14 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Segarnya Potensi Buah Nusantara

Webinar Buah yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani | Sumber Foto:Sinta

Sinar Tani, Jakarta—Buah menjadi komoditas yang mempunyai peluang pasar cukup baik. Bukan hanya pasar lokal, tapi juga di mancanegara. Sayangnya produksi buah di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pemerintah pun terus mendorong peningkatan produksi buah dalam negeri. Apalagi banyak buah nusantara yang eksotik dan tidak banyak berkembang di luar negeri. Sebut saja, salak dan manggis yang menjadi primadona buah ekspor Indonesia.

Direktur Buah dan Florikultura, Ditjen Hortikultura, Liferdi Lukman mengatakan, dari data produksi buah dalam negeri terus meningkat, namun belum bisa mencukupi kebutuhan. Produki buah saat ini sekitar 26,5 juta ton mengalami peningkatan 6-7 persen pertahun.

“Sisi produksi meningkat, tapi belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri,” kata Liferdi saat Webinar Bimtek; Segarnya Buah dari Pekarangan hingga Agrowisata yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (5/10).

Meski belum mencukupi kebutuhan dalam negeri, menurut Liferdi beberapa buah nusantara sudah ada yang menembus pasar ekspor seperti manggis sekitar 300 ton, mangga 2,8 juta ton, durian 1,35 juta ton, pisang 8,7 juta ton dan nanas 2,88 juta ton.

“Ini potensi buah yang bisa kita ekspor. Tapi jika dilihat dari sisi produksi buah sebanyak 26 juta ton dan ekspor hanya 52,4 ribu ton masih sangat sedikit hanya 0,19 persen,” ujarnya.

Namun diakui, akibat dampak pandemi Covid-19, ekspor buah sejak 2017 dari sisi volume mengalami penurunan. Banyak pelaku usaha terkendala kontainer.”Tapi dari sisi nilai mengalami peningkatan, karena kurs rupiah naik,” katanya.

Sedangkan melihat produksi buah yang menjadi substitusi impor, Liferdi mengatakan, produk jeruk sebanyak 2,5 juta ton, lengkeng 90 ribu ton, semangka 414 ribu ton dan melon 129 ribu ton. “Melihat perbandingan konsumsi, produksi dan ekspor buah membuat kita harus optimis untuk meningkatkan produksi,” kata Liferdi.

Sementara itu dari sisi konsumsi, Liferdi juga mengakui, konsumsi buah masyarakat Indonesia terbilang masih rendah. Data BPS menyebutkan hanya 36,35 kg/kapita tahun. Padahal standar FAO mencapai 73 kg/kapita /tahun. “Idealnya konsumsi sesuai standar FAO. Karena itu solusi,” ujarnya.

Karena itu untuk mendorong peningkatan produksi buah, Liferdi menjelaskan, pemerintah telah merumuskan kebijakan peningakan daya saing melalui peningkatan produksi, produktivitas, meningkatkan akses pasar logistik yang didukung pertanian yang ramah lingkungan. “Strategi adalah pengembangan kampung buah dan pengembangan UMKM di kampung buah dan sistem digitalisasi,” katanya.

Skala Prioritas

Liferdi  mengungkapkan kegiatan pembangunan hortikultura. Pada tahun 2022, pemerintah telah membuat skala prioritas. Untuk kegiatan super prioritas dengan pengembangan kawasan buah dalam skala luas (food estate) yakni di Temanggung , Wonosobo, Garaut dan Gresik) dan korporasi petani buah (Tanggamus, Subang, Sleman, Sumedang dan Poliwali Mandar). “Presiden sudah melaunching food estate berbasis buah di Gresik seluas 1.000 ha. Kita coba mulai mengembangkan buah skala luas, dari hulu hingg hilir,” katanya.

Baca Juga :   Kendalikan Inflasi Pangan, Perwakilan BI Pematang Sinantar Dorong Urban Farming

Selain itu, lanjut Liferdi, pihaknya juga mendorong tumbuhnya korporasi petani buah yang merupakan badan usaha dibentuk dari, oleh dan untuk petani.  Ditjen Hortikultura menargetkan hingga 2024 akan ada 20-30 kawasan buah yang harus dikorporasikan.

Salah satu contoh yang sudah berhasil di Tanggamus yang awalnya 4 ha kini ada 400 ha yang bekerjasama dengan offtaker. “Pola seperti ini akan ada kepastian pasar bagi petani. Sedangkan offatker juga ada kepastian pasokan, bahkan mereka juga tidak perlu investasi tenaga kerja dan lahan, karena sudha bekerjasama dengan petani,” tuturnya.

Kegiatan lainnya adalah Kampung Hortikultura (sayuran, buah, tanaman obat dan florikultura). “Selama ini kawasan belum skala ekonomi sehingga tidak efektif dan biayanya tinggi, sehingga tidak menarik bagi eksportir. Sekarang dengan produksi terkonsentrasi pada satu desa jauh lebih efisien,” ujarnya.

Data Ditjen Hortikultura, pada tahun 2021 sudha terbentuk 862 kampung buah dengan luas lahan 8.105 ha. Sedangkan tahun 2022 sebanyak 766 kampung buah dan luasanya 8.085 ha. Jenis buahnya, mangga, manggis, lengkeng, jeruk, pisang, alpukat dan durian.

“Di kampung buah ini ada ikutan program berikutnya. Seperti pengendalian OPT, klinik PHT, gerdal dan penangana DPI,” katanya.

Dalam program ini, pemerintah memberikan bantuan benih bermutu, saprodi (pupuk organik, anorganik, kaptan, dll), pengendali organisme pengganggu tanaman ramah lingkungan, sarana dan prasarana pascapanen, serta pengolahan. Selain itu, registrasi kampung dan sertifikasi produk.

Liferdi mengatakan, di sentra produksi tersebut akan didorong terbentuknya UMKM hortikultura. Tahun ini targetnya sebanyak 220 UMKM agar dari produksi yang dihasilkan petani bisa meningkatakn nilai tambah. Misalnya, untuk buah grade A dan B akan didorong untuk komoditas ekspor atau masuk pasar modern.

“Untuk grade C akan dibuat produk olahan, sehingga bisa meningkatkan nilai tambah. Sedangkan grade D bisa dibuat menjadi pupuk dan pakan tenak. Ini yang kita tumbuhkan di Kampung Buah,” tuturnya.

Salah satu komoditas buah yang kini banyak diusahakan masyarakat adalah alpukat dan anggur. Alpukat bagi H. Zekky Bachri sudah menjadi bisnis yang menggiurkan. Bahkan ia kini mengembangkan beberapa jenis alpukat di berbagai tempat, dari mulai alpukat dataran rendah hingga tinggi seperti Ciapus dan Garut.

Sementara itu meski anggur bukan tanaman asli Indonesia, tapi kini mulai banyak masyarakat membudidayakan, meski masih dalam skala di pekarangan. Seperti Andi Sugiri yang tinggal di Bogor dan Tosan Ajie yang membudiayakan anggur di Bandung. Namun bagi penggiat anggur, buah tersebut mempunyai peluang pasar yang cukup menggiurkan.

Beberapa teknik budidaya alpukat dan anggur disampaikan dalam webinar Tabloid Sinar Tani. Seperti apa? tonton disiaran SINTATV. Bagi sahabat Sinar Tani, yang sudah mengikuti webinar bisa mendapatkan e sertifikat dan meteri di link bawah ini.

Link Materi : Klik Disini !!!

Link E Sertifikat: Klik Disini !!!

Cari Sertifikat Dari Nomor Sertifikat : Klik Disini !!!

Reporter : Julian

 

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini