21 Februari 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Pemuda Tani Membangun Negeri

Ilustrasi Petani Milenial Budidaya kubis di Kuningan | Sumber Foto:Istimewa

Sinar Tani, Jawa Tengah — Peringatan sumpah pemuda yang dilaksanakan setiap tanggal 28 Oktober selalu mengingatkan bangsa ini akan semangat para generasi muda dalam membangun bangsa. Bagaimana tidak, para pemuda dengan intelektual dan jiwa revolusioner sudah mengambil peran sejak persiapan kemerdekaan Republik Indonesia.

Makna sumpah pemuda bukan hanya historical saja, namun juga mengingatkan kita akan peran pemuda yang penting dan besar. Bahkan sampai sekarangpun dominasi pemuda di berbagai sektor sangat kental sekali.

Kementerian PPN/Bappenas memprediksi, pada tahun 2045 Indonesia akan mengalami bonus demografi, dimana komposisi usia produktif sejumlah 64% dari 300 juta jiwa atau total perkiraan jumlah penduduk Indonesia di tahun tersebut. Berdasarkan United Nation Population Fund (Organisasi Dunia untuk Populasi) bonus demografi adalah situasi dimana jumlah penduduk usia produktif yaitu usia antara 15-64 tahun lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk usia tidak produktif.

Dalam rangka mengahadapi hal tersebut, kita sebagai bangsa yang besar harus mempersiapkan sejak sekarang. Dimulai dari kualitas SDM dan lapangan pekerjaan, itu yang akan manjadi bekal utama berhasil tidaknya menghadapi bonus demografi kedepan.

Bahkan dari angggota G20, hanya ada 2 negara yang akan mengalami bonus demografi yaitu Indonesia dan Afrika Selatan. Tentu hal ini perlu menjadi perhatian khusus dan bagaimana kita harus mensikapinya.

Kualitas SDM harus dibangun sejak dini, pendidikan menjadi modal utama dalam peningkatan kualitas SDM. Pada era sekarang dengan pendidikan formal saja tidak cukup guna menghadapi tantangan zaman, bekal skill atau ketrampilan juga sangat dibutuhkan. Mencetak generasi penerus yang unggul memerlukan effort yang lebih, demi kemajuan bangsa.

Awal Kuscahyo Budi Nugroho, SP, M.Si

Isu ketenagakerjaan juga menjadi hal yang tak kalah penting, menilik data BPS penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama dari tahun 1986-2022 sejumlah 34 juta lebih. Sektor Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, dan Perikanan menempati urutan pertama dalam lapangan pekerjaan utama.

Lagi-lagi sektor pertanian adalah sektor yang strategis, disamping sebagai penyedia pangan juga penyerap tenaga kerja yang terbanyak dibandingkan sektor yang lain. Sektor ini berhasil bertahan dikala pandemi. Kedepan populasi pemuda yang semakin meningkat tentu membutuhkan lapangan kerja. Jumlah penduduk yang semakin bertambah pasti juga membutuhkan pangan.

Jika kita simpulkan sektor pertanian menjadi salah satu jawaban atas tantangan bonus demografi kedepan, sehingga sebagai Negara agraris kita dapat menghadapinya dengan optimis. Bappenas memprediksi Indonesia akan kehabisan petani  pada tahun 2063. Dari perspektif penyediaan pangan tentu ini menjadi ancaman bagi kita.

Harus diakui bahwa sebagai negara agraris sektor pertanian adalah sektor tumpuan. Sektor ini bertanggung jawab atas kelangsungan hidup 275 juta jiwa penduduk Indonesia. Kebutuhan memiliki rumah bisa ditunda, akan tetapi menyangkut urusan perut yaitu urusan pangan harus tersedia setiap waktu. Ini yang menjadi catatan penting. Kalau petaninya punah apakah kita akan bisa menjadi bangsa yang memiliki ketahanan pangan?

Pekerjaan Rumah/PR ini harus terselesaikan, karena pertanian tidak akan dapat berjalan tanpa ada subyek yaitu manusianya. Pertanian akan menjadi begini-begini saja ketika tidak ada perubahan yang signifikan, tidak ada strategi yang out of the box atau strategi yang berbeda dengan pada umumnya.

Guna mempertahankan predikat kita sebagai negara agraris, negara penghasil dan penyedia pangan bagi penduduknya, generasi muda adalah jawabannya. Dari mereka ide, gagasan, kreativitas, inovasi  muncul. Pemuda yang mau terjun di sektor pertanian diharapkan akan menyederhanakan hal-hal yang rumit, mengefisienkan yang tidak perlu dilakukan, mendatangkan keuntungan yang sebagian berpikir bahwa berusahatani itu banyak ruginya.

Karena masih ada yang selalu membutuhkan dan menunggu kontribusi nyata pemuda. Terlebih dengan dibarengi era digitalisasi, pertanian kedepan bukan lagi sebuah mata pencaharian yang syarat dengan berbecek-becek di lumpur, kepanasan, kehujanan, namun pertanian adalah sebuah pekerjaan yang bisa dikendalikan dengan teknologi dari manapun dan kapanpun.

Sekarang sudah mulai memasuki era digitalisasi pertanian, dimana Internet of Think (IoT), robot construction, artificial intelligence harus mulai diterapkan. Penggunaan teknologi seperti automatic tractor, smart green house dan drone sudah mulai lazim dilakukan guna mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Teknologi juga akan meningkatkan kualitas produk yang dibutuhkan, sehingga akan menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Platform online menjadi wajib dalam kehidupan masa kini dan masa depan nantinya. Seluruh aktivitas dari bangun tidur sampai dengan tidur lagi dikelilingi dengan digitalisasi.

Mulai dari makan bisa pesan online, belajar, meeting, kerja bisa melalui online, belanja kebutuhan juga sudah terbiasa melalui  toko online. Maka penyediaan pangan juga harus mengikuti sistem tersebut. Inilah sebuah peluang yang harus ditangkap oleh para pemuda yang tergolong kedalam Generasi Z atau generasi yang akrab dengan internet.

Pertanian tidak hanya sebuah usaha budidaya, tidak terbatas pada kegiatan tanam dan panen namun pertanian adalah sebuah bisnis dimana para pemuda bangsa dapat andil dalam sektor ini, menciptakan bisnis dibidang pertanian dan menularkan jiwa wiraswasta muda di bidang pertanian. Sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong hilirisasi maka sebuah sistem juga harus berubah, dan ini menuntut peran para pemuda didalamnya.

Jika dulu yang dikerjakan seorang petani hanya bagaimana memilih bibit unggul, mengolah tanah, memupuk, mengendalikan hama dan penyakit tanaman serta mengairi lahan maka paradigma hilirisasi pertanian adalah pertanian yang berorientasi kepada bisnis dan pasar, dan ini membutuhkan generasi muda yang secara Sumber daya manusia (SDM) diharapkan lebih maju dari para pendahulunya. SDM yang unggul akan menciptakan sebuah sistem agribisnis yang modern.

Selain hulu/on farm dan hilir/ off farm yang tidak kalah penting adalah non farm yaitu diluar masalah budidaya dan bisnis pertanian dimana menyangkut kesempatan yang diberikan bagi generasi penerus untuk menimba ilmu di sekolah dan perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu pertanian.

Untuk menarik minat mungkin dapat berupa pemberian beasiswa, sehingga dengan hal tersebut akan mengkader para pemuda untuk terjun di sektor pertanian meskipun tidak ada jaminan bahwa lulusan dari keduanya akan menjadi petani, namun dengan pengembangan kurikulum pertanian yang berorientasi ke agripreneur maka sedikit banyak akan merubah mindset generasi muda bahwa dari pertanian akan mendatangkan banyak pemasukan, akan mendatangkan bisnis-bisnis ikutannya seperti wisata pertanian/agrowisata, bahkan yang sekarang baru merebak yaitu agroeduwisata dimana konsep sebuah wisata pertanian yang dipadu dengan pendidikan kepada para pengunjung bagaimana cara memproduksi (tanam, membajak, panen).

Ini adalah peluang-peluang yang harus ditanamkan pada siswa/mahasiswa pertanian. Sehingga menekuni sektor pertanian itu bisa sukses, bisa kaya, bisa menjadi manager, bisa menjadi pengusaha, bisa menggerakan perekonomian dan inilah lapangan kerja yang akan berkontribusi nyata kepada bangsa. Dengan asupan ilmu dan contoh-contoh riil yang diberikan maka para lulusan SMK Pertanian, para Sarjana Pertanian akan bekerja sejalan dengan ilmu yang dipelajarinya, harapannya tentu juga bisa menciptakan lapangan kerja di sektor pertanian.

Pemerataan pembangunan menjadi agenda besar pemerintah. Upaya mencegah laju urbanisasi dan membangun desa sebagai kekuatan ekonomi nasional merupakan salah satu cara untuk mengurangi kesenjangan antara desa dan kota. Kota yang dicirikan banyaknya lapangan pekerjaan membuat para pemuda kepincut dan berkeinginan meninggalkan desa untuk mengadu nasib ke Kota. Padahal ketika kita melihat desa disana banyak sekali peluang untuk terciptanya lapangan kerja.

Dari sektor pertanian saja sudah bisa menghasilkan beberapa lapangan kerja, mulai dari tenaga kerja budidaya pertanian, pasa panen, pengolahan, pemasaran. Belum lagi sektor pendukungnya, jika di desa tersebut ada koperasi maka akan ada serapan tenaga kerja pada sektor tersebut. Desa yang kini juga menjadi tujuan wisata menjadi lebih strategis lagi dalam menggerakan perekonomian masyarakat. Jadi apalagi yang diragukan dari sebuah desa dalam penyediaan lapangan kerja?

Para anak muda yang ada di desa harus meyakini bahwa tempat mereka lahir, tempat mereka tumbuh bisa menjadi tempat mereka bekerja, berkarya untuk bangsa. Sebagai refleksi peringatan Hari sumpah pemuda tahun ini kita harus sadar bahwa hari ini kita butuh generasi yang bergerak, dinamis, tidak pasif, generasi yang bisa menciptakan perubahan.

Ditangan para pemuda bangsa ini akan menjadi digdaya. Predikat seorang pemuda harus menjadi sosok yang masih mau dan terus untuk belajar, melek dengan teknologi, karena yang dapat menguasai dunia adalah yang menguasai teknologi. Energi dan waktu juga merupakan modal seorang pemuda untuk tidak takut gagal, karena selalu ada tenaga dan kesempatan untuk terus mencoba.

Terkadang menjadi beda/unik dianggap aneh bagi segolongan orang, padahal sebenarnya justru itulah kreativitas. Anak muda harus berani melawan arus, bukankah menjadi seorang petani muda juga melawan arus ketika sebagian besar anak muda berbondong-bondong memperebutkan lapangan pekerjaan kantoran. Keluar dari zona nyaman itulah makna dari perubahan, karena tidak ada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri, yang nantinya juga akan tercipta kenyamanan baru.

Zaman akan terus selalu bergerak dan para anak muda akan menjadi motornya. Pemuda adalah soal semangat, masa depan adalah milik pemuda. Pemuda bukan harapan anda, bukan harapan saya tapi pemuda adalah harapan bangsa. Selamat memperingati hari sumpah pemuda.

Oleh: Awal Kuscahyo Budi Nugroho, SP, M.Si

Fungsional Penyuluh Pertanian Ahli Madya, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini