21 Februari 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Padi Nutri Zinc, Alternatif Atasi Stunting

Sinar Tani, Jakarta — Stunting menjadi persoalan serius bagi bangsa Indonesia. Diusia bangsa ini yang telah mencapai 77 tahun, bangsa ini masih mempunyai 24,4 persen anak-anak yang mengalami stunting. Untuk  Mengatasi persoalan tersebut, berbagai gerakkan pun dilakukan. Salah satunya pengembangan padi Inpari Nutiri Zinc.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting adalah g a n g g u a n pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Ini ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar. Data yang diperoleh Tabloid Sinar Tani, diantara 5 juta kelahiran bayi setiap tahun, sebanyak 1,2 juta bayi lahir dengan kondisi stunting.

Stunting itu sendiri merupakan produk yang dihasilkan dari kehamilan. Artinya, ibu hamil bisa menghasilkan bayi stunting. Diperkirakan, bayi yang lahir sudah 23% prevalensi stunting. Kemudian setelah lahir, banyak yang lahirnya normal, tapi kemudian menjadi stunting angkanya mencapai 27,6%.

Hal lain yang menyebabkan stunting adalah sebanyak 11,7% bayi terlahir dengan gizi kurang. Hal ini diukur melalui panjang tubuh tidak sampai 48 cm dan berat badannya tidak sampai 2,5 kg. Tidak hanya itu, tingginya angka stunting di Indonesia juga ditambah dari bayi yang terlahir normal, tetapi tumbuh dengan kekurangan asupan gizi sehingga menjadi stunting.

Pengembangan Nutri Zinc

Salah satu penyebab stunting adalah kekurangan Zn dalam tubuh yang berakibat menurunnya daya tahan tubuh, produktivitas danmenurunkan kualitas hidup manusia. Kekurangan gizi Zn juga menjadi salah satu faktor kekerdilan atau stunting di masyarakat.

Guna membantu mengatasi stunting, Kementerian Pertanian telah memperkenalkan padi Inpari IR Nutri Zinc. Varietas tersebut telah dilepas Menteri Pertanian SyahrulYasin Limpo melalui Surat Keputusan No. 168/HK.540/C/01/2019. Padi ini cocok di tanam di lahan sawah irigasi pada ketinggian 0-600 dpl (di atas permukaan laut).

Data deskripsi dalam SK Menteri Pertanian tahun 2019, kandungan Zn yang terdapat pada varietas Inpari nutri zinc sebesar 34,51 ppm. Sementara varietas lain seperti Ciherang kandungannya hanya 24.06 ppm. Biofortifikasi pada Inpari IR Nutri Zinc diharapkan dapat membantu peningkatan nilai gizi, sekaligus mengatasi kekurangan gizi.

Hasil kajian, varietas tersebut memiliki rata-rata kandungan Zn 29,54 ppm dengan potensi mencapai 34,51 ppm. Rata-rata hasil produksi setara dengan Ciherang sebesar 6,21 ton/ha dengan potensi hasil 9,98 ton/ha, tekstur nasi pulen dan tahan terhadap hama dan penyakit utama tanaman padi.

Melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang kini berganti nama Badan Standarisasi dan Instrumen Pertanian, upaya memperkenalkan padi Inpari IR Nutri Zinc sudah berbagai wilayah nusantara. Di Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, padi Nutri Zinc telah ditanam Kelompok Tani Le Ray.

Hasil ubinan Nutri Zinc mencapai 6,7 ton/ha. Karena petani berharapvarietas ini dapat diadopsi dan berkembang di kelompok tani lain di NTT untuk membantu pemerintah dalam mengatasi stunting. Ketua Kelompok Tani Le Ray, Agustinus Kore mengakui sudah diperkenalkan varietas Inpari IR Nutri Zinc dan mendapat pendampingan secara rutin selama proses budidaya.

Baca Juga :   Genjot CBP, Kepala Bapanas Surati Bulog

“Saat pertanaman padi terjadi serangan hama wereng cokelat, tetapi varietas Inpari IR Nutri Zinc relatif tahan dan aman dari serangan hama, sehingga petani semakin antusias mengembangkan varietas ini dan menjadi primadona baru bagi petani,” katanya.

Sementara itu setelah uji coba, petani di Bone Bolango, Gorontalo kini kepincut bertanam padi Nutri Zinc. Ibrahim Adam yang mengaku jatuh cinta dengan varietas Inpari Nutri Zinc ini karena produktivitasnya lebih tinggi dari sebelumnya. “Kami awalnya memang kesulitan dapat benihnya, tapi benih sumbernya ada di BPTP Gorontalo dan kami merasa terbantu. Biasanya dapat hanya 6 ton, tapi dengan Nutri Zinc bisa dapat 7,1 ton/ha,” cerita Ibrahim.

Karena hanya memiliki lahan yang minimal, Ibrahim bilang, hasil panen yang ditanamnya hanya untuk dikonsumsi sendiri, rasanya pun lebih pulen dengan nutrisi gizi yang tinggi dari varietas lain. Ibrahim tak sendiri, banyak petani dan penangkar benih yang juga tertarik dengan Inpari IR Nutri Zinc ini di wilayah lainnya di Provinsi Gorontalo. Hal ini terlihat dari banyaknya permintaan benih Inpari IR Nutri Zinc yang masuk ke BPTP Gorontalo.

Bagi H. Damiri, petani di Purwakarta, keberadaan padi Nutri Zinc bukan hanya membantu mengatasi stunting di lingkungan masyarakat yang berada di Desa Taringgul Tonggoh, Kecamatan Wanayasa. Tapi juga mengangkat perekonomian masyarakat, karena harga gabahnya lebih tinggi ketimbang padi jenis lainnya.

Ketua Gapoktan Sinar Sari ini mulai menanam padi Inpari IR Nutri Zinc sejak 2021. Harga gabah yang tinggi serta kandungan zinc yang ada di padi Inpari IR Nutri Zinc menjadi alasan ia beralih untuk menanam padi Inpari IR Nutri Zinc. “Hasil beras premium dengan tingkat rusak yang hanya 5% juga menjadi pendorong untuk tetap setia menanam InpariIR Nutri Zinc hingga sekarang,” kataDamiri kepada Tim SINTA TV.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus M Tauchid menyampaikan harapan agar makin banyak pertanaman padi Nutri Zinc di Banten agar masyarakat mendapatkan sumber pangan yang semakin baik dan kayak gizi. “Dengan  padi Nutri Zinc saya berharapprogram pencegahan stunting dapat berjalan dengan baik,” katanya.

Dari hasil uji coba, produktivitas riil pada panen pertama sebesar 7,2 ton/ha GKP dan diperkirakan akan menghasilkan benih sebanyak 4-5 ton/ha kelas SS. Dengan demikian, total benih yang akan tersedia adalah 20-25 ton. Setelah benih tersebut tersertifikasi, kata Agus, pihaknya akan mendesiminasikan dalam bentuk benih bantuan kepada kelompok penangkar yang ada di Banten. “Padi Inpari IR Nutri Zinc kini menunjukkan tren peningkatan permintaan sehubungan dengan khasiat beras ini dalam kegunaannya untuk pencegahan stunting serta gizi buruk pada ibu hamil,” katanya.

 

Reporter : Julian

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini