5 Maret 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Panen Padi di Lahan Rawa Pasut Tiada Henti

Sinar Tani, Banjarbaru — Lahan rawa memberikan peluang bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka melalui perjuangan segenap rakyat Indonesia pada 17 Agustus 1945 ini untuk menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045 berdasarkan visi dari Kementerian Pertanian.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) kini sudah berubah nama menjadi Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Kementerian Pertanian, sehingga Balittra pun berubah nama menjadi BPSIP Lahan Rawa.

Perubahan nama tentu berdampak pada perubahan tugas dan fungsi, namun tujuan akhir dari keberadaan kelembagaan ini tidak mengalami perubahan dan central pointnya pun tetap yaitu Petani sebagai pejuang pertanian dan tentu selalu berkolaborasi dengan ”Penyuluh Pertanian sebagai Sang Motivator” dalam pembangunan pertanian serta stakeholders terkait di lapangan.

Mata Pencaharian rakyat Indonesia tercinta ini pada umumnya adalah bertani, terutama yang berada di pedesaan. Banyaknya inovasi pertanian yang sudah dihasilkan Balitbangtan Kementerian Pertanian sebelum lembaga ini berubah nama menjadi BSIP Kementerian Pertanian telah diseminasikan sang motivator di semua wilayah NKRI dari sabang hingga merauke.

Selain itu juga terus diujicobakan petani di lapangan sampai saat ini berdasarkan karakteristik lahan dan karakteristik petani, agar teknologi inovatif yang digunakan bersifat spesifik lokasi tentunya.

Saalh satunya pada Minggu 19 Februari 2023, dilaksanakan panen padi unggul (rata-rata ± 7-8 ton/ha) yang ditumpang sarikan dengan tanaman jeruk Siam Banjar di Poktan Karya Makmur, Desa Karang Bunga, Kecamatan Mandastana, Kabupaten Batola seluas 46 hektar.

Desa Karang Bunga sendiri memiliki lahan rawa pasut tipe B seluas 360 hektar. Lahan rawa yang berada di Kabupaten Batola tersebut merupakan yang terluas di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, dibanding Kabupaten lain seperti Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Tapin. sehingga Kabupaten ini berprospek sebagai penyangga pangan (beras) untuk Kalimantan Selatan.

Kegiatan panen disesuaikan dengan kesepakatan petani di lokasi tersebut, sehingga pelaksanaan panen yang dihadiri oleh instansi terkait pun dilakukan pada hari yang poktan tersebut sepakati, yakni hari libur/bukan hari kerja bagi Aparatur Sipil Negara.

Proses ”Sentuh Hati Petani” yang dilaksanakan sang motivator/penyuluh pertanian selama ini rupanya sudah mampu juga menyentuh hati para stakeholders yang ada di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan.

Hal ini terlihat dari hadirnya semua undangan mulai dari Bupati Kab. Batola, Kepala Dinas TPH Prov. Kalsel, Kepala BSIP Kementerian Pertanian (BPSIP Lahan Rawa dan BPSIP Kalsel), Kepala Dinas TPH Kab. Batola beserta staf, Kepala Bulog Prov. Kalsel, Kepala BUMD Prov. Kalsel, PT. Bangun Banua, Kepala Dinas Koperindag Kab. Batola, kepala Porkopimcam Kab. Batola dan Kepala BPS Kab. Batola, semua kepala BPP di Kab. Batola, Penyuluh pertanian, POPT disamping pengurus gapoktan dan semua pengurus serta angota poktan  Karya Makmur.

Baca Juga :   HARI TANI 2022 & REGENERASI PETANI

Kesimpulan yang diperoleh setelah diskusi antara lain bahwa hasil panen padi seluas 46 hektar akan dibeli PT Bangun Banua langsung ditempat panen dengan harga jual yg sudah disepakati bersama  dengan poktan Karya  Makmur.  Melihat kondisi seperti ini bagi penulis, cahaya untuk melangkah menuju pertanian maju, mandiri dan modern itu sudah mulai terlihat.

Selalu ada panen dan panen di lahan rawa pasut Kalimantan Selatan. Yang sebelumnya petani hanya satu kali panen, sekarang sudah dua kali panen.

Disamping itu, dengan penerapan teknologi Raisa yang mampu memperpendek umur panen padi lokal yang selama ini ± 8 bulan hingga menjadi 3-4 bulan, maka peluang peningkatan produksi menjadi lebih tinggi, karena petani bisa melakukan penanaman dengan IP2 bahkan IP3 atau lebih terutama saat ini harga jual beras petani sedang menguntungkan.

Luasnya lahan rawa yang ada di Negara Indonesia seperti di pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi hingga pulau Papua bukankah itu merupakan modal yang bisa membuat negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini menjadi lumbung Pangan Dunia di Tahun 2045.

Seperti diungkapkan Agus Hasbianto, Ph.D, munculnya  BPSIP Lahan Rawa dengan salah satu fungsi barunya yakni melakukan pengujian instrumen pertanian lahan rawa menjadi berstandar sesuai dengan program yang diusung BSIP Kementerian Pertanian yaitu AgroStandar.

Sementara itu Koordinator Perencanaan Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Kementerian Pertanian, Dr. Sri Asih  mengatakan Lembaga BSIP Kementerian Pertanian akan menjadikan hasil pertanian kita ke depan menjadi lebih mampu bersaing secara kompetitif dan komparatif karena sudah berstandar, dimana dalam prosesnya BSIP Kementerian Pertanian selalu ada di setiap lini mulai dari hulu sampai hilir dan tentu berkolaborasi dengan stakeholders terkait,

 

Oleh : Ir. Sri Hartati, MP/ PP. Madya Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Kementerian Pertanian

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini