16 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Magang Padi Organik, Belajar Pertanian Organik di Poktan Jaya Magelang

Sinar Tani, Magelang — Pertanian organik yang dijalankan Poktan Jaya dusun Randucanan, desa Tanuboyo, kecamatan Bandongan, kabupaten Magelang, Jawa Tengah menginspirasi petani lainnya. Tidak terkecuali 30 muda dan penyuluh swadaya yang mengikuti magang yang difasilitasi Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, ingin merapkan pertanian organik di daerahnya.

Kelompok Tani “Jaya” sudah lama menerapkan sistem pertanian organik, dalam membudidayakan tanaman padi. Mereka menanam varitas Mentikwangi susu dan IR 64 dengan hasil rata-rata 5 ton GKP (Gabah Kering Panen).

Setelah diproses dan menghasilkan rata-rata 2,5 ton beras, Poktan Jaya memasarkannya dengan merek “MGH” dengan harga Rp 15.000/kg,-.

Walaupun belum memanfaatkan media sosial, melainkan hanya dengan sistem dari mulut ke mulut namun pelanggan beras organik dari Poktan Jaya datang dari berbagai deerah baik di dalam mapun luar pulau Jawa.

Diungkapkan Ketua Kelompok Tani Jaya, Fauzi, bertani secara organik sudah dilakukan Poktan Jaya sejak 2016 dengan menggunakan pupuk dan pestisida organik sepenuhnya.

Selain itu, Fauzi juga mengatakan untuk air irigasi yang masuk petakan sawah dilakukan penyaringan dengan menggunakan tanaman eceng gondok.

“Tanaman eceng gondok ini dicuci akarnya setiap seminggu sekali guna melarutkan bahan kimia yang terkandung dalam air irigasi yang terserap di perakaran,” tambahnya.

Diceritakan Fauzi, penerapan pertanian organik penuh selama 3 tahun berturut-turut mulai 2016-2019 memiliki dampak positif bagi lahan pertanian. salah satunya produktifitas 5 ton/ha masih dapat tercapai walau sejak awal 2019 hingga musim tanam saat ini para petani tidak memberikan pupuk di sawah mereka.

“Baru setelah pertanaman musim ini, lahan akan dipupuk kembali memakai pupuk organik padat, yang barangnya telah disiapkan dari produksi sendiri,” ujarnya.

Area padi organik yang di kelola Poktan Jaya saat ini seluas 20,5 hektar, dan ada lahan seluas 5 hektar dari kelompok tani lain yang bergabung untuk dikelola secara organik.

Bisa dibilang Poktan Jaya tidak pelit berbagi ilmu, tercatat sudah beberapa kali Poktan jaya menerima petani dari daerah lain untuk magang. Dan sudah tak terhitung tamu yang berkunjung untuk berbagi pengalaman maupun belajar Bertani organik.

Seperti kegiatan magang 4 hari yang diselenggarakan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Para peserta yang merupakan petani muda dan penyuluh swadaya dari beberapa Kabupaten di Jawa Tengah ini belajar bersama, melihat kegiatan dan mendengar secara langsung dari pelaku pertanian organik serta praktek langsung di lahan pertanian organik milik Poktan Jaya.

Baca Juga :   Pelatihan Pembuatan PGPR, Cara Maporina Jateng Ajak Petani Sehatkan Tanah

Dengan bimbingan praktisi serta petugas Dinas Pertanian Kabupaten Magelang.  Para peserta melakukan praktek membuat MOL, Pupuk Organik Cair (POC), Fermentasi pupuk organik padat serta membuat pestisida hayati dari berbagai bahan baku.

Gunardi, seorang peserta dari kabupaten Pati mengaku bahwa sebenarnya ia telah lama mendengar akan bertani secara organik. Ia juga sudah mengetahui adanya POC dan pestisida hayati.

Namun hal tersebut belum dijalankan Gunadi karena karena sarana produksi organik tersebut harus dibeli dengan harga yang lumayan mahal.

“Ternyata segala macam pupuk, pestisida organik termasuk MOL dapat dibuat sendiri dengan mudah, menggunakan peralatan sederhana dan menggunakan dari bahan-bahan yang ada disekitar kita, yang bahkan sering dianggap limbah” katanya

Respon positif juga terhadap kegiatan magang padi organik juga diberikan Azizah. Putri seorang petani, yang baru saja lulus dari Fakultas Pertanian, jurusan Agroteknologi, Universitas Tidar, Magelang ini merasa kegiatan magang menambah ilmu terapan dan wawasannya tentang pertanian organik.

Azizah mengaku mendapat pengalaman batin yang tak terlupakan ketika teori yang dipelajari di bangku kuliah menjadi kenyataan ketika dipraktekkan secara fisik bersama para pelaku utama pertanian.

Kedua peserta tersebut, juga peserta yang lain, bertekad untuk segera mempraktekkan pertanian organik di tempat tinggal masing-masing.

Sementara itu, Kabid Penyuluhan, Pengolahan Hasil dan Pemasaran Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, Dr. Dani Ramdani Harun, SP, MSi yang membuka kegiatan magang mengatakan kepada para peserta, bahwa pada saat ini merupakan momentum yang tepat untuk bertani secara organik.

Dani yang juga Ketua Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia di Maporina (Masyarakat Petani Dan Pertanian Organik Indonesia) Provinsi Jawa Tengah ini menyampaikan kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi produk pertanian organik makin meningkat, mereka makin sadar akan manfaat produk organik bagi Kesehatan jangka panjang manusia.

“Pasar produk pertanian organik akan makin terbuka lebar, tinggal pinter-pinternya petani organik untuk membaca peluang dan menjaga kepercayaan konsumen” pungkasnya.

Besarnya minat para peserta magang terhadap materi pertanian organik ini, menurut para peserta, tidak lepas dari pengaruh berkurangnya alokasi pupuk pabrikan bersubsidi. Hanya 9 komoditas yang mendapat alokasi.

Ditambah harga pestisida dipasaran juga tidak murah. Mereka sudah menyaksikan di Kelompok Tani “Jaya” bahwa tanpa pupuk dan pestisida pabrikan justru dapat menghasilkan produksi yang berkualitas dan menguntungkan.

Reporter : Djoko W

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini