14 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Hacaju’s, Pioner Jus Jambu Mete

Sinar Tani, Jakarta — Siapa sangka, jambu mete yang selama ini dikenal karena biji atau masyarakat biasa menyebutnya kacang mete bisa diolah menjadi sesuatu yang berbeda. Di tangan Dian Ananda berserta istri, buah jambu mete yang selama ini biasa dikonsumsi segar dibuat menjadi minuman dengan cira rasa khas. Seperti apa Jus Jambu Mete Hacaju’s yang kaya vitamin C ini?

Dibanding buahnya, kacang mete yang berasa dari biji jambu mete memang lebih tenar di Masyarakat. Bukan hanya menjadi camilan yang biasa hadir saat perayaan besar keagamaan seperti lebaran, kacang mete yang miliki citarasa khas ini juga punya pasar yang besar di luar negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),  ekspor kacang mete Indonesia ke luar negeri pada tahun 2021 mencapai 62.472.785,17 kg dengan nilai ekspor sekitar US$118.883.280,56.

Melihat melimpahnya buah jambu mete yang tidak termanfaatkan karena hanya di ambil bijinya, Dian Ananda memiliki ide untuk membuat minuman berbahan buah jambu mete.

“Saya coba cari di internet nihil, tidak ada olahan  dari jambu mete. Karena itu saya coba untuk membuat jus dan menghabiskan 100 – 150 kg buah semu jambu mete sampai akhirnya menemukan rasa yang pas seperti sekarang,” ujarnya.

Pria yang awalnya menjual kacang mete ini mengatakan bahwa memulai untuk memproduksi jus jambu mete sejak akhir 2018.  Inovasi terus ia lakukan sehingga produk jus jambu mete dengan nama Hacaju’s ini bisa diterima pasar.

“Kita sudah memiliki berbagai perizinan untuk produk Hacaju’s mulai dari label halal, dinkes, BPOM dan lain sebagainya,” ungkap Dian.

Bahkan setelah di lakukan tes kandungan gizinya, jambu mete memiliki kandungan vitamin C yang tinggi melebihi kandungan vitamin C pada buah jeruk.

Untuk memuhi kebutuhan bahan baku, Dian mengaku mendatangkan buah jambu mete dari beberapa di Jawa Tengah.

”Jamu mete ini buah musiman dan tidak bisa berbuah di musim hujan, dalam 1 tahun bisa 2 kali berbuah itu juga kalau musim hujannya tidak Panjang. Jadi sekalinya musim buah kita ambil banyak dari petani,”: ungkapnya.

Karena jus jambu mete ini masih jarang dan produk Hacaju’s di klaim menjadi yang pertama di Indonesia, untuk memasarkan produk ini tidak mudah. Banyak rekan maupun kerabat yang ditawarkan untuk mencoba rasa Hacaju’s yang mengganggp rasanya aneh dan taidak enak.

“Tapi ketika mereka mencoba, anggapan mereka tentang rasa jus mete berubah jadi menyukai jus yang kami buat,” ujarnya.

Baca Juga :   Libatkan Warga Sekitar, Rizki Kembangkan Usaha Keripik Buah

Selain Jus jambu mete, UMKM yang berasal dari Depok, Jawa Barat ini juga membuat berbagai produk olahan lain dari jambu mete. Diantaranya serundeng jambu mete dengan 2 varian rasa tuna dan teris, hingga brownies dan kering yang terbuat dari tepung kacang mete.

Harga yang ditawarkan bervariasi, untuk Hacaju’s dijual dengan harga Rp 15 ribu /botol, hingga serundeng kacang mete Rp 18 ribu/pach.

Karena belum ada produk sejenis dipasaran, membuat olahan jambu mete mendapatkan respon yang baik dari para konsumen. Dian mengaku penjual Hacaju’s terus meningkat dengan penjualan 100 – 150 botol per bulan.

“Kita sudah 2 kali ikut pameran Bunex dan penjualannya sangat bagus. Pada Bunex pertama laku 400 botol selama 3 hari penyelenggaraan,” jelasnya.

Selain dijual langsung, Dian juga menawarkan system Kerjasama dalam bentuk Distributor Point dan reseller. Untuk bisa memasarkan Hacaju’s ternyata syaratnya tidak sulit, hanya melakukan minimal pembelian 100 botol untuk distributor point dengan harga sekitar Rp 11 ribu/bptol, dan 30 botol untuk reseller dengan harga sekitar Rp 13 ribu/botol.

“Distibutor point bisa mencari reseller sendiri dan saat ini kita sudah punya 1 di Bekasi, sedangkan untuk reseller sudah banyak,” ungkap Dian.

Diluar perjalanan usaha yang semakin baik, Dian mengatakan masih ada kendala yang dirasakannya. Terutama dalam hal daya tahan produk jus jambu mete yang hanya bisa bertahan 5 hari didalam kulkas.

“Fermentasinya cukup cepat jadi kita masih membutuhkan teknologi untuk memperlambat fermentasi, dan apabila itu sudah bisa dilakukan saya bisa memproduksi masal,” tambahnya.

Kreatifitas Dian dalam membuat perbagai olahan jambu mete tidak berhenti disitu. Dia terus berinovasi, untuk membuat produk lain seperti sabun dari bahan jambu mete dan juga berencana untuk membuat es krim.

“Sabun jambu mete bahan bakunya dari jus, saat ini lagi proses perizinan. Khasiatnya luar biasa selain mengandung vitamin C yang baik untuk kulit kita juga tambahkan vitamin A, vitamin D dan whitening,” jelasnya.

Dian berharap dengan hadirnya Hacaju’s dapat menjadi solusi untuk bisa memanfaatkan buah semu jambu mete yang selama ini banyak terbuang karena hanya diambil bijinya. Selain itu dengan kadungan vitamin C yang tinggi juga produk ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan vitamin C di Masyarakat.

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini