25 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Tingkatkan Pendapatan, Sulamto Ajak Warga Bermitra Ubi Jalar

Sinar Tani, Wonosobo — Pontesi ubi jalar atau ketela rambat yang menjanjikan membuat Sulamto berpaling. Bila biasanya ketela rambat hanya dijadikan tanaman selingan, Sulamto dan para anggota kelompok tani Gangsar desa Surengede menjadikan ketela rampat sebagai tanaman utama dengan pola tanam di sawah Ubi Jalar – Ubi jalar – Padi

Sudah sejak tahun 2019 Sulamto mengajak teman-temannya mengangkat tanaman ubi jalar sebagai tanaman pokok. Bukan tanpa alasan, Sulamto yanng sudah berpengalamana di tanah garapannya sendiri seluas 3 kesuk (kesuk sama dengan 1/6 ha, namun ada juga yang menyamakannya 1 kesuk = 1000 meter persegi), mengaku bila ditanami padi, selama 4 bulan hanya dapat mengasilkan Rp 15 juta (tebasan). Tetapi dengan menanam ubi jalar selama 5 bulan  dapat menghasilkan hingga Rp 30 juta.

Sulamto tertarik menanam ubi jalar secara intensif, setelah menerima tawaran bermitra dari PT. Indowoo, Purbalingga. Berdasar perjanjian, Sulamto akan menanam ubi jalar sesuai persyaratan dari perusahaan, dan ketika panen nanti seluruh produksi akan dibeli perusahaan dengan harga yang disepakati di awal kerjasama.

Hal tersebut diungkapkan Sulamto saat panen ubi jalar yang dihadiri Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Supriyanto SP,MP, Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo, Dwiyama beserta staf dan para Penyuluh Pertanian dari BPP Kertek.

“ Sekarang kami menanam 3 varitas yang di rekomendasi pihak mitra, yaitu  varitas AC Putih, yang kulit umbi berwarna putih, varitas Mulia yang kulit berwarna merah dan varitas Naruto yang berwarna putih juga. Namun kami lebih suka AC putih karena produktivitasnya paling tinggi” Ujarnya.

Umbi tersebut dibeli oleh mitra seharga Rp 2.200,- per kg bersih di lahan, artinya biaya tenaga panen dibayar mitra dengan harga borongan Rp 300,- per kg.

Produktivitas potensial varitas AC Putih dapat mencapai 30 ton per Ha. Tetapi produksi  riil di Surengede ini berkisar antara   20 – 25 ton per Ha karena konversi galengan cukup tinggi.

“ Setiap bulan kami diberi kuota penanaman sekitar 3 – 4 Ha” kata Sulamto.

Sehingga agar setiap bulan dapat panen dan setor ke mitra, maka setiap saat kami, Kelompok Tani Gangsar mengelola lahan ubi jalar seluar 15 – 20 Ha.

Baca Juga :   Gunakan KRI Makassar, Pemprov Jateng Kirim Bantuan Pangan Untuk Karimunjawa

Sulamto memang menangkap peluang kemitraan ubi jalar ini bersama kelompok tani Gangsar, yang kebetulan sedang dipimpinnya. Kelompok ini mengatur jadwal tanam ubi jalar sesuai kuota.

Bila di wilayah kelompoknya lahan sudah penuh, Maka Sulamto akan membuka kemitraan keluar desa, dan sudah ada kelompok tani dari beberapa Kecamatan sekitar  yang pernah bekerja sama, antara lain Kecamatan Kepil, Sapuran, Selomerto, serta Leksono.

Menurut Penyuluh Pertanian pendamping Kelompok Tani Gangsar, Agustina Ratna Wardani, bahwa para petani di kelompok ini mengerjakan budidaya ubi jalar secara gotong royong.

“Mereka bergantian kerja mengolah tanah atau menanam ubi di lahan  masing-masing anggota kelompok, gratis hanya menyediakan makan saja” ujar Wanita yang akrab disapa Mbak Nana ini.

Supriyanto yang sangat terkesan dengan daya upaya petani untuk meningkatkan nilai tambah produksi ubi jalar menyampaikan beberapa pesan. Pertama agar kelompok Tani Gangsar di desa Suren gede, kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo,  meneruskan kerjasama kemitraan tersebut sembari meningkatkan ketrampilan teknis budidaya dan ketrampilan usaha.

Yang kedua agar kelompok tani segera Menyusun Bersama MoU Kerjasama kemitraan tersebut resmi hitam diatas putih. Hal tersebut penting untuk menghindari perselisihan. Yang ketiga agar di coba dan di usahakan pengolahan ubi jalar oleh kelompok tani

Menaggapi tetang pengolahan hasil Koordinator Balai Penyluhan Pertanian Kertek, Ratih mengaku bahwa Kelompok Wanita Tani (KWT) Wiropalan didampingi penyuluh telah mencoba mengolah ubi jalar menjadi beberapa jenis makanan ringan.

Antara lain sekolon, mustofa, pia ubi, jenang candil ubi dan lain-lain.

“Hanya karena keterbatasan alat dan SDM maka sementara ini produk olahan tersebut baru beredar dikalangan sendiri,” tambahnya.

Sementara itu Kadis Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo, Dwiyama \mengatakan bahwa pola kemitraan ubi jalar petani dengan PT Indowooyang di Wonosobo sepenuhnya diserahkan kepada Kelompok Tani Gangsar untuk mengatur.

“ Satu pintu saja untuk menghindari tumpang tindih pengaturan lahan. Kami yang akan menjadi wasit kalau ada perselisihan” tegasnya.

Ia juga akan mempertimbangkan apabila nanti KWT Wiropalan mengajukan proposal bantuan Unit Pengolahan Hasil untuk meningkatkan nilai tambah ubi jalar di Kelompok Tani Gangsar .

Reporter : Djoko w

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini