Sinar Tani, Gunung Kidul — Optimisme menyelimuti lahan persawahan di Kalurahan Giring, Kapanewon Paliyan, Gunung Kidul. Dalam Gerakan Tanam Padi yang digelar hari ini, irigasi pompanisasi menjadi sorotan utama, membawa harapan baru bagi peningkatan produktivitas pertanian di wilayah ini.
Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi, Suwandi, mengapresiasi pemanfaatan teknologi irigasi tersebut oleh Gapoktan Sido Luhur. Menurut Suwandi, inovasi ini adalah kunci dalam meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dan memastikan ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim global.
“Irigasi pompanisasi sudah berjalan optimal, mampu melayani hingga 20 hektar lahan. Target kita jelas: dari sekali tanam padi menjadi dua kali dalam setahun, ditambah dengan palawija seperti jagung atau kacang tanah,” ujar Suwandi, yang pernah menjabat sebagai Dirjen Tanaman Pangan.
Menghadapi Krisis Pangan dengan Optimalisasi Sumber Daya
Plt. Bupati Gunung Kidul, Heri Susanto, menegaskan pentingnya memanfaatkan setiap jengkal lahan secara maksimal. Ia mengingatkan bahwa masalah pangan di berbagai negara akibat fenomena El Nino adalah peringatan bagi Indonesia.
“Indonesia dengan 283 juta penduduk membutuhkan pangan yang cukup. Sementara itu, lahan dan jumlah petani semakin berkurang. Cara terbaik? Tambah tanam di lahan yang sama dan kejar produksi,” kata Heri. Ia juga menekankan pentingnya peran penyuluh dalam mendampingi petani untuk meningkatkan produktivitas.
Pompanisasi: Solusi Cerdas di Musim Kemarau
Sistem pompanisasi dipandang sebagai solusi cerdas untuk mengatasi masalah air saat musim kering. Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menyebutkan bahwa irigasi pompanisasi menjadi alat vital dalam menjaga ketahanan pangan nasional, terutama bagi wilayah yang jauh dari sumber air.
Di sisi lain, Direktur Polbangtan Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA), Bambang Sudarmanto, mendorong percepatan Gerakan Tanam Padi Oktober ini sebagai bagian dari Luas Tambah Tanam (LTT).
“Kita harus bergerak cepat agar musim tanam Oktober-Maret tidak terganggu. Jika ditunda, target LTT bisa meleset,” jelas Bambang.
Menyambut Masa Depan Pertanian Berkelanjutan
Langkah Kementan dan para petani di Gunung Kidul ini bukan hanya tentang peningkatan produktivitas, tetapi juga bagian dari upaya lebih besar untuk memperkuat kemandirian pangan nasional. Dengan kombinasi teknologi irigasi dan manajemen tanam yang baik, para petani optimistis bisa menghadapi tantangan cuaca dan pasar global sekaligus.
“Kita tak hanya bicara soal kuantitas, tetapi juga keberlanjutan. Dengan pompanisasi, kita tak hanya menanam padi, tapi juga menanam harapan bagi masa depan pertanian Indonesia,” tutup Suwandi.
Tantangan Peningkatan Produksi Pertanian, Bioteknologi Jadi Alternatif Solusi
Trik Jitu Sido Muncul Menjaga Kualitas Tanaman Obat untuk Masa Depan Jamu
Pemupukan Sayuran dan Tanaman Obat di Musim Hujan, Inilah Saran Ahli