14 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Perkuat SDM POPT, Kawal Produksi dan Produktivitas Perkebunan

Rapat Koordinasi Perlindungan Perkebunan 2022

Sinar Tani, Bandung — Fenomena dampak perubahan iklim yang semakin masif dan berubahnya cara budidaya tanaman dari masa ke masa mendorong perkembangan OPT semakin fluktuatif dan sulit diprediksi, sehingga memicu munculnya “emerging pest”.

Lebih dari itu, keadaan tersebut seringkali menyebabkan terjadinya resurjensi OPT, yaitu peningkatan populasi yang sangat drastis dalam waktu cepat. Salah satu cara yang paling efektif untuk mencegah permasalahan tersebut adalah dengan melakukan pengamatan dinamika populasi OPT secara intensif.

Namun, berkurangnya SDM pengamat hama dan POPT baik di lingkup instansi pusat maupun daerah ternyata menjadi masalah baru yang menghambat optimalisasi laporan data pengamatan OPT.

Menyikapi hal tersebut, Direktorat Perlindungan Perkebunan menginisiasi pertemuan Koordinasi Perlindungan Perkebunan secara hybrid di Hotel Mercure-Nexa, Bandung 5-7 Desember 2022.

Acara yang dibuka Direktur Jenderal Perkebunan, dihadiri oleh perwakilan BBPPTP Ambon, BBPPTP Surabaya, BBPPTP Medan, BPTP Pontianak, serta Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota yang menangani Perkebunan.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alamsyah menyampaikan arahan untuk memprioritaskan program pengembangan kawasan desa organik dan program inovatif lainnya, serta mengawal sumber benih unggulan bebas OPT.

“Program-program tersebut perlu difasilitasi dan disertai alur kegiatan (roadmap) yang jelas agar lebih terarah dan bernilai tambah untuk devisa negara,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama Direktur Perlindungan Perkebunan memberi arahan kepada para Kepala Dinas Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk memperkuat SDM POPT agar kegiatan-kegiatan perlindungan perkebunan dilaksanakan dengan baik dan bertanggungjawab sehingga dapat mengawal produksi dan produktivitas perkebunan.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber antara lain Prof. Dr. Susamto Somowiyarjo (Guru Besar Fitopatologi UGM), Dr. Agus Susanto (Kepala Pusat Penelitian Teh dan Kina), Dr. Antarjo Dikin (Analis Perkarantinaan Tumbuhan Ahli Utama Badan Karantina Pertanian), Dr. Rr. Setyowati Retno Djiwanti (Peneliti Madya BRIN), dan Dr. Aris Pramudya (Peneliti Madya BRIN).

Baca Juga :   Dorong Hilirisasi Sawit Rakyat Untuk Peningkatan Ekonomi Regional

Paparan menarik terkait perlindungan perkebunan dari para narasumber turut mewarnai pertemuan ini antara lain mengenai Emerging Pathogens: Penyakit Batik pada Tanaman Kakao disampaikan oleh Prof. Dr. Susamto Somowiyarjo. Inovasi Terkini Pengelolaan Penyakit Ganoderma di Perkebunan Kelapa Sawit yang disampaikan Dr. Agus Susanto/

Sementara itu Dr. Antarjo Dikin menyampaikan paparan terkait Prospek Perkebunan Organik Solusi Ekspor Masa Depan. Dr. Setyowati Retno Djiwanti menyampaikan  Pengendalian Efektif Penyebaran Penyakit pada Tanaman Lada, serta materi tetang  Rekomendasi, Langkah Strategis, dan Antisipasi Dampak La Nina di Perkebunan yang disampaikan Dr. Aris Pramudya.

Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari hasil pertemuan antara lain program-program perlindungan perkebunan yang bernilai tambah dan berdaya saing akan lebih diprioritaskan. Pengawalan perkebunan dari ancaman serangan OPT dan gangguan abiotik lainnya dapat dipererat melalui solidaritas dan sinergisme antara Direktorat Perlindungan Perkebunan dengan dinas dan sektor swasta yang membidangi perkebunan secara bersama-sama.

Keberadaan emerging pathogen (penyakit batik pada tanaman kakao) dan potensi resurjensi OPT perkebunan lainnya di tengah perubahan iklim perlu diwaspadai dan diantisipasi agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar. Perlindungan komoditas pascapanen perkebunan dari serangan OPT dan ancaman residu zat kimia juga perlu diprioritaskan untuk menekan kerugian negara akibat penolakan komoditi ekspor perkebunan.

Pertemuan koordinasi ini menghasilkan kesepahaman dan persepsi yang sama antara Direktorat Perlindungan Perkebunan dengan Dinas Provinsi, Kabupaten/Kota yang membidangi Perkebunan.

Reporter : Esther M. Silitonga/Cecep Subarjah/Nilam Sari Sardjono/ Akhmad Faisal Malik

 

 

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini