5 Maret 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Harga Stagnan, Petani Karet Labusel Beralih Ke Sawit

Sinar Tani, Labuhanbatu Selatan — Harga karet alam yang stagnan bahkan cenderung turun membuat petani karet di sentrerkebunana p karet putus asa. Banyak diantara mereka yang menjual alahan karetnya atau beralih ke tanaman sawit yang memiliki prospek lebih menjanjikan.

Harga karet alam di sentra perkebunan karet Sumatra Utara seperti Kabupaten Labuhanbatu Selatan di awal tahun 2023 berada di kisaran Rp 5600 – 8200/kg.

Petani Karet Desa ulumahuam, Kecamatan Silangkatan, Eryk mengatakan harga tersebut sudah lama dialami petani karet di Kabupaten Labuhanbatu Raya yang meliputi Labuhan Batu, Labuhanbatu Utara dan Labuhanbatu Selatan.

“Petani karet sempat menikmati yang harga terbaik beberapa tahun yang lalu. Akibat dari ketiadaan perbaikan harga karet sampai saat ini, maka petani karet telah menjual lahannya dan berubah fungsi menjadi tanaman sawit,” ungkapnya.

Putus asa juga dirasakan pekerja kebun karet seluas 4 ha, di Desa Sabungan, Kecamatan Sei Kanan, Siregar. Pria yang sudah bekerja selama 10 tahun ini hanya bisa berharap dari bagi hasil dengan pemilik kebun.

“Bila harga baik maka juga pendapatannya baik.  Tetapi saat ini upahnya tidak memadai, jadi untuk menghidupi keluarga, saya mencari pekerjaan lain di kebun sawit.” ujarnya.

Terkait hal tersebut, Tabloid Sinar Tani mencoba berdiskusi dengan wakil ketua DPRD Labuhanbatu Selatan, Syahdian Purba SH.yang juga Ketua KTNA Labuhanbatu Selatan.

Di kantor KTNA dusun Kandang Motor Cikampak, Kec. Torgamba, Syahdian menyampaikan bahwa tidak terjadi kenaikan harga karet alam rakyat karena permintaan kebutuhan karet alam juga terus menurun.

“Bila pasokan terus melimpah sedangkan permintaan sedikit, maka hal ini akan membuat harga karet menurun,” ungkapnya.

Lebih lanjut Syahdian menyampaikan adanya persaingan dagang antara negara konsumen juga mempengaruhi hal tersebut.

Baca Juga :   Kembalikan Kejayaan Kakao, Pemprov Sulsel Bangun Kawasan Komoditi Kakao Sinjai

“Imbas dari pada ini maka petani karet merasakan dampaknya berkelanjutan. Maka pemerintah diminta mengkaji lebih dalam dalam hal ini,” pungkasnya.

Reporter : Suriady

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini