14 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Motto Petani itu Keren, Dedy Berbagi Kisah dengan Petani UPLAND

Sinar Tani, Bandung—Petani itu Keren. Moto tersebut tertanam dalam diri Dedy Tri Kuncoro ketika terjun ke dunia pertanian. Mengundurkan diri dari salah satu Bank BUMN, ia kini sukses mengembangan intergrated farming organik.

Kisahnya itu disampaikan saat pertemuan dengan petani di lokasi Upland  (The Development Of Integrated Farming System in Upland Areas ) Project, di Bandung, beberapa waktu lalu.

“Kenapa saya yang sudah menjadi pegawai bank kemudian menjadi petani? Saya melihat petani itu keren,” ujarnya. Dedy memang tak punya latar belakang pertanian. Menamatkan sekolah di STM, kemudian kuliah di juruan Biologi Kelautan dan bekerja di sebuah Bank BUMN tak melunturkan hatinya untuk terjun ke dunia pertanian.

Setelah bekerja di bank selama tujuh tahun, tepatnya tahun 2016, ia akhirnya pensiun dini dan memutuskan menjadi petani. Bahkan keputusan dirinya itu sempat mendapat tantangan dari keluarganya. Apalagi posisinya di bank sudah cukup mapan. ”Saat masih menjadi pegawai bank, saya pernah mempunyai 12 bibit buah, lalu saya jual secara online, ternyata laku. Akhirnya saya memutuskan keluar dari bank,” tuturnya.

Meski tak memiliki lahan untuk bertani, modal terbatas, bahkan pengetahuan tentang pertanian juga hanya sekedar dari membaca buku, Dedy tak gentar menekuni usaha pertanian. “Dengan tekad, saya ternyata bisa. Saya bisa mengganti pendapatan saya di bank dari bertani. Bahkan saya juga bisa keliling Indonesia dan ke luar negeri dari bertani,” katanya saat Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petani di lokasi Upland Area.

Meski keluarganya berasal dari Lampung, Dedy kini tinggal di Yogyakarta. Ia mengaku, saat memulai usaha pertanian, tidak memiliki lahan yang cukup luas dan juga tak mempunyai modal besar. ”Bagaimana menjadi petani tanpa modal dan lahan? Itu kesulitan saya yang pertama. Tapi saya mempunyai impian.” katanya.

Saat memulai usaha tani, Dedy mengaku, kebun yang digarap merupakan lahan sewaan seluas 3.500 meter. Karena tidak mempunyai lahan, ia mengaku tak bisa meminjam ke bank.  Dirinya lalu mengajak teman-temannya untuk sharing dan akhirnya terkumpul modal Rp 150 juta. ”Dengan anggaran itu, saya menyewa lahan dan usaha pembibitan tanaman buah,” katanya.

Awal usahanya Dedy mengakui, mengalami kerugian selama hampir dua tahun. Hitungannya saat itu biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp 6 juta, tapi pemasukan hanya Rp 2 juta. Artinya, mengalami kerugian Rp 4 juta. Namun dengan tekad dan mimpi, ia tidak putus asa, karena yakin peluang usaha pertanian sangat besar.

”Mungkin saat itu saya belum tahu caranya seperti apa. Saya juga belum mengerti bagaimana bergabung dengan kelompok tani yang anggotanya banyak orang tua. Saya kemudian memperbanyak pengetahuan dengan banyak membaca buku,” tuturnya.

Dedy kemudian membuat komunitas untuk menambah pengetahuan. Dari kebun yang ada, dirinya memulai dengan melakukan pembibitan tanaman buah di lahan milik rekannya yang berada dekat rumah, kemudian dijual. Bahkan dalam pemasaran, ia melakukan sosialisasi ke desa-desa.

Baca Juga :   Kunjungi P4S Swen, SYL Dorong Intergrated Farming

“Kalau menunggu orang membeli akan lama. Saya coba lakukan datang ke desa, membuat pelatihanDesa Bertema tahun 2016. Tujuan kalau satu desa beli bibit bisa sampai 500 pohon. Jadi jumlahnya cukup banyak,” ungkapnya. Bahkan saat pandemi Covid-19, omset yang dikantongi Dedy mencapai Rp 200 juta.

Dedy membangun Bumi Organik untuk mengembangan pertanian ramah lingkungan. Baca halaman selanjutnya

Dedy kini telah membuat brand usahanya Bumi Organik. Ke depan, ia akan membangun wisata agro untuk memperkenalkan dunia pertanian kepada anak-anak sekolah. ”Kita harus perkenalkan pertanian sejak dini. Kita perlu regenerasi petani. Kalau dari TK dan SD tidak dikenalkan pertanian, maka profesi petani bisa dianggap sebelah mata. Kita harus kenalkan bahwa petani adalah profesi mulia dan keren,” tuturnya.

Dalam mengembangkan usahanya, Dedy mengaku fokus pada komoditas hortikultura, buah dan sayuran. ”Mengapa saya tidak ke padi atau tanaman pangan? Karena waktunya lama dan perlu lahan luas. Saya mengambil horti, karena pengalama saat mulai mengembangan usaha Desember 2016, dari awal hanya mendapat Rp 150 ribu kini bisa Rp 15 juta sekali panen,” katanya.

Di lahan yang tak begitu luas, ia mengembangkan integrated farming yang menggabungkan pertanian, perikanan dan peternakan dalam satu kesatuan yang saling mendukung. Bahkan dengan sistem pertanian organik.

Baginya, integrated farming adalah satu satunya jalan untuk pertanian masa depan dengan lahan petani yang semakin sempit. Sementara pertanian organik akan menghasilkan  pangan sehat yang juga pangan masa depan. ”Saya tidak menggunakan pupuk kimia sampai sekarang. Saya juga kembangkan maggot sebagai pakan ternak,” ujarnya.

Dedy bercerita, dirinya membuat pupuk organik dengan memanfaatkan limbah dari warung jus buah yang digabungkan dari kotoran ternak, sapi, ayam dan kambing. Dengan demikian, produksi buah dan sayuran berasal dari lahan yang ramah lingkungan.

Saat ini dengan lahan seluas  3.500 meterpersegi, Dedy bisa menghasilkan pendapatan tiap komoditas Rp 1-1,5 juta tiap panen. Padahal dalam seminggu, ia panen tiga kali yakni Selasa, Kamis dan Sabtu.

Apalagi di lahannya sekarang ada sekitar 22 komoditas sepeti pepaya, cabai, tomat, bayam dan lain sebagainya. ”Kalau tiap hari tanam dan panen, maka tidak akan ada hama. Pertumbuhan rumput juga terganggu karena banyak tanaman,” katanya.

Untuk mewujudkan pertanian organik, Dedy saat ini telah membuat pupuk organik caik dari urine dan limbah buah. Dalam membuat kompos, ia memakai kotoran ternak dengan komposisi sapi (4), ayam (1) dan kambing (1). ”Dengan memproduksi pupuk sendiri, petani bisa swasembada pupuk,” katanya.

Dengan budidaya pertanian organik, Dedy mengaku, tanaman juga lebih sehat dan tahan terhadap serangan hama penyakit. Jadi jika tanaman sehat, maka akan kebal penyakit. Bahkan berdampak sosial, selain tidak ada limbah yang terbuang, biaya usaha tani menjadi murah. Satu pesan Dedy adalah pola pikir petani terhadap pertanian itu harus diubah

Reporter : Julian

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini