompok Diskusi Terfokus mendiskusikan gulma “Susupan Gunung”  dan mencoba menentukan langkah konkrit apa yang bisa dijadikan sebagai alternatif pemecahan. Instansi yang hadir dalam KDT adalah Dinas Pertanian Kab. HSU, Bappeda/Litbang Kab. HSU, Komisi II DPRD Kab. HSU, Dinas TPH Prov. Kalsel, Balittra BSIP Banjarbaru, ULM Banjarbaru dan BPTP BSIP Kalsel.

Dalam arahan sekaligus pembukaan KDT, Sekretaris Dinas TPH Provinsi Kalsel, Imam Subarkah, SP., MP.) menyampaikan bahwa pada prinsipnya Dinas TPH Prov. Kalsel beserta jajaran siap mendukung dalam menghadapi keberadaan gulma susupan yang ada di Kabupaten HSU.

“Kita harus menemukan akar masalah sebelum melakukan strategi apa yang akan ditempuh dalam menghadapi keberadaan gulma susupan ini agar apa yang dilakukan sesuai dengan yang diharapkan, bisa jadi akar masalahnya adalah sosial bukan teknis sehingga cara pendekatannya berbeda,” ungkap kepala Balittra Banjarbaru, Agus Hasbianto, SP., M.Si. P.hD, dalam pembingkaian KDT.

Sumbangan pemikiran berdasarkan pengetahuan dan pengalamanpun mengalir pada saat KDT berlangsung, baik dari segi teknis budidaya, teknis pengendalian, manfaat gulma tersebut hingga pola pendekatan Sentuh Hati Petani melalui Proses SL PHT dengan menggunakan kurikulum.

Hasil Diskusi KDT adalah tersususunnya tim kecil yang diketuai Kepala Dinas Pertanian Kab. HSU dengan tugas membuat grand design yang mencakup pohon masalah,  road map dan rencana teknis untuk langkah konkrit di lapangan.

Semoga Allah Yang Maha Kuasa selalu memberi kemudahan dalam lindungan dan kasih sayangNYA. Aamiiin ……………….Pertanian Indonesia …………… Maju … Mandiri …. Modern.

Reporter : Sri Hartati/PP. Madya BSIP-Kemtan  Kal. Selatan

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini