14 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Dongkrak Wibawa Bawang Putih Dalam Negeri

Bawang Putih Lokal

Sinar Tani. Semarang — Bawang putih memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan di dalam negeri. Permintaan yang besar pada komoditas ini tidak dibarengi dengan kesiapan produksi para petani, alhasil sebagain besar pasokan didatangkan dari luar negeri.    

Angka konsumsi bawang putih tercatat lebih tinggi dari produksinya, sehingga diperkirakan akan terjadi defisit. Pada 2021, defisit bawang putih diproyeksikan sebesar 408,02 ribu ton. Pada 2022 defisit bawang putih berkurang menjadi 398,15 ribu ton. Kemudian pada 2023 dan 2024 defisit kembali meningkat menjadi 405,20 ribu ton dan 411,44 ribu ton (data boks).

Kementan mencatat, produksi bawang putih yang rendah dapat dipenuhi melalui impor dari beberapa negara seperti Tiongkok, India, Taiwan dan Amerika Serikat. Kendati demikian, impor bawang putih yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun pun tidak menjamin harga menjadi lebih murah, bahkan disinyalir bahwa komoditas ini akan menjadi salah satu penyebab inflasi.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggenjot peningkatan produksi bawang putih dalam negeri. Dengan keragaan dan mutu umbi yang bersaing dengan bawang putih import.

Provinsi dengan produksi bawang putih tertinggi adalah Jawa Tengah yang mencapai 25,55 ribu ton dengan luas panen 3,88 ribu hektare atau 56,65% dari total produksi nasional pada tahun lalu.

Nusa Tenggara Barat menempati posisi kedua yang berkontribusi sebesar 20,45% dengan produksi mencapai 9,22 ribu ton dan luas panen 1,05 ribu hektare. Sementara itu, Jawa Timur berkontribusi sebesar 9,36% dengan produksi mencapai 4,22 ribu ton dan luas panen 812 hektare pada tahun lalu. Menurut data BPS, provinsi penyumbang terbesar produksi bawang putih nasional itupun terjadi tren penurunan luas tanam, produksi dan provitas.

Apa yang terjadi di Jawa Tengah?

Menurut Kabid Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Ir. Ani Mulyani, tren penurunan tersebut dikarekan dibeberapa kabupaten petani bawang putih sedang enggan menanam bawang putih. . Penyebabnya adalah rendahnya harga jual bawang putih, serta tiadanya jaminan pasar.

Dipasar lokal keberadaan bawang putih lokal kalah bersaing dengan bawang putih  impor. Mereka lebih unggul karena harga lebih murah serta keragaan umbi yang lebih menarik. Lambat laun terbentuk sentimen negatif terhadap bawang putih lokal,  umbi kecil-kecil.

Sementara itu petani bawang putih yang masih bertahan, mendapat dukungan dan dorongan dari pemerintah agar semakin hari usaha tani mereka semakin efisien dan semakin tinggi produkvitas dan produksinya.

“Di kabupaten Temanggung petani bawang putih lebih survive “ kata Ani Muyani.

Ani menambahkan, hal tersebut terjadi karena petani Temanggung lebih berpengalaman dalam budidaya bawang putih. Juga mereka telah lincah menjalin kemitraan dengan para importir. Petani bawang putih mendapat dukungan biaya dan jaminan pemasaran, para importir dapat memenuhi wajib tanam bawang putih.

Dalam hal ini pemerintah terus mendorong pengembangan bawang putih di Jawa Tengah, melalui kegiatan-kegiatan APBN dan APBD.

“Bawang putih di Jawa Tengah masih mungkin untuk di kembangkan lagi. Masih banyak daerah-daerah pertanian di Jawa Tengah, mempunyai agro ekologi yang cocok untuk ditanami bawang putih, disamping daerah-daerah yang dari dulu merupakan sentra bawang putih,” ujarnya.

Baca Juga :   Impala Agrihorti dan Tara Agrihorti, Varietas Unggulan Baru Balithi Kementan

Pernyataan Kabid Hortikultura, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah tersebut sejalan dengan  Kepala BPTP Jawa Tengah, Arif Surahman, SPi, MSc, PhD.  Menurutnya, peluang tanaman bawang putih masih terbuka lebar dikembangkan di Jawa Tengah.

Ia juga menampik pendapat bahwa tanaman bawang putih tidak akan pernah bagus disini, yang nota bene adalah daerah tropis. Mengingat habitat asal tanaman bawang putih adalah dari daerah sub tropis.

“ Bawang putih dapat tumbuh baik disini, walaupun daerah tropis, karena bawang putih sudah lama di budidayakan disini, secara alamiah mereka akan bermutasi, menyesuaikan diri dengan lingkungan.” Tegasnya,

Bahkan, menurut Arif, dengan perlakuan yang baik, dengan teknologi “Proliga” (Produksi Lipat Ganda) bawang putih dilembaga penelitian telah sanggup mencapai provitas yang tinggi, mencapai 20 ton/Ha, tidak beda jauh dari provitas di daerah sub tropis.

“Hanya masalahnya adalah bagaimana agar budidaya bawang putih dapat dilakukan secara efisien. Sehingga dapat menekan biaya serta BEP usaha tani. Dengan penggunaan benih unggul, mekanisasi dan modernisasi pertanian, bentuk korporasi  serta managemen yang baik ,  efisiensi juga bukan hal yang mustahil untuk dicapai,” ungkap Arif Surahman PhD , ketika bersama-sama seluruh jajaran BPTP mendukung acara Pemecahan Rekor Muri Nguleg Bareng Sambal Bawang Putih Nusantara, pada 2 Desember 2022 lalu.

Dalam kegiatan tersebut telah dipecahkan Rekor Muri  “Nguleg Bareng Sambal Bawang Putih Nusantara” yang  dilakukan di delapan provinsi. Jumlah total 7.659 cobek se-Indonesia. Tersebar di 42 titik. Yakni di wilayah Jateng, Jatim, Jabar, DIY, Lombok Timur, Nusa Tenggara, Jambi dan DKI.

Di Jawa Tengah sendiri acara Nguleg tersebut di selenggarakan di daerah sentra bawang putih yaitu di kabupaten, Temanggung, Magelang, Wonosobo, Kendal, Batang dan Tegal.

Di Magelang dan Temanggung acara ini berlangsung sangat meriah,  ada 600 warga Kabupaten Magelang yang mengikuti pemecahan rekor Muri tersebut tersebar di empat lokasi. Yakni, Dusun Karanganyar, Desa Sutopati, Kecamatan Kajoran. Di Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Desa Adipuro  Kecamatan Kaliangkrik dan Desa Mangli  Kecamatan Kaliangkrik.

Di Temanggung acara Nguleg di lapangan Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, hadir pula Bupati Temanggung HM. Al Khadziq bersama Ketua TP PKK Eni Maulani Saragih, mengikuti kegiatan ngulek sambal bawang putih.

Bahkan acara menjadi makin heboh ketika undian doorprice berupa seekor sapi ternyata dimenangkan oleh salah satu peserta Nguleg dari Temanggung.

Menurut Arif  Surahmanacara pemecahan Rekor Nguleg Sambal Bawang ini adalah upaya pemerintah untuk mengangkat Kembali derajat bawang putih lokal. Yang sementara ini terdesak oleh kebaradaan bawang putih import.

Keunggulan rasa dan aroma bawang putih lokal diharapkan memunculkan Kembali memori bawah sadar masyarakat. Agar Kembali mencintai atau militansi akan bawang putih lokal. Dengan kerja bareng, antara Lembaga penelitian, Penyuluh dan Stake hoder yang harmonis, tujuan tersebut tentu akan tercapai.

Reporter : Djoko W

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini