22 Mei 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Memasifkan Padi Nutrizinc

Sinar Tani, Jakarta – Kandungan mineral zinc (Zn) pada Inpari Nutri Zinc sudah terbukti tinggi dibandingkan jenis padi lainnya. Mineral inilah yang berperan besar dalam penurunan angka stunting Tanah Air. Karenanya, Kementerian Pertanian terus bergerak memasifkan gerakan pertanaman padi jenis ini di tahun 2023.

Penurunan angka stunting Tanah Air termasuk program prioritas Nasional yang urgent dilakukan pemerintah. Untuk diketahui, angka stunting di Indonesia (data Riset Kesehatan Dasar, Riskesdas 2019) mencapai 30,8 persen (tersebar di 100 kabupaten/kota prioritas dan 34 provinsi). Sementara target WHO, angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.

Salah satu upaya untuk menurunkannya adalah dengan pemberian bahan pangan biofortifikasi, yakni upaya di bidang pertanian untuk meningkatkan kandungan gizi pangan yang merupakan salah satu faktor penting dalam ketahanan pangan nasional.

Kementerian Pertanian sejak 2019 telah melepas Varietas Padi Inpari IR Nutri Zinc. Inpari IR Nutri Zinc mempunyai banyak kelebihan dibanding beberapa varietas lain dalam hal kandungan Zn. Pada varietas tersebut sebesar 34,51 ppm. Sementara varietas lain seperti Ciherang memiliki kandungan 24.06 ppm. Varietas ini baik ditanamuntuk lahan sawah irigasi pada dataran rendah-dataran menengah < 600 mdpl. Sehingga sangat cocok ditanam oleh petani padi umum di Tanah Air.

Direktur Serealia, Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Ismail Wahab mengatakan, program penanaman padi Inpari Nutri Zinc ini sudah berjalan sejak tahun 2020 di lahan seluas 50 ribu ha seluruh Indonesia. Untuk tahun 2023, ditargetkan bisa ditanam di lahan

persawahan dengan total 150 ribu ha seluruh Indonesia. “Di tahun 2024, akan ditanam seluas 200 ribu hektar,” tambahnya.

Untuk lokasi pertanaman padi jenis ini, Ismail menargetkan lokasi dengan prevalensi stunting yang tinggi. “Paling banyak memang di Nusa Tenggara Timur (NTT), kita berikan program ini cakupan yang lebih luas. Tahun ini kita berikan program penanaman pada 19 provinsi,” tuturnya.

Data Ditjen Tanaman Pangan, kegiatan padi Nutri Zinc tahun 2020 seluas 9.970 ha (9 provinsi, 34 kabupaten) di Provinsi Riau, Lampung, Jabar, Jateng, Kalbar, NTB, Gorontalo, Maluku dan Papua dengan produktivitas 4,3-8,9 ton/ha. Perkiraan produksi dari luasan tersebut sekitar 60 ribu ton GKG. Sedangkan kegiatan padi Nutri Zinc tahun 2021 seluas 46.000 ha (26 provinsi, 95 kabupaten) paling luas di NTT 12.000 ha, Jatim 5000 ha, Aceh 2000 ha, NTB 2000 ha, Papua Barat 2000 ha.

Mengenai keefektifan beras dari pertanaman Inpari Nutri Zinc terhadap penurunan stunting, Ismail bercerita uji coba yang telah dilakukan di Kabupaten Sukabumi yang memiliki prevalensi stunting mencapai 10 persen. “Bupati setempat memberikan bantuan beras biofortifikasi ini kepada Ibu hamil. Dan dihasilkan bayi yang normal dan tidak mengalami gejala stunting,” tuturnya.

Baca Juga :   Rakernas Gapoktindo, Kepala NFA Sampaikan Kebijakan Kedelai Nasional

Melihat testimoni sukses dari pemberian beras dari Inpari Nutri Zinc ini, kementerian pertanian pun optimis pengembangan padi biofortifikasi ini bisa dilakukanlebih luas. Termasuk mengajak petani-petani yang selama ini berkutat bertanam padi biasa. Sebab menurutnya, tidak ada perlakuan berbeda dengan jenis lainnya. Harga berasnya juga tidak jauh beda dengan beras konsumsi biasa.

Kelebihan Padi Nutri Zinc

Ismail bercerita, ada kelebihan padi Inpari Nutri Zinc ini menurut pengalaman petani Pemalang yang sudah bertanam lebih dari 100 hektar dari 1 desa. “Padi biofortifikasi ini mampu mengatasi kerugian mereka selama dua kali panen musim sebelumnya yang terkena wereng batang cokelat dan kerdil rumput yang parah. Karena padi jenis ini justru lebih tahan akan serangan OPT dan penyakit sehingga petani bisa panen lebih banyak,” jelasnya.

Begitupula di Kabupaten Kulonprogo, Inpari Nutri Zinc ini produktivitas padi cukup tinggi (mencapai 8,8 ton/ha GKG). Perolehan produksi melebihi rata- rata kabupaten sekitar 6,5 ton/ha GKG. Selain dikonsumsi sendiri, juga dijual petani ke Gabungan Kelompok tani (Gapoktan) digiling menjadi beras yang disalurkan pada program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebagai suplai sembako melalui e-waroeng dengan harga Rp 9.000/ kg. Selanjutnya juga mendaftarkan sertifikat Produk Domestik (PD) untuk Gapoktan yang mengolah hasil padi Inpari Nutri Zinc dan mendapatkan harga yang lebih bersaing di pasaran.

Tak hanya itu, Padi Inpari Nutri Zinc juga dibudidayakan secara organik pada kawasan Jatisarono Organik Sehat Sejahtera (JOSS) yang sudah mendapatkan bantuan sertifikasi padi organik dengan harga premium. Langkah lainnya dengan Program Beras PNS menggunakan beras Inpari Nutri Zinc Organik yang kebutuhannya 1.090 kg/bln dengan harga jual Rp. 12.000/kg. Serta memanfaatkan juga promosi online malalui Tomira (Toko Milik Rakyat). Diakuinya, tingkat kepulenan dari beras kesehatan ini tidak sepulen beras jenis lainnya. Jika tingkat kepulenan beras Ciherang bisa mencapai 21 persen, beras biofortifikasi ini cenderung pera. “Bentuk berasnya pun memang bukan long grain seperti Ciherang. Lebih kecil-kecil. Tetapi ini sebenarnya hanya tinggal selera saja,“ tuturnya.

Meskipun berasnya tergolong pera, dengan keunggulan biofortifikasi yang berguna untuk kesehatan, Inpari Nutri Zinc ini sangat layak diberikan kepada target prevalensi stunting di Tanah Air. “Posko-posko stunting yang diinisiasi oleh bupati dan walikota seharusnya membeli beras-beras Nutri Zinc, yang sudah ditanam petani setempat. Sehingga petani juga semangat untuk menanamnya,“ tegasnya.

Reporter : Gesha

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini