21 Februari 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Punya Banyak Kelebihan, Soil Block Ala Eko Mardiyono Jadi Pilihan

Sinar Tani, Temanggung — Lebih murah, mudah, cepat dan lebih baik menjadi keunggulan media semai soil block. Karena itu tidak heran bila pada suatu kesempatan di Temanggung, Jawa Tengah, Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian,  Prihasto Setyanto meminta petani dalam budi daya bawang dan cabai menggunakan model soil block untuk media persemaiannya.

Persemaian tanaman,  dalam praktek pada umumnya berupa persemaian tunggal dan persemaian bedengan. Persemaian tunggal adalah menyemai 1 butir benih/ 1 batang  stek/ 1 tunas umbi pada 1 media.  Sedang dalam persemaian sistem bedengan benih disebar di atas bedeng semai, setelah tiba saatnya, bibit dipindah tanam ke lahan.

Media persemaian tunggal biasanya di tempatkan dalam suatu wadah. Dapat berupa kantong daun, kantong plastik, sosis plastik, polybag , keranjang bambu atau  tray media semai. Dan yang baru berkembang adalah persemaian tunggal tanpa wadah, atau disebut soil block.

Jauh hari sebelumnya petani melon di salah satu desa di Toroh, Grobogan, Jawa Tengah, sudah melakukan persemaian melon tanpa wadah. Kebetulan tanah didaerah itu berstruktur lempung. Sehingga media persemaian hanya berupa tanah dicampur sedikit pupuk kandang, dikepal-kepal membentuk bulatan sebesar telur bebek.

Mereka membuat “telur bebek” hanya untuk keperluan sendiri. Sehingga jumlah “telur bebek”  yang dibuat juga hanya sebanyak populasi tanaman yang akan di usahakan. Biasanya persemaian tersebut  di tempatkan dipojok sawah, dengan peneduh sederhana.

Eko Mardiyono (55 th) petani sayuran dari desa Wirombo, kecamatan Wonosobo, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, tanpa sengaja telah menyempurnakan Teknik persemaian tunggal tanpa wadah, yang dikemudian hari diberi nama “Soil Block”. Bisa dikatakan tanpa sengaja, karena Eko sama sekali belum pernah melihat atau mengetahui bahwa petani melon di Grobogan menyemai melon dengan teknik semai tunggl tanpa wadah.

Berangkat dari kebutuhan bibit cabai yang cukup besar untuk kebun sendiri. Kebun sayur yang dikelola Eko Mardiyono cukup luas, sehingga dia perlu dibantu 18 orang tenaga kerja. Eko selalu prihatin melihat sampah plastik bekas wadah bibit cabai, bertebaran menumpuk mengotori lahan dan lingkungan. Dia juga memperhitungan berapa banyak tanah-tanah yang dikeruk untuk keperluan membuat pot-pot media persemaian.

Bermodalkan pengalaman kerja di perusahaan PMA Jepang yang bertanam sayur di dataran tinggi Dieng, Eko Mardiyono berinovasi membuat persemaian tanpa wadah dan tanpa tanah. Bahan baku yang dia pakai adalah gambut endapan dari Rawa Pening. Gambut tersebut , yang ditempat asalnya sering disebut “irengan” atau kompos eceng gondok, sudah dipakai di perusahaan Jepang, tempat kerjanya dulu, untuk campuran media jamur.

Baca Juga :   Mencoba Jadi Petani ? Iqbal Habibi Rekomendasikan Timun

Gambut rawa Pening ini merupakan endapan rawa full organic yang bervariasi umurnya. Ada yang masih muda, tetapi ada yang sudah ratusan tahun. Apabila telah kering bersifat porus dan keras.

Untuk mendapat formulasi yang diinginkan, Eko melengkapi bahan baku gambut rawa peningnya dengan menambahkan cocopeat, fosfat alam, kapur dolomit dan media penutup. Kemudian Eko yang sarjana pertanian jebolan UKSW tahun 1992 ini juga merakit alat pencetak soil block, yang dilengkapi dengan alat penebar benih.

Pada tahun 2017 prototipe pertama Soil Block telah jadi. Berupa kotak-kotak media semai, berukuran 3 x 3 x 3 x 1cm dengan cekungan kecil bagian atas. Alat pencetak juga sudah bagus, dilengkapi alat untuk meletakkan benih pada setiap cekungan. Soil blok ini dapat digunakan untuk menyemai cabai, bawang merah, sawi dan segala tanaman sayur yang berasal dari biji.

Kelebihan dari media semai soil block ini adalah :

  1. Lebih hemat biaya karena pada saat pindah tanam membutuhkan lebih sedikit tenaga tanam dan tidak perlu dilakukan pemupukan karena bahan media semai sudah dilengkapi hara yang memadai.
  2. Lebih ramah lingkunngan karena tanpa menggunakan plastik atau polybag, juga tanpa tanah subur.
  3. Pertumbuhan akar lebih cepat karena bahan yang digunakan berasal pupuk organik
  4. Perkecambahan lebih cepat
  5. Mengurangi tingkat kematian bibit karena pada saat pindah tanam tidak merusak akar dan media semai, bibit dapat langsung ditanam karena tanpa plastik

Pada waktu ini Eko telah membuat varian baru soil block produksinya. Apabila soil block yang telah ada berukuran 3 x 3 x 3 x 1cm, sekarang ia membuat soil block berukuran 6 x 6 x 6 x 1 cm.

“ Keuntungan menggunakan soil block besar adalah bibit tanamandapat lebih lama dipelihara dipersemaian” kata Eko.

Ditambahkannya, bila memakai yang 3 x 3 x 3 cabai dipersemaian pada umur  30 – 40 hari harus tanam, bila memakai 6 x 6 x 6 dapat bertahan hingga umur 60 hari. Begitu pindah tanam cabai langsung berbunga.

Menurut Eko Mardiyanto, sambutan Kementrian Pertanian atas inovasi Soil Blocknya sangat positif. Tahun lalu ia ditugasi untuk mencukupi kebutuhan bibit bawang merah asal TSS untuk kabupaten Bantul sebanyak 15 juta batang.

Kabarnya tahun depan kan ditugasi lagi untuk provinsi Jawa Barat, DIY dan Jateng sebanyak 32 juta batang. Pada bulan Mei lalu Eko juga ditugasi untuk melatih petani dari 30 provinsi. “ Paket lengkap, cara membuat soil block, sekalian pengadaan alat cetak untuk peserta pelatihan” pungkas Eko.

Reporter : Djoko W

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini