25 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Manik, Olah Lidah Buaya Jadi Makanan Kaya Nutrisi

Manik, Produsen Olahan LIdah Buaya | Sumber Foto:Soleman

Sinar Tani, Malang — Membuat olahan kuliner dari lidah buaya tidak mudah, diperlukan trik khusus dan pengolahan yang tepat agar rasa yang dihasilkan pas. Seperti yang dilakukan Manik, pengusaha olahan lidah buaya dari Malang yang terus mencoba mengolah lidah buaya hingga menemukan komposisi yang pas pada awal usaha.

Manik menceritakan awal terjun ke usaha olahan lidah buaya dimulai sejak tahun 1996. Manik yang merupakan Sukwan di Puskesmas sebagai tenaga honorer mumutuskan untuk berhenti karena tidak kunjung di angkat walau sudah 10 tahun mengabdi.

“Karena biasa kerja terus menganggur rasanya tidak enak juga, setelah tidak bekerja akhirnya mencoba-coba untuk mengolah lidah buaya. Kebetulan ibu saya mempunyai 5 tumbuhan lidaj buaya dan kerap mengolahnya menjadi kolak sebagai obat hipertensi, dari sana saya mendapat ide unguk membuat olahan lidah buaya,” kenangnya.

Setelah mencoba beberapa kali akhirnya Manik berhasil membuat lidah buaya instan yang pas sesuai dengan keinginan.

Dari sana Manik mulai mengembangkannya menjadi sebuah usaha, dan terus berkreasi sehingga produk oalah yang dihasilkan menjadi beragam. Selain lidah buaya instan ada produk nata lidah buaya, sari lidah buaya, permen lidah buaya, selai dan sirup lidah buaya.

”Karena kendala modal sekarang tidak membuat selai lidah buaya, terakhir ini saya membuat permen dan stik lidah buaya,” tambahnya.

Manik berbagai cara membuat produk olahan lidah buaya, dimulai dengan menyiapkan bahan baku lidah buaya segar yang sebelumnya sudah dibersihkan. Setelah itu diambil dagingnya yang berbentuk seperti jelly.

“Lalu diblender, kecuali unutk membuat permen ditambahkan bahan agar-agar dan gula. Kalau menggunakan gula lokal tidak bisa menempel dan tidak bisa kering, sedangkan kalau gula dari luar semakin lama semakin kering,”tambahnya.

Budidaya Lidah Buaya

Awalnya Manik menaman lidah buaya dipekarangan sebagai bahan baku berbagai produk olahan lidah buaya yang dibuat. Jenis lidah buaya yang ditanam memiliki ciri pelepah yang lebar dan panjang sekitar 30-40 cm dan terdapat lapisan seperti lilin yang membungkus pelepahnya.

Baca Juga :   Inovasi, Cara Vini Kembangkan Bisnis Kentang

“Karena mengetahui saya memiliki produk olahan lidah buaya, maka Dinas Pertanian merespon. Atas saran dari Dinas, saya membuat kelompok tani dan mendapatkan bantuan bibit,” ungkapnya.

Manik menambahkan kelompok tani yang dibuat beranggotakan ibu-ibu PKK di Kelurahan, dan karena lahan terbatas maka lidah buaya ditanam didalam polybag.

Namun karena pandemi yang membuat produksi terhenti menjadikan kerjasama dengan kelompok tani dalam memasok bahan baku juga terhenti. Dan Manik hanya memanfaatkan bahan baku lidah buaya dari pekerangannya sendiri.

Menurut Mamik, budidaya tanaman lidah buaya tidaklah sulit, yang perlu dilakukan ialah dengan menanam anakan lidah buaya dengan jarak tanam 30 cm. Dengan pemberian pupuk kandang dari kotoran kambing yang cukup membuat lidah buaya sudah bisa dipanen pada umur 6 bulan.

“Umumnya penyakit pada tanaman lidah buaya berupa busuk lunak dan busuk pelepah daun. Penyinaran matahari juga sangat mempengaruhi pertumbuhan lidah buaya, penyinaran yang tinggi akan membuat tanaman lidah buaya tumbuh dengan baik.” Ujarmya.

Manik mengatakan dalam budidaya lidah buaya yang perlu menjadi perhatian adalah benih yang unggul, sehat dan tidak cacat. Persiapan lahan dengan membuat bedengan menyesuaikan luas lahan, dan membuat saluran drainase agar lahan tidak tergenang.

Mamik menjual produk olahan lidah buaya dengan harga bervariasi, seperti lidah buaya instan kemasan 500 gram seharga Rp 30 ribu, minuman nata lidah buaya isi 24 cup dengan harga Rp 30 ribu. Sedangkan untuk stik dan permen masing-masing dijual dengan harga Rp 15 ribu.

Reporter : Soleman

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini