16 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Meski Pahit, Sejuta Manfaat Tersimpan dari “King of Bitter”

Daun sambiloto | Sumber Foto:Istimewa

Sinar Tani, Bogor — “King of bitter” (raja pahit) istilah ini terkenal di dunia, sesuai dengan julukannya memang rasanya luar biasa pahit dan khasiatnya juga yang begitu banyak. Di Indonesia dikenal dengan nama Sambiloto.

Tanaman sambiloto (Andrographis paniculata) merupakan sejenis tanaman herba termasuk famili Acanthaceae yang banyak digunakan dan diyakini masyarakat Indonesia mempunyai banyak khasiat dan manfaat. Namun di negara-negara maju penggunaan sambiloto sudah berkembang sebagai bahan baku obat.

Senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman sambiloto yaitu laktone yang terdiri dari deoksi andrografolid, andrografolid, flavonoid, alkane, keton, aldehid, mineral (kalium, kalsium, natrium), asam kersik, dan dammar.

Senyawa utama yang dihasilkan tanaman sambiloto adalah Andrografolid. Senyawa Andrografolid tersebut bermanfaat dalam mengatasi berbagai penyakit antara lain terhadap sel kanker dan antitumor, antihepatoprotektif, antiinflamasi, antioksidan, antidiabetes (menurunkan gula darah), antimalaria, dan antimikrob (antibakteri, antifungi, dan antiviral).

Hal tersebut disebabkan adanya senyawa-senyawa turunan dari Androgropholide seperti deoxyandrographolide, andrographolide, neoandrographolide, 14-deoxy-11, 12-didehydroandrographolide.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak sambiloto merupakan alternatif dalam menyembuhkan infeksi bagian atas saluran pernafasan tanpa komplikasi.

Senyawa andrographolide tersebut terdapat di dalam bagian atas jaringan tanaman yaitu daun, batang, bunga, dan kandungan tertinggi terdapat pada daun. Senyawa andrographolide tinggi juga bisa dihasilkan, jika sambiloto ditanam dalam kondisi terbuka.

Sambilto juga telah terbukti dapat mengatasi penyakit liver yang disebabkan virus hepatitis. Selain itu juga memiliki aktivitas antivirus HIV, bakteri anti-patogenik dan immunoregulator (immunostimulatory).

Jika dilihat dari khasiatnya dapat mengatasi beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus, mengatur dan memacu daya tahan tubuh maka tidak menutup kemungkinan juga berpotensi dan berkhasiat dalam mencegah virus Covid-19. Apakah hal tersebut demikian? Kita tunggu penelitian lebih lanjut.

Tidak hanya sambiloto tapi masih banyak tanaman-tanaman lain yang berpotensi sebagai bahan baku obat untuk penyakit-penyakit lain. Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai biodiversity terbesar di dunia, sehingga potensi sangat besar untuk penemuan-penemuan bahan baku obat alam.

Baca Juga :   Khasiat Alami Daun Sukun

Tanam Sambiloto

Umumnya masyarakat memperoleh tanaman sambiloto yang tumbuh liar. Namun hal tersebut kurang baik karena produksi dan mutunya rendah dan tidak stabil. Dengan demikian perlu dibudidayakan dengan untuk menghasilkan produk yang terstandar.

Budidaya sambiloto tidak memerlukan lahan yang luas, pada lahan yang sempit atau di pekarangan rumah pun bisa dilakukan dengan menanam di dalam pot.

Perbanyakan tanaman ini dapat melalui biji atau setek. Lingkungan tumbuh cukup luas yaitu dari dataran rendah hingga menengah, kisaran ketinggian tempat 1-700 m dpl. Selama pertumbuhan tanaman sambiloto menghendaki banyak sinar matahari.

Tanaman sambiloto cukup cepat berproduksi, memerlukan waktu dari tanam hingga panen berikisar 2,5 – 4 bulan tergantung iklim. Jika ditanam pada saat iklim kering atau musim kemarau maka tanaman akan cepat berbunga, sehingga perlu segera dipanen.

Tetapi bila ditanam musim hujan maka akan lambat berbunga dan lebih banyak pertumbuhan daun. Namun demikian tanaman ini masih toleran tumbuh dan berproduksi kondisi pada ternaungi maksimal 30%. Jika budidaya dilakukan dengan kondisi naungan diatas 30 persen, maka mutunya cenderung menurun.

Ciri tanaman sambiloto untuk siap dipanen yaitu ditandai dengan akan munculnya bunga atau sebelum bunga mekar (awal inisiasi bunga). Hal tersebut disebabkan pada kondisi tersebut daun masih tumbuh dengan baik sehingga produksi optimal dan kandungan Andrographolidnya cukup tinggi.

Jika tanaman sudah muncul bunga (bunga mekar semua) maka daun akan mengecil. Dampaknya rasio antara batang dan daun akan lebih besar artinya lebih banyak batang daripada daun (produksi daun dan mutu rendah). Demikian juga bila dipanen lebih muda, yaitu sebelum terbentuk inisiasi bunga.

Reporter : Gusmaini
Sumber : Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini