14 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Eco Enzyme Andalan Rumah Sehat Sugih Waras

Sinar Tani, Ambarawa — Pertanian organik yang dilakukan Yohanes Wasisto dan Fransisca Wahyuni bisa jadi panutan. Dengan mengandalkan Eco Enzyme buatannya sendiri, berbagai tanaman di Rumah Sehat “Sugih Waras” yang ditinggali pasangan suami istri ini tumbuh subur dan pastinya sehat karena tidak menggunakan pupuk kimia.

Eco Enzyme sangat mendukung kegiatan pasangan Yohanes Wasisto dan Fransisca Wahyuni sebagai aktivis penggerak lingkungan. Dimulai dari tempat tinggalnya sendiri yang di tata dan dilengkapi sedemikian rupa, sehingga menjadi prototype sebuah “rumah sehat”.

Walaupun tidak begitu luas, namun pekarangan depan, samping dan belakang rumah yang terletak di RT2/RW1, Kupang Rengas, Ambarawa dimanfaatkan betul untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bermacam sayur mayur, , buah-buahan, tanaman obat (empon-empon) ditanam dalam polybag yang tertata rapi. Masing tanaman diberi label nama dan manfaatnya.

“Untuk edukasi warga” kata Wahyuni.

Dibelakang ada ternak bebek beberapa ekor yang setiap hari bertelur, kolam ikan mini juga dibuat menghasilkan lauk.

Mereka memberi nama“ Sugih Waras” untuk rumah sehat tersebut. Walaupun halaman rumah penuh tanaman dan ternak namun tidak ada bau menyengat yang mengganggu

Untuk mendukung keberlangsungan kebun pekarangan yang diselenggarakan secara organik, pasangan Wasisto dan Wahyuni sepenuhnya mengandalkan Eco Enzyme  yang juga dibuat sendiri.

Sehingga diteritisan rumah mereka terlihat penuh dengan drum-drum plastik besar, kapasitas 200 liter berwarna biru.

Mereka berdua dengan tekun membuat Eco Enzyme sampai ribuan liter secara sukarela dan swadaya,

Dalam hal ini Eco Enzyme  sangat membantu, karena dapat dipakai sebagai pupuk tanaman, pengusir hama dan penyakit tanaman, pembersih kandang dan air kolam, sehingga tak berbau. Memang kelihatan benar semua tanaman dan ternak begitu subur dan terpelihara.

Wahyuni mengaku kalau mereka berdua telah mulai tertarik dan mecoba membuat Eco Enzyme  sejak 10 tahun yang lalu, melaui brosur dan medsos yang mulai banyak beredar pada waktu itu.

Baca Juga :   Solusi Kelangkaan Pupuk, Yuk Buat Pupuk Organik Setara NPK

Hasil Eco Enzyme  coba digunakan untuk membersihkan lantai (ngepel), cuci piring dan gelas serta memupuk tanaman.

Sebagai aktivis mereka giat menyebarkan dan mengajak masyarakat, untuk mengikuti jejaknya. Tetangga dilingkungan RT dan RW Kupang Rengas dimana mereka tinggal merespon dengan baik.

Ditepi gang dan pekarangan rumah penuh dengan pot-pot sayuran dan buah. Kegiatan warga yang sangat positif ini mengantar  RW I Kupang Rengas mendapat perhargaan dari Pemda Kab. Semarang Kegiatan pemanfaatan pekarangan tersebut juga sangat terasa manfaatnya   ketika pandemi covid melanda seluruh negeri.

Sadar bahwa kegiatan menggerakkan masyarakat tak mungkin di lakukan sendiri, maka sejak 3 tahun lalu pasangan Wasisto dan Wahyuni bergabung pada Komunitas Eco Enzyme  Nusantara Pusat.

Ditingkat provinsi Jawa Tengah pasangan ini juga tercatat sebagai pengurus Maporina (Masyarakat Petani dan Pertanian Organik Indonesia) Provinsi Jawa Tengah.

Secara rutin rumah sehat “Sugih Waras”  melatih siswa-siswa dari sekolah.  Mereka juga tak segan mendatangi  kelompok ibu-ibu PKK, KWT, Posyandu untuk sosialisasi manfaat dan melatih pembuatan Eco Enzyme .

Walaupun telah berusia lebih dari 60 tahun, namun Wasisto tidak malu dan tidak segan membawa motor dengan keranjang diboncengan untuk mengambil kulit buah dari pasar-pasar atau pedagang es buah. Dari ketekunan dan kerajinan mereka sekarang ini telah tersedia ribuan liter Eco Enzyme  dirumahnya.

Disamping dibagi-bagi kepada khalayak yang sedang belajar tentang manfaat dan pembuatan Eco Enzyme , mereka juga menyumbangkan dalam jumlah besar pada event-event tertentu.

Seperti yang baru saja dilakukan, mereka mensonasikan 175 liter Eco Enzyme  kepada komunitas “Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup” Ungaran, untuk dituangkan di Sungai “Kaligarang” dalam rangka memulihkan potensi alami sungai, sebagai Sumber Daya Air.

Reporter : Djoko W

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini