25 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Manfaatkan Fasum, KWT Lotus 20 Berhidroponik

Anggota KWT Lotus 20 di lokasi penanaman hidroponik | Sumber Foto:Budi

Sinar Tani, Bogor—Selain mendorong terciptanya kemandirian pangan, bertani hidroponik ternyata juga bisa membangun kebersamaan dan kerukunan masyarakat. Pastinya manambah kocek keluarga. itulah yang dirasakan emak-emak yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Lotus 20 di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Bagi Alfiyatul Maisaroh dan 25 orang anggota KWT Lotus 20 bertani sayur hidrponik merupakan hal yang baru. Bahkan memberikan pengalaman luar biasa bagi ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompo Wanita Tani di Kota Bekasi, Jawa Barat. Apalagi ini mereka bisa menikmati sayur sehat dari hasil bertanam sendiri.

Alfi sapaan akrab Ketua KWT Lostus 20 mengakui, lewat bertani hidroponik, ibu-ibu di KWT Lotus 20 bisa menikmati sayuran sehat, meningkatkan perekonomian hingga terciptanya kerukunan antar masyarakat.  Dibentuk pada awal Desember 2022, KWT Lotus 20 yang berada di RW 20, Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi ini memanfaatkan lahan fasum untuk membuat pertanian hidroponik.

Dengan bimbingan penyuluh pertanian dari Dinas Ketahanan pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Bekasi serta praktisi hidroponik dari P4S Maura Farm, KWT Lotus 20 membuat pertanian hidroponik sederhana yang dipadukan dengan budidaya perikanan air tawar. Kaum emak-emak itu mendapat bimbingan dari Dinas Pertanian dan praktisi hidroponik Maura Farm, bagaimana cara membuka lahan, menyemai, menanam hingga membuat pestisida nabati.

“Saat ini  dari 600 lubang tanam, KWT Lotus 20 sudah bisa menikmati hasilnya. Kita sudah  2 kali panen kangkong, yang pertama sebanyak 7 kg dan ke 2 sebanyak 9 kg. Hasil panen ini di beli oleh anggota dan masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Selain produk segar, KWT Lotus 20 juga membuat produk olahan dari sayur hidroponik seperti glass cake pakcoy, es krim pakcoy dan akan membuat keripik kangkong. Glass cake dijual dengan harga Rp 10 ribu dan untuk sayur kangkung dengan harga Rp 5 ribu/pack 250 gram. “Hasil dari penjualan dapat membantu operasional KWT,” ujar Alfi.

Meski baru seumur jagung, namun Alfi berharap KWT Lotus 20 dapat terus berkembang dengan menanam berbagai varian sayur hidrponik. Kegiatan yang dilakukan juga bisa memberikan contoh bagi masyarakat lain untuk bisa memanfaatkan lahan agar tercipta kemandirian pangan.

Pertanian Kota

Sementara itu Penyuluh Pertanian Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Bekasi, Susi Silpanah Sumendap mengatakan, penyuluh pertanian bersama praktisi hidroponik P4S Maura Farm selalu mendampingi KWT Lotus 20 dalam melakukan kegiatan pertanian. “Setiap Jumat pagi kami adakan pertemuan rutin, selain itu ketika ada kegiatan panen atau ada kendala hama kami akan datang, kalau tidak bisa kita komuikasi melalui whatsapp,” ujarnya.

Baca Juga :   DKPKP DKI Jakarta Latih Pengurus Pesantren Ber-Urban Farming

Kegiatan pertanian perkotaan memang menjadi salah satu program dari Pemkot Bekasi. Karena itu pemerintah kota sangat mendukung keberlangsungan kegiatan tersebut. Bukan hanya dalam hal teknis, dukungan juga diberikan dalam hal perizinan produk dan usaha hingga pemasaran.

Praktisi hidroponik P4S Maura Farm, Agus Suryono yang mendampingi KWT Lotus 20 mengaku pertanian hidroponik menjadi salah satu kegiatan yang saat ini sedang digencarkan di Kota Bekasi. Dengan keterbatasan lahan, pertanian hidroponik bisa menjadi salah satu solusi menciptakan ketahanan pangan masyrakat.

Agus mengakui, setiap sistem dalam hidroponik memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Seperti sistem tanpa green house yang diterapkan pada KWT Lotus 20, memiliki kelebihan pada kualitas sayur yang dihasilkan lebih baik dan masa panen yang lebih cepat dibandingkan yang menggunakan green house karena sayur akan mendapatkan sinar matahari maksimal.

“Selain itu masa panen yang lebih cepat beberapa hari dan tentunya biaya modal awal yang dikeluarkan juga jauh lebih murah,” jelasnya. Namun lanjut Agus, ada juga kekurangan dengan hidroponik tanpa green house yaitu resiko terserang hama yang lebih tinggi, sehingga diperlukan kerja ekstra, terutama ketika musim hujan tiba .

Untuk mencegah serangan hama, P4S Maura Farm rutin melakukan penyemprotan pestisida nabati. “Ketika musim hujan kami melakukan penyemprotan setiap hari. Selain itu juga agar nutrisi tidak tercampur dengan air hujan, yang kami lakukan adalah mematikan pompa dan  membuang air hujan yang tertahan di instalasi, sehingga nutrisi di dalam tandon tetap terjaga,” tuturnya.

Bagi yang baru memulai hidroponik, Agus mengatakan kuncinya adalah mau belajar  dan semangat.  Dirinya melihat, kebanyakan bagi yang baru mulai berhidroponik mudah menyerah bila menemui kendala. “Saran saya ikut komunitas yang ada dan jangan malu bertanya pada ahlinya. Selain menambah teman komunitas juga akan menambah pengetahuan tentang hidroponik,” ungkapnya.

Epaper Sinar Tani ?? Klik Disini

Reporter : Wawan/Herman

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini