22 Mei 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Penting bagi Tumbuhan, Pemberian Kalium Cek Dulu Kondisi Tanah

Sinar Tani, Jakarta—Kalium merupakan salah satu unsur hara yang berperan penting terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Namun dalam pemberian Kalium, petani perlu memperhatikan terlebih dahulu kondisi lahannya.

Secara umum total kalium di tanah diperkirakan antara 0,5-2.5%. Namun, sekitar 90-98?ri total kalium tersebut dalam bentuk yang tidak tersedia, sehingga tidak dapat diserap tanaman. Ketersediaan kalium untuk tanaman bisa ditambahkan dari pupuk yang diolah dari bahan alami hasil panen.

Lektor Kepala bidang Divisi Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB University, Dr. Ir. Arief Hartono, MSc. Agr, mengatakan, ketersediaan unsur Kalium (K) dalam tanah berasal dari mineral yang terdiri dari primer tanah. Misalnya, mineral feldspar dalam bentuk KalSi3O8 (sumber utama) sebanyak 16 %, mika 5,2 % (terbagi dalam bentuk biotit  sebanyak 3,8 ?n muskovit sebanyak 1,4 %.

“Kemudian ada mineral sekunder seperti illit (hidrous mika), vermikulit, khlorit, dan mineral tipe campuran,” tambahnya. “Jadi secara alami sumber kalium, bisa dihasilkan dari bantuan beku dan sedimen yang mengandung mineral,” tambah Arief saat Webinar Peran Unsur Hara Kalium pada Budidaya Tanaman yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT. Lautan Luas, Kamis (6/7).

Selain ketersediaan alami pada jenis tanah tertentu, menurut Arief, kalium juga bisa dihasilkan dari biomassa tanaman. Sebut saja, jerami, tandan kosong sawit dan sisa tanaman seperti gulma dan biomass hasil panen. Semua itu bisa dimanfaatkan sebagai sumber unsur kalium.

“Kita bersyukur sekarang panen dengan combine harvester karena meninggalkan bagian bawah padi yang bisa sebagai sumber Kalium. Karena itu dengan mengembalikan jerami ke tanah, kebutuhan kalium akan mudah terpenuhi,” katanya. Sumber Kalium lainnya menurut Arief adalah pupuk KCL, pupuk organik, urine ternak dan pupuk kandang. Bahkan abu menjadi sumber Kalium terbesar.

Adapun faktor- yang mempengaruhi ketersediaan kalium di dalam tanah yaitu tipe koloid tanah, temperatur, keadaan basah dan kering, pH tanah, dan pelapukan. Keadaan basah dan kering (kelembaban tanah) mempengaruhi Kalium. Wilayah yang lembab mempunyai kadar kalium tinggi. “Tak hanya itu, tanah yang bersifat basa memiliki kadar kalium yang rendah, sedangkan tanah yang bersifat asam memiliki kadar kalium yang tinggi,” tuturnya.

Menurut Arief, unsur Kalium akan mudah tercuci air, sehingga kekurangan Kalium sering terjadi ada pada daerah yang mempunyai curah hujan tinggi seperti Bogor, Kalimantan dan sebagian Sumatera. “Jadi kalau tidak ada input dari luar, tanah akan kekurangan Kalium,” ujarnya.

Dari hasil penelitian, Arief mencontohkan ketersediaan Kalium di Lampung dan Banten. Di Lampung, 58 persen contoh tanah memiliki unsur Kalium yang lebih dari cukup. Untuk Banten, sebanyak 47 persen contoh tanah juga unsur Kalium-nya cukup. “Begitu juga tanah di Jawa Barat dan Jawa Tengah, bahkan Jawa Timur hanya sebagian kecil tanah yang kering,” ungkapnya.

Baca Juga :   Penyuluh Pertanian di Era VUCA, Bagaimana Menyikapinya?

Inilah Manfaat Kalium

Apa sebenarnya fungsi Kalium untuk tanah dan tanaman? Arief Hartono menjelaskan, unsur tersebut berperan sebagai pengatur proses fisiologi tanaman seperti fotosintetis, akumulasi, translokasi, transportasi karbohidrat, membuka menutupnya stomata atau mengatur distribusi air dalam jaringan dan sel.

Menurutnya, Kalium membantu metabolisme karbohidrat, baik proses pembentukan, pemecahan, dan translokasi tanaman. Jadi jika tanaman kekurangan Kalium akan mengganggu pembentukan karbogidrat dalam tanaman. “Kalium juga mendorong serapan Nitrogen dan sintesa protein.  Kalau kalium tidak ada, maka serapan Nitrogrn akan terganggu, sehingga tanaman tidak tumbuh baik,” ujarnya.

Kalium juga membantu aktivator enzim (fungsi tunggal). Enzim-enzim ini banyak pada jaringan merismatik pada titik tumbuh.  Semua reaksi dalam tanaman memerlukan enzim yang banyak membantu dalam proses metabolisme dan pertumbuhan tanaman.

Karena itu, fungsi Kalium sangat penting bagi tanaman, karena akan terus bergerak dalam tanaman untuk metabolisme dan pengaturan air di daun. “Kalau kekurangan kalium, maka akan terlihat pada daun yang tua. Tandanya daun akan kering bagian pingirnya. Paling mudah terlihat pada tanaman jagung,” ujarnya.  

Dalam kaitan dengan air, Arief mengatakan, Kalium akan mengatur tekanan osmotic air di daun. Jika tekanan osmotic tinggi, maka air dalam tanah menggerak ke daun atau mendorong serapan air.  Tanaman yang kekurangan air bisa layu.

Kalium juga membantu dalam mempertahankan turgor daun dalam proses fotosintesis dan  mengatur pergerakan stomata. Selain itu, Kalium juga berperan dalam proses asimilasi yang mana glucose akan ditransportasikan ke buah. “Dalam proses transportasi perlu energi yang memerlukan Kalium,” ujarnya. Kalium lanjut Arief, juga dapat mengurangi serangan hama penyakit. Hasil penelitian pada tanaman sawit, Kalium mengurangi insidensi dan penyakit Ganoderma.

Namun menurut Arief, ketersediaan Kalium sangat ditentukan sifat tanah. Misalnya, kadar Ca dan Mg, serta jenis mineral klei (liat). Ada sifat antagonisme antara kalium dan kalsium, serta kalium dan magnesium yang menyebabkan kekalahan salah satu unsur untuk diserap tanaman jika komposisinya tidak seimbang. Namun unsur kalium diserap lebih cepat oleh tanaman dibandingkan kalsium dan magnesium.

Karena Kalium tanah banyak dalam bentuk yang tidak tersedia, sehingga perlu usaha untuk menambang Kalium, baik secara kimia dan biologi. Dengan kadar Kalium tanah di Indonesia yang berbeda-beda (tinggi dan rendah), Arief memberikan catatan agar dalam kebijakan pemupukan dosisinya pun harus berbeda. 

Reporter : Gsh

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini