25 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Untung, Dibalik Sukses Ubi Madu Kertek Tembus Pasar Ekspor

Sinar Tani, Wonosobo — Kesuksesan ubi madu Kertek, Wonosobo menembus pasar ekspor tidak lepas dari nama Untungna. Pria yang akrab disapa Pak Untung ini memang cukup dikenal dikalangan dinas dan penggiat pertanian di kabupaten Wonosobo. Dengan kegigihannya, kini setiap bulan sekitar 10 ton ubi madu Kertek, Wonosobo di pasarkan ke luar Indonesia.

Perjalanan pengelola P4S Agri Damar Jati dalam merintis pemasaran ubi madu Kertek, Wonosobo hingga dapat menembus pasar ekspor tidak main-main.

“Sampai berdarah-darah saya merintis jalan export ubi madu ini” ungkap Untungna ketika dikunjungi Kepala Distanbun Provinsi Jawa Tengah, Supriyanto SP,MP, beberapa waktu lalu.

Kepada Supriyanto, Untung menceritakan perjalannnya hingga bisa membawa ubi madu Wonosobo go internasional seperti sekarang.

Memiliki lahan subur di ketinggian 800 mdpl, Untung memutuskan untuk menaman sayuran. Dan dari berbagai jenis sayuran yang ada, ia memilih Buncis Perancis dengan nilai jual tinggi sebagai komoditas utama.

“Pada tahun 2010 saya  berhasil bermitra dengan Gudang Cold Storage yang ada di Soropadan, Temanggung dengan komoditas buncis Perancis.

Kemitraan buncis Perancis tersebut dapat berjalan baik, dari musim ke musim Untung bisa memenuhi permintaan konsumennya.

Sampai suatu saat, tepatnya pada tahun 2013, Untung melihat ubi madu yang sedang diproses di Gudang tersebut untuk di ekspor. Untung yang mengamati ubi madu tersebut merasa bahwa jenis ubi ini banyak ditanam di daerahnya.

Petani di Kertek menamakan ubi putih itu   sebagai tela brintik  (ubi keriting ). Ubi yang hanya ditanam sebagai tanaman sela di pematang-pematang ini banyak dikonsumsi sebagai camilan dengan cara direbus.

Penasaran apakah tela brintik yang ada dikebunnya adalah ubi madu, Untung mencoba mengolahnya dengan caradi oven, meniru pedagang ubi madu Cilembu yang sudah beberapa lama membuka warung berderet-deret diluar kota Wonosobo.

Benar saja, setelah dioven tela brintik asli Wonosobo ini juga mengeluarkan madu, layaknya ubi madu Cilembu.

“Selama ini orang tidak mengira, karena biasanya ubi keriting itu hanya direbus , sehingga tidak mengeluarkan madu,” ungkapnya.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan tersebut, Untung memberanikan diri menawarkan kemitraan ubi madu dengan Gudang Cold Storage di Soropadan.

Awal-awal sempat di ragukan temuannya tersebut, namun dengan kegigihan Untung akhirnya pada tahun 2014 kemitraan ubi madu dapat dimulai. Untung di minta menanam ubi madu seluas 1 Ha.

Kemitraan ubi madu dengan gudang cold storage di Soropadan tidak berjalan lama hanya bertahan satu tahun. Namun hal tersebut tidak membuat Untung pupus harapan, justru ia merasa tertantang untuk membawa ubi madu ke pasar yang lebih luas. \

“ Dengan perjalanan yang sulit  dan rumit, hingga berdarah-darah, singkat cerita akhirnya saya bisa bekerja sama dengan exportir PT. SMB,” kenangnya

Exportir yang terletak di Yogyakarta tersebut dapat menerima 10 ton ubi madu per bulan, dengan mutu dan ukuran sesuai ketentuan.

Persoalan ternyata belum selesai, jumlah ubi madu yang lolos seleksi untuk diterima exportir ternyata hanya 30% dari jumlah produksi yang dihasilkan.

Baca Juga :   Masyarakat Petani Barru Gelar Tudang Sipulung dan Mappalili

“Exportir hanya menerima ubi yang mulus tanpa cacat, dengan berat 120 gr – 500 gr.” kata Untung.

Karena itu Ia harus mencari pasar lokal untuk 70 % sisanya. Setelah menghubungi supermarket, pedagang sampai bakul-bakul di pasar tradisional, akhirnya Untung saat ini membagi hasil panen ubi madunya dalam 9 grade.

Grade yang paling tinggi untuk export dapat terjual dengan harga Rp 11.000,- per kg. Berturut-turut sesuai grade,  harga ubi madu milik Untung dapat terjual mulai harga Rp 6.000 sampai yang terendah Rp 1.500,- per kg.

“Tidak ada yang terbuang, sampai daun ubi saya bawa pulang untuk diolah sebagai pakan ikan” ujarnya.

Dalam menanam ubi madu, Untung mempunyai kiat tersendiri. Karena ia harus dapat menghasilkan ubi yang mulus tanpa cacat cela, dan pada besaran berat pada ukuran tertentu. Sehingga Ubi cukup  dipanen pada umur 3,5 sampai 4 bulan saja.

“ Kalau dipelihara sampai umur 5 bulan, ubi akan berukuran besar-besar, malah harga anjlog” katanya.

Ia juga merawat tanaman ubi madu miliknya dengan cermat. Agar tanaman tumbuh sehat dan dapat menghasilkan ubi yang mulus, bebas dari bekas serangan hama dan penyakit.

Untuk keperluan pupuk dan pestisida Untung memakai pupuk dan pestisida yang dia buat sendiri,

“Lebih murah dan lebih cespleng” katanya.

Agar dapat memenuhi permintaan, Untung juga menjalin kemitraan dengan 11 petani di desanya. Dalam Kerjasama ini, Untung memiliki syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi.

Diantaranya para petani harus bertanam ubi sesuai SOP, bibit harus berasal darinya dan harga beli sesuai kesepakatan.

“Untuk kualitas export, ubi dari petani mitra dibeli dengan harga Rp 6.000,- per kg. Karena saya masih harus mengeluarkan biaya untuk prosessing, transport dan lain-lain” ungkapnya.

Untuk melestarikan ubi madu dari Kertek, Wonosobo ini, Untung melakukan sendiri pemuliaan tanaman ubi madu yang diedarkan kepada mitra agar selalu terjaga kemurniannya.

“Bukan hanya untuk petani mitra, tapi juga ada permintaan dari luar dan saat ini saya sedang mempersiapkan bibit untuk dikirim ke Sumedang” katanya.

Supriyanto SP,MP dalam kunjungan kerjanya berpesan kepada Untung, yang kebetulan juga sedang mengemban tugas sebagai pengurus KTNA Provinsi Jawa Tengah, agar selalu menjaga kepercayaan buyer dengan selalu mengutamakan kua-litas dan menepati janji. Kecuali itu jangan lupa dipersiapkan kader penerus usaha yang mulai berjalan ini.

“Siap pak, dua orang anak saya sudah saya siapkan untuk kader. Satu orang belajar di PTN Yogya yang satu lagi sedang mengikuti magang di Jepang” jelas Untungna.

Daya upaya Untung untuk membawa ubi jalar lokal ke pasar global ini patut diapresiasi. Namun agaknya masih perlu banyak dukungan dari semua pihak.

Misalnya dibantu mempertemukan dengan buyer-buyer lain, sehingga pasar lebih luas dan lebih banyak pilihan. Kecuali itu akan lebih baik lagi kalau petani-petani ini dapat mengekspor ubi dalam bentuk barang setengah jadi. Sesuai anjuran pemerintah. Lalu kira-kira siapa yang dapat dan bersedia membantu?

Reporter : Djoko W

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini