5 Maret 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Proyek IPDMIP, Bangun Kemitraan Agribisnis Terintegrasi

Proyek IPDMIP, Bangun Kemitraan Agribisnis Terintegrasi

Sinar TaniCiamis—Sebagai salah satu upaya menjain ketersediaan pangan dan peningkatan pendapatan petani, Kementerian Pertanian melalui proyek Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP) membangun model kemitraan agribisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Salah satu model yang diintroduksikan adalah pertanian terpadu sensitif gizi (Integrated Farming System Sensitive Nutrition). Kegiatannya melalui, kemitraan berbasis closed loop melalui metode Demonstrasi farming (Demfarm) Padi Hibrida.

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Bustanul Arifin Caya mengatakan, pada Tahun 2022, Demfarm Padi Hibrida dilaksanakan di tiga provinsi lokasi IPDMIP yaitu Kabupaten Banyuasin (Sumatera Selatan), Kabupaten Bone (Sulawesi Selatan), dan Kabupaten Ciamis (Jawa Barat), tepatnya di Desa Baregbeg, Kecamatan Lakbok.

“Program ini menjadi strategi kami dalam menghadapi kondisi global yakni meningkatkan kapasitas produksi. Salah satunya transformasi teknologi bioscience dan bioteknologi. Untuk itu kita kenalkan padi hibrida ke petani di Ciamis,” tutur Bustanul saat Panen di lokasi Demfarm Padi Hibrida Varietas HIPA 21 di Ciamis, Jumat (30/9).

Pelaksanaan demfarm di Kabupaten Ciamis, dilaksanakan sejak Mei 2022 oleh Kelompok Tani Mekarjaya III di Desa Baregbeg, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dengan luasan lahan 47 ha. Pemilihan lokasi ini salah satunya karena tersedia lembaga pendukung. Diantaranya, unit penyedia saprodi, unit usaha pelayanan jasa alsintan (upja), unit layanan keuangan atau perbankan, unit penyedia jasa pengolahan, dan unit pemasaran.

Ada beberapa tujuan demfarm sistem pertanian terpadu berbasis closed loop ini. Pertama, melaksanakan demonstrasi penerapan teknologi yang direkomendasikan di lahan pertanian dengan sistem pertanian terpadu sensitif gizi. Kedua, mempromosikan kegiatan usahatani yang dikelola oleh kelompok tani sebagai kegiatan usaha bersama.

Ketiga, mengintegrasikan seluruh kegiatan yang dikembangkan dalam Proyek Pertanian Pengembangan dan Pengelolaan Pertanian Terpadu secara Partisipatif atau IPDMIP. Terdiri dari tiga sub komponen, yaitu peningkatan produktivitas dan layanan, perbaikan akses pasar dengan pendekatan rantai nilai, dan peningkatan akses kepada layanan keuangan perdesaan.

Baca Juga :   Efek IPDMIP Kementan, Gabah Petani Banyuasin Tembus 8 Ton/Hektar

Keempat, mempromosikan kegiatan usahatani yang didukung kerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan melalui penerapan pendekatan closed loop.

Kawal Petani

Karena itu menurut Bustanul, setiap tahapan kegiatan Demfarm harus dikawal dengan baik, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. “Kita harapkan dengan pengawal tujuan dan output berhasil sesuai target yang ditetapkan,” katanya.

Selain itu Bustanul berharap, dengan kegiatan ini dapat direplikasikan di wilayah lain. Apalagi dalam demfarm tersebut memberikan kontribusi pada peningkatan produktivitas dan pendapatan petani. “PR (pekerjaan rumah,red) kita memang bagaimana memperkuat pasar padi hibrida dibandingkan padi inbrida. Jadi PR kita bukan hanya perkuat produksi, tapi juga akses pasar,” ujarnya.

Bustanul mengatakan, nantinya hasil femfarm yang berasal dari penjualan gabah/beras dan komoditas pertanian dapat digunakan mengganti biaya kontribusi petani. Antara lain, dalam bentuk tenaga kerja dan sewa lahan, serta bagian keuntungan petani.

Selain itu lanjutnya, juga digunakan kelompoktani untuk membiayai kegiatan usahatani pada musim berikutnya. “Saya harapkan nantinya terjadi peningkatan luas tanam dari semula 20 ha menjadi 25 ha atau lebih.  Hal ini untuk memastikan agar manfaat kegiatan Demfarm dapat berkelanjutan dan terus berkembang,” tegasnya.

Bustanul juga berharap hasil panen bisa mencapai produktivitas yang tinggi. Sebelumnya Demfarm Padi Hibrida yang dilaksanakan di Kabupaten Bone menghasilkan ubinannya mencapai 13,28 ton/ha, dan gabah hasil panennya sudah disepakati akan dibeli offtaker dengan harga Rp 4.850/kg.

Kami berharap hal yang sama juga dapat terwujud di Cimais, walaupun kami memahami bahwa dalam pelaksanaan demfarm mengalami gangguan, seperti serangan WBC dan sempat mengalami kekeringan. Namun kalau melihat kondisi hamparan yang akan dipanen hari ini, saya berkeyakinan hasilnya bisa mencapai lebih dari 8,5 ton/ha,” tuturnya.

Dengan demfarm diharapkan juga memberikan daya ungkit produksi padi di Jawa Barat. Apalagi Ciamis menjadi salah satu lumbung pangan nasional. 

Reporter : Julian

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini