15 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Dirjen FAO: Digitalisasi Masa Depan Pertanian Dunia

Direktur Jenderal Food and Agriculture Organization (FAO) Qu Dongyu | Sumber Foto:Humas Kementan

SINARTANI, Jimbaran—Transformasi Pertanian Digital dalam Percepatan Kewirausahaan Perempuan dan Pemuda menjadi tema besar dalam Global Forum Agriculture Ministers Meeting (AMM) G20 Indonesia, Jimbaran Bali yang dibuka pada Selasa (27/9).

Saat membuka acara, Direktur Jenderal Food and Agriculture Organization (FAO) Qu Dongyu mengungkapkan, dibutuhkan komitmen untuk menjadikan pertanian dunia lebih baik. Karena itu, dibutuhkan cara bekerja yang efisien, efektif, dan inovatif. “Sistem digital adalah masa depan pertanian dunia. Suka atau tidak suka, kita saat ini berada di fase transisi sektor pertanian,” katanya.

Qu menegaskan kembali dukungannya terhadap upaya Indonesia untuk mengembangkan strategi e-agrikultur nasional, termasuk panduan integritas data pertanian dalam penggunaan informasi geospasial. Digitalisasi memainkan peran penting dalam mempercepat kemajuan menuju pencapaian Sustainable Development Goals dengan mendiversifikasi pendapatan dan membuka lapangan kerja dan peluang bisnis di dalam dan di luar pertanian, terutama bagi generasi baru petani dan kaum muda,” ungkapnya.

Ia juga memuji pendirian Agriculture War Room di Kementerian Pertanian RI yang menggunakan teknologi digital canggih untuk meningkatkan pengambilan keputusan berbasis data dan bukti lapangan.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, teknologi dan digitalisasi menjadi jawaban untuk kemajuan sektor pertanian dunia. Indonesia sendiri saat ini mengusung pertanian maju mandiri modern. “Karena itu, pada pertemuan global forum ini kita bisa berbagi perspektif tentang upaya kita meningkatkan kapasitas anak muda dan perempuan dalam mengimplementasikan pertanian digital,” ujarnya.

Menurut SYL, para wirausaha muda ini dapat menjadi pengusaha inovatif melalui perannya sebagai produsen, distributor, pemasar, dan penjual dengan menggunakan teknologi dan model bisnis yang inovatif. “Pada era Industri 4.0 saat ini, kegiatan pertanian tidak lagi mengandalkan tenaga kerja manual tetapi menggabungkan mekanisasi dengan teknologi digital yang dapat mengkondisikan usaha budidaya pertanian menjadi lebih presisi,” jelasnya. Yulianto

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini