25 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Kopi, Dongkrak Ekonomi Petani Dusun Sirap

Sinar Tani, Semarang — Siapa sangka, kopi yang awalnya tidak dilirik para penduduk di dusun Sirap kini malah dapat merubak kehidupan masyarakat disana. Dengan beralih dari tanama palawija ke kopi, membuat ekonomi masyarakat meningkat sekaligus tanah longsor yang kerap menghatui petani kini tidak terjadi.

Dusun Sirap adalah sebuah dusun yang berada dipegunungan Kelir di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Seperti dusun-dusun lain disana, para petani menggan-tungkan hidupnya dari menggarap pertanian di lahan kering.

Ketika itu, secara turun temurun, mereka menanami ladangnya dengan berbagai tanaman palawija. Jagung, ubi kayu, ubi jalar menjadi tanaman utama. Masyarakat banyak yang berada dibawah garis kemiskinan.

Yang lebih menyedihkan adalah masyarakat selalu dihantui kekawatiran, lebih-lebih dimusim hujan, akan terjadi tanah longsor atau banjir bandang di dusun mereka. Karena bencana lam tersebut memang sering terjadi. Maklum dusun ini berada di ketinggian 800 m – 1000 m dpl, memiliki kontur tanah dengan kemiringan  30º – 60º.

Sampai suatu saat para petani dusun Sirap yang tergabung dalam Kelompok Tani Rahayu IV, memutuskan untuk mencoba menanam kopi diladang mereka.

Ketua kelompok tani Rahayu IV, Ngadiyanto menceritakan tidak mudah waktu itu untuk mengajak petani menanam kopi. Mengingat tanaman kopi berumur panjang, 3 – 4 tahun baru memetik hasil, sedangkan kebutuhan petani kan setiap hari makan.

“ Hanya beberapa petani yang mau mencoba, secara tumpangsari. Sambil menunggu kopi berbuah masih dapat menanam jagung dan sebagainya”. sambungnya.

Karena ketekunan petani  dan pendampingan dari Penyuluh Pertanian, tanaman kopi pionir tersebut menunjukkan pertumbuhan yang bagus. Hal tersebut menarik perhatian petani lain untuk mengikuti.

Pada akhirnya, kelompok tani Rahayu IV yang memiliki lahan sekitar 60 ha ini,  telah ditanamai kopi sekitar  35 ha. Penanaman kopi juga tidak lagi secara tumpangsari dengan palawija, tetapi monokultur kopi secara intensif. Populasi tanaman kopi setiap ha kurang lebih 1.600 batang.

Sesuai anjuran teknis, mereka menanam  varitas yang cocok ditanam di daerah dataran rendah dan sedang yaitu varitas Kopi Robusta. Namun karena permintaan pasar, baru-baru  ini Ngadiyanto mencoba menanam varitas Arabika, terutama pada lahan atas yang mempunyai ketinggian 1000 m dpl.

Kelompok tani  yang  terbentuk sejak tahun 1998 ini tergolong aktif dan produktif. Mungkin karena rerata usia anggota berada disekitar 45 tahun. Dari 30 orang petani yang bergabung, petani yang termuda usia 40 tahun, yang tertua baru 60 tahun.

Berkat kesungguhan dan ketekunan dalam berusaha tani kopi, kelompok tani Rahayu IV telah menarik perhatian banyak pihak yang datang untuk membantu.

Mereka yang membantu terdiri dari pemerintah daerah kabupaten, provinsi dan pusat, BUMN seperti Telkom juga dari  Swasta, misalnya salah satu Bank Swasta besar yang berlogo kayak daun semanggi.

Dari bantuan-bantuan tersebut kelompok tani Rahayu IV dapat mengembangkan usaha dari hulu sampai ke hilir. Cabang usaha yang dijalankan pada saat ini adalah :

Pelayanan penyediaan sarana produksi, brupa bibit, pupuk, pestisida, alat pertanian dan lain-lain. Opkup hasil kopi anggota. Kelopok tani membeli hasil kopi petani dengan harga yang pantas, kemudian mencari pembeli kopi tersebut. Jaringan pemasaran kopi mereka cukup luas. Diantaranya meliputi kota Salatiga, Semarang, Yogyakarta.

Selain itu ada jasa pengolahan/ prosesimg buah kopi. Meliputi pengupas kopi, penggiling kopi. Mereka telah mempunyai alat yang cukup lengkap. Diantaranya bantuan dari pemerintah. Jasa angkut produksi atau apa saja. Mereka memiliki sebuah mobil pick up yang berasal dari bantuan Gubernur Jawa Tengah.

Ada pula jasa pengolahan kopi. Mereka membranded kopi olahan nya dengan merek Kopi Dusun Sirap. Aneka jenis dan kualitas kopi mampu mereka buat.

Tidak ketinggalan jasa pemarasaran langsung dengan membuka Warung kopi yang cukup exclusif, dengan nama “Wande Kopi”.

Menurut Ngadiyanto, bangunan warung yang cukup besar dan eksotik tersebut berasal dari bantuan CSR Bank yang besar tadi.

Perubahan usaha tani petani dusun Sirap, dari palawija ke tanaman kopi berpengaruh positif terhadap kesejahteraan mereka. Hal ini dikemukakan Kepala dusun Sirap, Desa Kelurahan, Rafi’i.

“Sekarang tanah lonsor dan banjir bandang boleh dikata tidak pernah terjadi lagi disini” katanya. Mata air sebagai sumber air bersih juga makin besar airnya, sehingga bisa dialirkan kerumah penduduk.” Ungkapnya.

Untuk kebutuhan air bersih dusun yang dihuni 80 KK ini, warga hanya membayar Rp 4.000,- untuk biaya langganan, dan Rp 1.000,- untuk setiap m³ pemakaian.

Pendidikan anak-anak juga meningkat pesat. “Kalau jaman saya dulu sekolah paling tinggi adalah SLTA, sekarang sudah banyak lulusan sarjana dari dusun Sirap”. ujarnya.

Keadaan perumahan penduduk juga jauh barubah. Dulu yang tergolong rumah bagus disini adalah rumah kayu. Lainnya rumah bambu atau gedek. Sekarang semua rumah sudah berdinding tembok dan berlantai setidaknya pelur. Yang sudah berlantai keramik,  banyak.

Menurut Rafi’i , secara mudah dapat dibandingkan. Hasil jagung per ha disini tidak lebih dari 5 kuintal. Per kg dihargai Rp 10.000,- Jadi hanya ada pendapatan Rp 5.000.000,- per Ha.

Dibandingkan dengan tanaman kopi yang panennya jatuh pada bulan Agustus sampai September. Para petani disini memetik buah kopi sampai 3 kali. Karena hanya dilih yang sudah merah saja.

Buah kopi merah,  atau sering disebut Ceri, inilah yang lalu diproses secara cermat menjadi kopi wose. Setiap ha dapat menghasilkan kopi wose rata-rata sebanyak 1,6 ton wose kering, harga per kg nya mencapai Rp 60.000,- “ Hasilnya perlipat ganda” pungkas Rofi’i.

Reporter : Djoko w

 

 

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini