16 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Dengan Jamur Crispy Ngehe, Bisnis Nopan kian Menjamur

Nopan bersama Sekretaris Direktoral Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Retno Hartati Sri Mulyandari | Sumber Foto:Humas Horti

Sinar Tani, Jakarta—Permintaan yang terus menjamur membuat bisnis jamur bikin makmur. Seperti dirasakan pemilik usaha Rumah Jamur Fahira, Nopan Purwadi yang memproduksi jamur di daerah Purwakarta.

Nopan mengatakan, permintaan jamur saat ini cukup tinggi karena terdorong meningkatnya pengetahuan masyarakat, khususnya generasi muda yang mulai memahami kandungan gizi jamur. Apalagi jamur memiliki rasa yang enak, tinggi protein, bebas lemak, rendah kalori, dan bebas kolesterol.

Jamur juga kini menjadi pangan alternatif yang sedang tren dan berkembang di masyarakat, Jamur banyak digunakan sebagai bahan baku berbagai olahan pangan. Bahkan berbagai varian olahan menu restoran, keripik jamur termasuk juga kaldu jamur. “Kami akan berusaha mencukupi tingginya permintaan jamur,” katanya.

Selain memproduksi jamur, Nopan mengatakan, juga mengolah jamur menjadi berbagai olahan, termasuk kaldu jamur. Kaldu jamur menurut Nopan mempunyai prospek yang bagus untuk dikembangkan karena digunakan sebagai pengganti MSG.

Bahkan pemilik usaha jamur yang dikenal lewat produk awal “Jamur Crispy Ngehe” ini bersama istrinya terus berinovasi untuk menciptakan produk olahan jamur.

“Sekarang ini kami menjual beragam produk turunan produk jamur seperti jamur jeletot, jamur krispy, pizza jamur dan jamur asam manis. Saat ini permintaannya cukup bagus,” kata Nopan.

Nopan bisa dibilang seorang petani milenial yang berhasil di bidang hortikultura. Untuk mencukupi permintaan masyarakat, Nopan bekerja sama dengan tiga puluh plasma yang dikawal dalam proses pembuatan baglog siap produksi.

“Selain pembibitan, kami sedang proses pengembangan dan sudah membeli tanah yang akan digunakan untuk perluasan,agar dapat memenuhi permintaan pasar,” ungkap Nopan.

Saat ini bangsal paspa sudah difungsikan untuk proses packing jamur dari para mitra.  Kini petani jamur pengelola Rumah Fahira Jamur menjadi offtaker jamur, khususnya di Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta.

Perlu diketahui jamur merupakan saprofit pada bahan-bahan organik yang telah mati yang terbukti memiliki banyak kandungan nutrisi yang dibutuhkan tubuh manusia. Prospek bisnis jamur cukup menggiurkan mengingat jamur mengandung banyak protein hampir sama dengan protein hewani.

Daging jamur, khususnya jamur merang memiliki semua kandungan asam amino essensial yang terdapat dalam telur, bahkan untuk kandungan lysine dan histidinennya lebih tinggi daripada telur.

Baca Juga :   Kementan Bekali Penyuluh Hebat Atasi Krisis Global dan Digitalisasi

Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto menyatakan dukungannya terhadap pengembangan jamur. Bahkan Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan Kubung Jamur  maupun bangsal pascapanen dan pengolahan hasil jamur.  Beberapa petani saat ini sudah mengembangkan secara komprehensif hulu hingga hilir.

Peluang bisnis jamur tiram saat ini cukup menjanjikan. Banyaknya permintaan baglog untuk pembesaran jamur dari para petani jamur saat ini sudah melebihi  jumlah pasokan. Karena itu, membuat usaha ini sangat potensial untuk dikembangkan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Retno Hartati Sri Mulyandari mengatakan, permintaan baglog jamur tiram saat ini sebenarnya sudah mencapai 50.000 lebih di wilayah Purwakarta. Namun demikian, sampai saat ini baru terpenuhi 20.000 baglog, sehingga bisnis usaha untuk pengembangan jamur masih sangat prospektif.

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mendukung pengembangan jamur tiram di Kabupaten Purwakarta. Salah satunya melalui pemberian bantuan fasilitasi sarana budidaya jamur berupa kubung jamur budidaya.

Bantuan Kubung dari Ditjen Hortikultura tahun 2020 untuk Rumah Jamur Fahira, diberdayakan untuk penyimpanan baglog jamur siap produksi.

Pemerintah kata Retno, sangat mengapresiasi upaya Rumah Jamur Fahira dalam mengembangkan komoditas jamur. Mulai dari hulu hingga hilir, dari produksi benih hingga pembuatan baglog jamur siap produksi, serta pembesaran dan pengolahan sampai pemasaran sudah menjadi satu rangkaian usaha bahkan sudah dalam bentuk olahan.

Retno menambahkan, untuk perluasan perlu peningkatan kapasitas produksi baglog terutama untuk pemanasan atau strerilisasi dirinya mengajak para generasi muda untuk mulai menggeluti usaha budidaya jamur ini karena cukup menjanjikan.

Pada kesempatan kunjungan ke kampung dan UMKM  jamur tersebut, turut hadir Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta, Sri Jaya Midan. Ia mengatakan bahwa dinas akan mendorong untuk memperkuat kelembagaannya menjadi korporasi petani jamur.

“Saat ini embrio koperasinya suduh terbentuk melalui kerjasama dengan tiga puluh mitra yang berasal dari tujuh Kecamatan di Purwakarta,” imbuh Midan.

Midan berharap usaha jamur tiram yang dijalani saat ini dapat dilakukan dengan sistem inti dan plasma dan diharapkan industri jamur terus bisa mendunia dan menjadi andalan ekspor.

Reporter : Julian

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini