14 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Menjamur, UMKM Baglog di Dusun Sodong

Sinar Tani, Semarang — Melihat kebutuhan baglog sebagai media budidaya jamur yang sangat tinggi, beberapa warga Dusun Sodong, Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang mencoba memproduksi baglog jamur. Bukan hanya untuk keperluan sendiri, bahkan diantara mereka ada yang sudah menjualnya ke berbagai kota. Seperti apa usaha UMKM Baglog di dusun Sodong?

Bagian paling repot, ribet dan rumit dalam berbudidaya  Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) adalah menyiapkan baglog sebagai substrat tempat tumbuh jamur. Karena harus menyiapkan bahan-bahan seperti  serbuk kayu,  sekam atau dedak, kalsium karbonat juga inokulan.

Belum lagi alat-alat untuk fermentasi dan oven sterilisasi yang wajib ada pada pembuatan baglog. Hal ini semakin membuat para pembudidaya jamur banyak yang memilih untuk menggunakan baglog siap pakai.

Tidak terkecuali di dusun Sodong, Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang yang dikenal sebagai sentra budidaya jamur tiram di Jawa Tengah. Dengan menggunakan baglog siap pakai membuat budidaya jamur tiram disana menjadi lebih mudah dan cepat.

Masuknya budidaya jamur ke dusun Sodong dimulai pada tahun 2024 yang diperkenalkan oleh relawan social dari gereja setempat. Warga dusun Sodong yang awalnya bertanam jagung, ubi-ubian dan sayur mayur ini tertarik budidaya jamur karena jamur dapat tumbuh subur dan memberikan penghasilan menjanjikan bagi para warga.

Dalam waktu singkat, hamper sebagain besar petani di Dusun Sodong memiliki kumbung jamur sebagai tempat budidaya. Tercatat sekitar 80% dari total 141 kk di Dusun Sodong aktif berbudidaya jamur.

Diungkapkan Widodo, salah seorang pendahulu budidaya Jamur di dusun Sodong  bahwa pada awalnya para petani hanya membudidayakan jamur tiram dan jamur kuping. Sedang baglog, atas petunjuk pendamping kegiatan, dibeli dari Kaliurang, Yogyakarta.

Namun dengan semakin banyaknya permintaan baglog untuk memenuhi kebutuhan masyarakat membuat beberapa warga berinisiatif untuk mencoba membuat baglog sendiri.

Pada saat ini tak kurang dari 40 petani yang mempunyai oven sendiri yang digunakan untuk sterilisasi baglog. Sebagian besardari mereka memproduksi baglog hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Yang dapat berkembang, sebagai UMKM produsen baglog secara komersial hanya 7 orang saja.

Astabikri yang merupakan generasi kedua UMKM Baglog “ Munjul Laras” mengatakan  usaha produksi baglog jamur didesa Sodong gampang-gampang susah.

Baca Juga :   Kopi, Dongkrak Ekonomi Petani Dusun Sirap

Gampangnya dijelaskan pria yang akrab disapa Asta ini karena seluruh kebutuhan produksi sudah ada supplier yang memasok. Mulai dari serbuk kayu, kayu bakar, kantong plastik, kalsium karbonat siap diantar. Tenaga kerja trampil juga banyak tersedia di desa Sodong.

Sedangkan kesulitanya terletak pada usaha baglog sama dengan berbisnis barang hidup, maka kualitas harus benar-benar terjaga agar konsumen tidak kecewa.

Karena itu, Asta memberi garansi baglog tidak tumbuh diganti baru. Ia juga harus pandai membangun jaringan konsimen, sehingga produksi baglog cepat tersalur. Apabila terlalu lama di gudang bisa-bisa inoculum mati sia-sia. Kadaluwarsa baglog menurut Asta hanya 4 bulan.

Saat ini Munjul Laras memproduksi 1000 baglog setiap hari. Sebulan rata-rata 26.000 baglog.Untuk itu Asta dibantu 6 tenaga kerja trampil. Mereka di bayar secara borongan. Setiap orang rata-rata dapat membawa pulang Rp 75.000 – Rp 100.000,- per hari.

Biasanya satu log jamur tiram bisa menghasilkan sampai 3 ons atau lebih, sedangkan untuk jamur kuping sendiri bisa sampai 3,5 ons atau lebih per 1 log plastik.

“Hasil dari budidaya jamur kuping lebih banyak dibanding jamur tiram. Namun risiko yang dihadapi pembudidaya lebih besar dibanding jamur tiram. Pasalnya jika sudah terkena penyakit, jamur kuping akan lebih sulit penanganannya.” Ujar Asta.

Oven untuk sterilisasi baglog milik Asta dapat menampung 1.750 baglog. Untuk bahan bakar para produsen baglog di Sodong masih menggunakan kayu bakar. Asta sendiri memerlukan kayu bakar sebanyak  1 m² per hari.

Selama ini Asta telah berhasil melayani pelanggannya  seantero Jawa Tengah. Mulai dari Blora, Pati, Kendal, Pekalongan, Karanganyar, Sukoharjo, Magelang dan Purworejo. Disamping seluruh wilayah kabupaten Semarang, Salatiga dan sekitarnya.

Ia mematok harga Rp 1.800,- per baglog untuk wilah kabupaten Semarang dan sekitar, dan Rp 2.100 per baglog untuk luar kota. Harga tersebut sudah termasuk ongkos kirim. Minimal order 1000 baglog untuk dalam kota, dan 1.500 baglog untuk luar kota.

Ada 6 produsen baglog lain yang ada di dusun Sodong. Konsumen dapat memilih mana yang paling cocok. Rata-rata para produsen ini menetapkan harga jual dan melayani dengan cara yang hampir sama. Karena mereka tergabung dalam paguyuban “ Jejamuran” atau Sodong Lestari.

Reporter : Djoko W

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini