5 Maret 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

BSIP : Biosaka Tak Berpengaruh pada Peningkatan Produksi, Tak Juga Kurangi Pupuk

SINAR TANI.COM, JakartaDalam Focus Group Discussion (FGD) yang mengguncang dunia pertanian, Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) dengan tegas menyatakan bahwa kebijakan seputar penggunaan Biosaka haruslah didasarkan pada kajian ilmiah yang akurat.

Himpunan Ilmu Tanah Indonesia [HITI], sebuah wadah bagi akademisi dan praktisi pertanian, secara tegas menyarankan bahwa kebijakan publik terkait Biosaka harus didasarkan pada tinjauan ilmiah yang berbeda dari yang ada saat ini.

Temuan penelitian mengejutkan yang diungkapkan oleh HITI menyatakan bahwa Biosaka, pada kenyataannya, tidak memiliki dampak signifikan terhadap produksi padi.

Rekomendasi ini disampaikan dalam sebuah acara Focus Group Discussion (FGD) dengan judul ‘Exploring Untapped Potentials of Biosaka in Paddy Farming’, yang berlangsung secara daring pada Senin (29/5).

FGD ini diikuti oleh hampir 75 peserta secara daring, yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk akademisi, praktisi, pejabat Kementerian Pertanian, pejabat pemerintah daerah terkait, penyuluh, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dalam acara tersebut, narasumber yang hadir antara lain Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, MSc dari Balai Pengujian Standar Instrumen Tanah dan Pupuk, Balai Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP), Kementerian Pertanian RI, dan Dr. Arif Hartono, seorang akademisi dari IPB University.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Pengujian Standar Instrumen Tanah dan Pupuk pada Balai Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Kementerian Pertanian RI mengungkapkan bahwa ternyata Biosaka tidak memiliki pengaruh terhadap produksi padi.

Selain itu, penggunaan Biosaka juga tidak mengurangi kebutuhan pupuk sebesar 50% hingga 90%.

Seperti yang diketahui, Biosaka adalah pengetahuan lokal yang merupakan temuan atau inovasi dari seorang praktisi pertanian bernama Muhammad Anshar, yang berasal dari Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur.

Biosaka adalah cairan yang terbuat dari pucuk daun atau rumput sehat dan utuh yang tidak terserang serangga, yang diremas dalam air dengan takaran dan waktu tertentu.

FGD yang diselenggarakan oleh HITI berkaitan dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh petani, penyuluh, dan pemangku kepentingan pertanian lainnya mengenai efektivitas penggunaan Biosaka.

Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, MSc, menjelaskan bahwa Balai Pengujian Standar Instrumen Tanah dan Pupuk, yang bertanggung jawab dalam pengujian standar instrumen tanah dan pupuk, telah melakukan pengujian terkait penggunaan Biosaka di Blitar dengan tanaman indikator padi.

Baca Juga :   Atasi Kelangkaan Pupuk, Widyaiswara BBPP Binuang Laksanakan Bimtek Pembuatan POC

“Pengujian tersebut dilakukan sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 1 Tahun 2019,” katanya.

Menurut Ladiyani, hasil uji laboratorium terhadap ramuan Biosaka menunjukkan bahwa kandungan nutrisi makro dan mikro sangat rendah, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai pupuk atau pestisida.

“Biosaka mengandung ZPT atau zat pengatur tumbuh dengan kadar yang cukup tinggi,” tambahnya.

Ladiyani menjelaskan bahwa dengan memperhatikan spesifikasi Biosaka dan respons tanaman setelah aplikasi, cairan Biosaka dapat dikategorikan sebagai elisitor yang berhubungan dengan sistem kekebalan tanaman terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan kemampuan tanaman untuk tumbuh dalam ekosistem tertentu.

Ladiyani juga menambahkan bahwa hasil pengujian dari Balai Pengujian Standar Instrumen Tanah dan Pupuk menunjukkan bahwa dengan mempertimbangkan efisiensi, penggunaan pupuk NPK dapat dikurangi sebesar 25% dengan syarat tambahan penggunaan pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah.

Dr. Arif Hartono, seorang akademisi dari IPB University, mengakui bahwa ada beberapa klaim yang menyebutkan bahwa penggunaan cairan Biosaka dapat mengurangi penggunaan pupuk hingga 100%.

Namun, hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait keseimbangan nutrisi dan keberlanjutan daya dukung lahan dalam menyediakan nutrisi bagi tanaman.

“Untuk mencegah terjadinya penurunan nutrisi, penggunaan cairan Biosaka sebaiknya menjadi komponen pelengkap,” kata Dr. Arif Hartono.

Dr. Arif menjelaskan bahwa komponen utama dalam budidaya tanaman meliputi pupuk anorganik, pupuk organik, dan pupuk hayati, yang harus ditambahkan dalam jumlah yang sesuai dengan kondisi status nutrisi tanah, kebutuhan tanaman, dan target produksi yang diinginkan.

Dengan demikian, penggunaan cairan Biosaka dapat menjadi salah satu elemen dalam strategi pemupukan yang komprehensif, namun tidak menggantikan penggunaan pupuk lainnya.

Tindak Lanjut

Kegiatan FGD ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo, yang menyatakan bahwa peningkatan produksi pertanian merupakan bentuk akselerasi dalam menghadapi tantangan global.

“Untuk terus memperkuat stok pangan, terutama beras sebagai kebutuhan pokok di dalam negeri, bahkan dibutuhkan di seluruh dunia,” ujarnya.

Sebagai langkah tindak lanjut dari FGD tersebut, HITI meminta kepada seluruh Komisariat Daerah (Komda) agar melakukan pengamatan terhadap daerah yang telah menerapkan Biosaka dalam kegiatan budidaya pertanian.

Selain itu, HITI juga mendorong seluruh Komda untuk melakukan penelitian dan pengujian terkait efektivitas Biosaka dan suplemen lainnya dalam kegiatan budidaya pertanian.

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini