22 Mei 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Mencegah Bahaya Limbah Mikroplastik Bagi Ekosistem Laut

Sinar Tani, Jakarta — Begitu besar dampak limbah plastik di laut telah diketahui secara luas meliputi hilangnya kesan estetika, terganggunya pariwisata dan kerugian ekonomi yang besar. Limbah plastik ini dapat menurunkan mutu bahan pangan asal laut yang membahayakan kesehatan manusia.

Limbah yang dalam bentuk mikroplastik dapat membawa patogen dan zat beracun. Maka dari itu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Kementerian Kelautan dan Perikanan perlu mengupayakan penurunan pencemaran mikroplastik di lautan secara nasional.

Mikroplastik Pengaruhi Ketersediaan Hayati Bagi Organisme

Pencemaran mikroplastik di laut merupakan salah satu masalah lingkungan yang paling serius akhir-akhir ini. Terkonsumsinya mikroplastik telah dilaporkan terjadi pada berbagai jenis organisme, mulai dari herbivora dan konsumen sekunder hingga predator puncak. Terdapat potensi dampak lingkungan yang merugikan dalam jangka panjang dari mikroplastik di laut.

Misalnya, menelan partikel mikroskopis yang lebih besar dapat menyebabkan efek fisik yang berbahaya bagi organisme hidup. Selain itu, terdapat temuan yang menyarankan bahwa mikroplastik mempunyai efek merusak yaitu berperan dalam pelepasan bahan kimia berbahaya ke ekosistem melalui rantai makanan.

Telah diketahui bahwa mikroplastik dalam air laut dapat menyerap polutan kimia, misalnya kimia organik hidrofobik (yang sulit bercampur dengan air). Bahan kimia ini dapat berasal dari bahan kimia tambahan yang dimasukkan ke dalam plastik selama pembuatan atau terakumulasi dari air tercemar di sekitarnya karena kapasitas penyerapannya yang tinggi.

Demikian pula, ketika menghambat penyerapan, kontaminan berisiko diserap dari mikroplastik dapat tertelan masuk ke dalam sistem biologis organisme hidup. Situasi ini menjadikan mikroplastik sebagai sumber sekaligus penyerap polutan.

Selain itu, laporan tentang bioakumulasi polutan beracun pada organisme hidup lainnya menunjukkan situasi yang serupa untuk manusia, di mana kompleks mikroplastik-polutan dapat melepaskan polutan ke jaringan biologis.

Mikroplastik Sebagai Vektor Kontaminan

Sejauh ini, beberapa jenis polutan lingkungan yang dapat ditemukan pada organisme hidup bersama dengan sampah plastik telah dilaporkan, yang menunjukkan bahwa mikroplastik dapat berperan sebagai vektor pemindahan kontaminan kimia dari air laut ke organisme. Karena sifat hidrofobik permukaan plastik, senyawa organik hidrofobik merupakan kategori yang paling sering ditemui berpindah melalui jalur ini.  Bahan plastik, seperti Polistirena (PS), Polietilena (PE), dan PolyPropylene (PP), dapat menyerap kontaminan senyawa organik hidrofobik yaitu Polychlorinated biphenyl (PCB), Polybrominated diphenyl ether (PBDE), Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH), dan Hexabromocyclododecane (HBCD), dan kemudian membawanya ke organisme.

Selain itu, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa mikroplastik dapat menjadi vektor pencemaran logam berat di lingkungan laut.  Hewan model ikan zebra, yang terpapar dengan butiran-butiran halus PE yang diinkubasi logam Ag (argentum) secara signifikan meningkatkan proporsi kadar Ag usus, yang menunjukkan bahwa mikroplastik mengubah rute penyerapan kontaminan logam dalam spesies ikan model. Respons ekotoksikologi seperti itu oleh polutan yang terikat mikroplastik juga telah diamati dalam kasus lain.

Dengan menggunakan ikan Medaka Jepang sebagai hewan model, mengindikasikan bahwa menelan mikroplastik Low Density Polyethylene (LDPE) dengan polutan lingkungan yang terserap dari teluk San Diego dapat menyebabkan toksisitas hati dan menimbulkan perubahan patologis.

Paparan polutan yang dipindahkan oleh mikroplastik mengakibatkan perubahan perilaku, dimana belalang pantai yang menelan manik-manik plastik PE yang terkontaminasi Polisiklik PAH menunjukkan penurunan tinggi lompatan dan tingkat kelangsungan hidupnya.

Selain itu, mikroplastik bisa menjadi vektor transportasi patogen. Viršek dkk. (2017) menunjukkan 28 spesies bakteri pada mikroplastik yang dikumpulkan dari Adriatik Utara, termasuk bakteri Aeromonas salmonicid merupakan bakteri patogen yang sangat memengaruhi budidaya ikan.

Ada studi tentang estimasi peran potensi mikroplastik dalam mentransfer bahan kimia melalui struktur trofik. Cacing laut Arenicola marina yang terpapar PE terkontaminasi PCB menunjukkan peningkatan bioakumulasi dibandingkan kelompok kontrol yang hanya terpapar PCB saja, yang sesuai dengan estimasi awal model ketersediaan hayati.

Untuk predator puncak yaitu burung laut Penciduk mempunyai konsentrasi PCB dan PBDE pada jaringan lemak dan telur, ini menunjukkan korelasi positif terhadap jumlah partikel plastik yang tertelan.

Bioakumulasi Merkuri dan Zat Bahaya Lain

Bioakumulasi secara jelas ditunjukan oleh Barboza dkk (2018) di mana konsentrasi merkuri dalam insang dan hati ikan kakap muda Eropa mengandung campuran mikroplastik/merkuri lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan sediaan hanya merkuri saja.

Kehadiran mikroplastik PE juga dilaporkan dapat meningkatkan bioakumulasi PBDE, PCB, dan PAH. Dalam penelitian lain, PBDE terakumulasi dalam zooplankton laut dengan adanya mikroplastik PE. Selain itu, sekelompok unsur PCB menunjukkan kapasitas bioakumulasi yang bervariasi pada cacing laut dengan adanya PS. Selain itu, keberadaan mikroplastik PS yang lebih kecil (50 nm) meningkatkan bioakumulasi senyawa kimia fenantrena dalam kutu air Daphnia magna.

Risiko Terhadap Manusia

Literatur-literatur yang ada menunjukkan bahwa mikroplastik membahayakan keamanan pangan manusia karena mencemari bahan makanan yang dikonsumsi manusia. Mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia melalui inhalasi atau konsumsi makanan asal laut, seperti ikan dan kerang.

Berdasarkan kelimpahan yang diamati, diperkirakan konsumen kerang di Tiongkok dapat terpapar 100.000 mikroplastik setiap tahun. Dalam 15 merek garam laut komersial ditemukan mikroplastik, terutama PE dan Polyethylene Terephthalate (PET). Sebuah studi lain melaporkan keberadaan mikroplastik terutama PET dan PP di semua delapan sampel tinja manusia yang diteliti.

Saran Penanganan

Untuk mengatasi masalah yang terkait dengan polusi mikroplastik, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Kementerian Kelautan dan Perikanan perlu mengupayakan sebagai berikut

(a) Penelitian memahami komposisi plastik, mengkarakterisasi plastik, melacak sumber dan tempat pembuangan plastik

(b) Penelitian memahami interaksi mikroplastik-lingkungan yang kompleks

(c) Menerapkan kebijakan pendekatan bioteknologi lingkungan berupa pengembangan, penggunaan, dan regulasi sistem biologi untuk pemulihan lingkungan yang terkontaminasi..

(d) Upaya mengurangi bahan limbah plastik di sumbernya, misalnya penggunaan kemasan yang bisa didaur ulang atau dibuat kompos

(e) Mencegah kebocoran mikroplastik dari fasilitas pengolahan limbah

(f) Meningkatkan penggunaan plastik yang dapat terurai secara hayati atau bersumber terbarukan.

Sebagai kesimpulan akhir Badan Perencanaan Pembangunan Nasional harus mendukung sepenuhnya Kementerian dan Lembaga tersebut:

(a) Melaksanakan penelitian terpadu dengan pendekatan sistematis dan inovatif dalam rangka meminimalkan kontaminasi mikroplastik

(b) Melaksanakan program pencegahan dan penanganan sampah plastik di laut secara nasional

(c) Melaksanakan program komunikasi, dan informasi dan edukasi untuk menyadarkan seluruh masyarakat berpartisipasi aktif dalam pencegahan dan penanganan sampah plastik di laut.

Oleh : Drh. Pudjiatmoko, Ph.D Medik Veteriner Ahli Utama pada Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini