22 Mei 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Koordinator Patriot Ekspor, Barantan Kawal Kinerja Ekspor Pertanian

Sinar Tani, Jakarta — Ekspor pertanian menjadi salah satu andalan negara untuk membangkitkan perekonomian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan ekspor pertanian tahun 2022 tumbuh sebesar 10,52 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspor pertanian Januari – Desember 2022 mencapai US $ 4,89 Miliar, sementara pada periode yang sama tahun 2021 tercatat senilai US$ 4,24 Miliar.

“Kita menetapkan milestone sampai dengan tahun 2024, untuk mencapai Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (GraTiEks), senilai Rp 1.300 Triliun. Ini angka yang luar biasa yang ingin kita capai.,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian, Bambang saat bertemu dengan insan media pada acara Kopi Pagi, Rabu (22/2) di Jakarta.

Bambang mengungkapkan, Menteri Pertanian pada akhir 2022 menugaskan kepada Badan Karantina Pertanian (Barantan) untuk lebih detail lagi, mulai tahun 2023 ini Barantan sebagai Koordinator Patriot Ekspor.

“Koordinator Patriot Ekspor mengawal pengembangan berbagai komoditas yang dilaksanakan oleh tim teknis (peternakan, perkebunan, tanaman pangan, hortikultura) atas dukungan eselon I di lingkup Kementerian Pertanian untuk mengawal kinerja ekspor hingga tahun 2024,” ujarnya.


Didampingi Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Wisnu Wasisa Putra dan Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, AM Adnan, Kabarantan menjelaskan tren positif peningkatan ekspor pertanian di tahun 2022 dicapai berkat adanya peningkatan pada beberapa komoditas unggulan sektor pertanian yang telah diprogramkan oleh direktorat jenderal teknis di lingkup Kementerian Pertanian.

“Kita berhasil mengharmonisasikan aturan teknis pada komoditas porang, nanas, dan buah naga untuk pasar Tiongkok. Semoga peluang ini dapat dimanfaatkan pelaku usaha, karena protokol ekspor sudah siap,” papar Bambang

Untuk komoditas pertanian lainnya dengan nilai ekonomi yang cukup signifikan, Bambang juga memaparkan perkembangan ekspor Sarang Burung Walet (SBW) sebanyak 19 persen dari total 1.502 Ton SBW tanah air yang masuk ke pasar Tiongkok dan selebihnya laris di 23 negara lainnya.

Baca Juga :   Hadapi Krisis Pangan, DPR: Dorong Kapasitas Produksi Pangan

“Dengan persyaratan ekspor yang cukup ketat, sebanyak 33 eksportir mampu memenuhinya. Dan tentunya kami berkepentingan untuk menambah jumlah eksportir yang bisa lolos dengan memberikan pendampingan dan pengawasan,” jelas Bambang

Pada kesempatan yang sama Bambang juga memaparkan tantangan terhadap ancaman hama penyakit karantina yang berbahaya pada hewan dan tumbuhan.

“Setelah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak, kini ada Lumpy Skin Diseases (LSD) dan kita berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait untuk menanggulanginya,”jelasnya.

Dalam mendorong daya saing pertanian di pasar global, selain gencar melakukan harmonisasi aturan teknis sanitari dan fitosanitari, Barantan bersama Bea Cukai, Pelindo, dan instansi terkait lainnya juga terus mempercepat upaya pembenahan ekosistem logistik nasional di pelabuhan.

Pembenahan National Logistic Ecosystem (NLE) sesuai Inpres 05/2020 dalam masuk program Stranas PK – KPK

“Tahun lalu pembenahan pelayanan karantina sudah dilakukan di 14 pelabuhan, dan tahun ini sesuai target KPK ditambah 20 pelabuhan menjadi 34 pelabuhan,” kata Bambang.

Salah satu indikator NLE yang penting adalah implementasi layanan Single Submission Kepabeanan Karantina (SSm QC). Layanan ini mengefisienkan proses pemeriksaan bersama beacukai dan karantina sehingga tidak ada duplikasi kegiatan pemeriksaan fisik baik untuk impor maupun ekspor.

Dampak signifikan SSm QC yang mengacu pada efisiensi dan efektifitas, transparansi, dan digitalisasi layanan, maka pelaksanaan tindakan Karantina sangat optimal dalam mencegah masuk/keluarnya hama penyakit karena dilakukan di border sejalan dengan amanah UU No.21/2019.

Reporter : Indri

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini