5 Maret 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Closed Loop, Mengurai Kendala Hulu-Hilir Pertanian

Program Closed Loop di Garut | Sumber Foto:Dok. Kemenko Perekonomian

Sinar Tani, Padang—Kantor Kementerian Koordiantor Perekonomian saat ini mendorong model Closed Loop sebagai satu alternatif mengatasi persoalan yang selama ini dihadapi petani, khususnya hortikultura. Closed Loop merupakan model kemitraan agribisnis hulu sampai hilir yang melibatkan multistakeholder.

Bukan rahasia lagi, petani dalam negeri kerap mengeluhkan berbagai masalah yang menimpa diri mereka. Misalnya, saat mulai tanam, persoalan modal usaha menghadang petani. Saat sudah tanam, mereka harus berhadapan dengan masalah pupuk dan pengendali hama penyakit. Begitu juga ketika panen tiba, posisi tawar petani cukup rendah saat berhadapan dengan pasar.

Persoalan tersebut ibarat Pekerjaan Rumah (PR) yang belum mampu terselesaikan dengan baik oleh pemerintah. Guna membantu mengurai benang kusut yang dialami petani dalam negeri, Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian mencoba menawarkan sistem closed loop. Saat ini ujicoba telah dilakukan untuk petani hortikultura.

Asisten Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Hortikultura Yuli Sri Wilanti mengakui, latar belakang diperkenalkannya model closed loop ini karena melihat beberapa permasalahan di sub sektor hortikultura. Misalnya, adanya mismatch antara supply dan demand.

”Produksi petani tidak sesuai kebutuhan konsumen dan industri, sehingga mengakibatkan pasokan dan harga tidak stabil. Akibatnya kalangan industri harus memenuhi kebutuhan bahan baku dari impor,” kata Yuli saat Seminar Pengembangan Kemitraan Closed Loop Agribisnis Hortikultura di Indonesia, di Padang, Selasa (13/6) lalu.

Masalah lainnya yang petani hadapi adalah keterbatasan produksi dan akses pasar, modal dan teknologi. Kelembagaan ekonomi petani juga relatif masih lemah, masih terbatasnya pendampingan petani, serta rantai pasok yang belum stabil.

Gandeng Seluruh Stakeholder

Dalam closed loop kemitraan ini menurut Yuli, pihaknya menggandeng seluruh stakeholder yakni pemerintah pusat, Pemda, BUMN, akademisi, perbankan, swasta dan offtaker. Jadi model ini mengintegrasikan dan mengkolaborasikan berbagai stakeholder dari hulu hingga hilir. ”Ini yang menjadi pembedanya dengan kemitraan lainnya,” katanya.

Kemitraan ini dikembangkan dalam ekosistem yang berbasis digital, teknik budidaya sesuai Good Agriculture Practices (GAP). Sistem distribusinya juga dilakukan dengan adanya jaminan pasar atau harga yang bersaing oleh off-taker. “Faktor kunci keberhasilan closed- loop terletak pada sistem budidaya yang  baik. Adanya pendampingan dari berbagai pihak secara intensif, kelancaran akses pembiayaan, serta adanya kepastian pasar,” tutur Yuli.

Ia mengungkapkan, model kemitraan closed loop ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2020 di petani Garut. Kemudian Sukabumi, selanjutnya di Sikka NTT dan Deli Serdang, serta beberapa kabupaten/kota lainnya.

Baca Juga :   Bersiap, Panen Raya Padi telah Tiba

“Secara bertahap kita terus kembangkan. Hingga kini sudah ada beberapa lokasi eksisting, sekitar 16 lokasi. Memang sebagian besar di Jawa, tapi di luar Jawa juga ada di NTT dan Sumatera Utara, ” tuturnya. Ke depan, lanjut Yuli, beberapa rencana pengembangan di 9 lokasi yakni, Sleman, Kulonprogo, Bangli, Buleleng, Bangka Barat, Manggarai Barat, Kupang, Malaka dan Sumba.

Direktur Paskomnas Indonesia, Soekam Parwadi mengatakan, karena tujuan closed loop ini menjaga stabilisasi pasokan dan harga, sebagai pusat distribusi Paskomnas nantinya sebagai sumber informasi pasar, memadu pemasok, pusat pembentukan harga, melayanan pasar eceran dan kebutuhan desa.

“Informasi pasar tersebut akan disampaikan ke petani, baik yang sudah membentuk Gapoktan, BUMDes, asosiasi dan koperasi tani. Petani nantinya akan mamasok  secara teratur ke Paskomnas,” tuturnya.  Namun menurut Soekam ada beberapa potenai masalah, baik di hulu maupun hilir dalam pelaksanaan closed loop. Misalnya, konsistensi dan kontiyuitas pasokan, baik kualitas maupun kuantitas dari petan

Karena itu, Paskomnas menawarkan closed loop plus. Di hulu, untuk stabilisasi pasokan perlu adanya sebuah kawasan produksi sebagai penyangga. Di kawasan tersebut, disusun pola panen, menggunakan teknologi yang efisien dan produknya kompetitif. ”Jadi pasokan tidak hanya mengandalkan petani,” katanya.

Di hilir, Paskomnas juga bisa melayani kebutuhan bahan pokok penting ke desa. Nantinya mobil pengangkut dari desa yang membawa pasokan ke pasar induk, ketika kembali akan membawa kebutuhan pokok penting ke desa, seperti gula, minyak goreng dan lain sebagainya. “Ini yang kami tawarkan. Jadi yang kita bantu bukan konsumen kota saja, tapi di desa juga,” tegas Soekam.

Sementara Director of Programs Agriculture, Entrepreneurship, and Financial Inclusion, Mercy Corps Indonesia, Andi Ikhwan menilai, pendampingan merupakan bagian vital dalam program Close Loop ini. Untuk itu, pendampingan harus selalu tersedia dalam semua tahapan kegiatan pertanian.

“Pendampingan harus sudah masuk sejak perencanaan, karena petani harus mengambil keputusan menanam, harus berdasarkan informasi dari berbagai pihak. Misalnya, informasi pasar, keadaan lokasi lahan hingga infromasi apa yang akan terjadi seperti kekeringan dan lain sebagainya,” ungkap Andi.

Selama ini Andi melihat, terkadang pendampingan hanya menjelaskan bagaimana menggunakan pupuk, perlindungan tanaman dan lain sebagainya. Padahal, petani tidak hanya membutuhkan pendampingan dalam hal tersebut, tapi juga pendampingan lain yang berguna pada proses perencanaan tanam

Reporter : Julian

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini