21 Februari 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Tingkatkan Produktivitas, Biosaka Unjuk Gigi Pada Penen IP 400 di Klaten

Sinar Tani, Klaten — Panen Raya Padi IP400 di Klaten, Jawa Tengah terasa istimewa, pasalnya panen tersebut merupakan bukti suksesnya pengaplikasian Biosaka. Pada Panen tersebut didapatkan produktivitas ubinan petani mencapai 8,8 ton per hektar.

“Semoga makin banyak daerah yang menerapkan (Biosaka),” ujar Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo ketika membuka kegiatan.

Menteri SYL mengapresiasi gerakan pencanangan padi Pola IP400 di Kabupaten Klaten, dengan estimasi luas lahan sekitar 10 ribu hektare. Plus ditambah penerapan aplikasi Biosaka yang noatebene dibuat sendiri para petani.

“Terbukti hari ini kita bisa lihat para petani Klaten berhasil,” jelas SYL.

Dari hasil pemetaan di lapangan, melalui Pola Pertanaman IP400 serta pengaplikasian Biosaka, produktivitas ubinan petani mencapai 8,8 ton per hektare. Sementara untuk biaya produksinya Rp10-11 juta per hektare.

“Kuncinya padi IP400 adalah menggunakan benih genjah. Jarak panen ke tanam maksimal 10 hari. Olah tanah dan panen dengan mekanisasi. Dengan teknologi budidaya ramah lingkungan menggunakan pupuk organik, pupuk hayati, pestisida nabati, biodekomposer, biosaka dan sejenisnya,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, turut dilakukan pula penandatanganan bertajuk ‘Komitmen Kerja’ antara lima Kelompok Tani, Pemerintah Kabupaten Klaten, sertai Kementerian Pertanian. Keenam Kelompok Tani (Poktan) tersebut yakni Poktan Mukti Tani, Poktan Rukun Tani, Poktan Tani Makmur, Poktan Raharjo, Poktan Rukun Tani.

Bupati Klaten, Sri Mulyani mengatakan komitmen kerja untuk percepatan tanam seluas 1.000 hektare di Kecamatan Trucuk. Langkah ini merupakan titik awal untuk rencana masif pencapaian Padi IP 400 se-Kabupaten Klaten.

“Kami targetkan 11.000 hektare bisa mengimplementasikan ini,” jelas Sri Mulyani.

Sri juga memaparkan jika para petani di daerahnya sudah banyak yang menggunakan pupuk organik. Total ada sekitar 9126 hektare lahan yang sudah mengimplementasikan pupuk organik serta Biosaka. Dia berharap makin masifnya pertanian organik mampu memperbaiki kualitas unsur tanah di lahan petani, serta tidak tergantung dengan pupuk kimia.

Baca Juga :   Bangun Cadangan Kedelai Pemerintah, NFA dan Gapoktindo Bahas Kebutuhan Kedelai

“Dan hasilnya tentu bisa lebih optimal,” jelas Sri.

Ditempat yang sama Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi menjelaskan jika IP400 merupakan terobosan untuk meningkatkan indeks pertanaman dengan cara penggunaan lahan secara intensif dengan 4 kali tanam dan 4 kali panen dalam setahun.

“Satu hektar padi memakai biosaka 1 liter utk 7 kali aplikasi selama 1 musim setiap kali aplikasi cukup 3 – 4 tangki dengan dosis 40 mili per tangki. Jadi irit banget,1 litet saja bisa untuk 1 musim,” katanya.

Suwandi mengungkapkan kalau ini bukan buatan pabrikan. Tetapi petani aplikasi biosaka buatan sendiri dengan bahan dari daun/rumput yang sehat diremas tangan.

“Itu untuk menghemat pukim (pupuk kimia) dan hama penyakit minimal,” jelas Suwandi. \

Suwandi menambahkan Biosaka bukan pupuk pestisida tapi sebagai signaling, keuntungannya lainnya, adalah tanaman menjadi tahan serta lebih subur. Kemudian Biosaka ini gratis buatan sendiri, dan ramah lingkungan

Dilansir Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, secara nasional aplikasi Biosaka sudah diterapkan di sejumlah kabupaten, seperti Kabupaten Blitar, Kabupaten Bantul dan lainnya.

“Biosaka adalah ramuan dari rumput atau daun minimal 5 jenis dari daerah sekitar, lalu diremas sehingga homogen koheren tanpa dicampur apapun dan bisa langsung di aplikasikan di tanaman dan sisanya bisa dipakai waktu berikutnya,” tutup Suwandi.

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini