25 Juni 2024

Sinar Tani

Media Pertanian Terkini

Masuki Musim Tanam, Siaga Fenomena Iklim

Babinsa membantu petani tanam padi | Sumber Foto:Dok. Sinta

Sinar Tani, Jakarta—Perubahan iklim sudah menjadi suatu keniscayaan, bahkan sejak tahun 1980 perubahan iklim terus terjadi secara signifikan. Dampak perubahan iklim terhadap pertanian menjadi salah satu penyebab timbulnya krisis pangan global. Kondisi tersebut harus diantisipasi.

Bahkan sidang Agriculture Ministers Meeting (AMM) G20, di Jimbaran, Bali, pada Rabu (28/9) persoalan tersebut menjadi tema utama yang dibahas. Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo (SYL) pun saat memimpin sidang, mengajak anggota G20 berkolaborasi untuk mengatasi tantangan global tersebut.

Laporan status Ketahanan Pangan dan Gizi Dunia Tahun 2022 memperkirakan pandemi Covid-19 telah menyebabkan peningkatan kasus kekurangan gizi kronis sebanyak 150 juta orang. Bahkan, peningkatan kasus kelaparan antara 702-828 juta orang di dunia pada 2021, serta masih sekitar 670 juta orang menjelang tahun 2030.

Waspada dan Antisipasi Dini

Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi mengingatkan untuk waspada dan antisipasi dini terhadap ancaman perubahan iklim. Apalagi tantangan saat ini kian besar, bukan hanya iklim yang sulit ditebak, juga ancaman geopolitik perang Rusia dan Ukraina. Kondisi itu bisa menyebabkan krisis pangan.

Karena itu, Suwandi mengatakan, salah satu menyiasati perubahan iklim adalah dengan varietas benih yang bagus. Sebab, biasanya setelah hujan yang diikuti banjir akan menyusul adanya serangan hama dan penyakit. Belum lagi pertengahan tahun depan, ada ancaman kemarau. “Jadi kita harus siap-saip perlu early warning sistem dan antisipasi dini, baik perbenihan, pupuk, proteksi tanaman, hingga kegiatan panen dan pasca panen,” ujarnya.

Baca juga: Ingin Tanam Inilah Prediksi BMKG

Suwandi meminta agar benih pada musim tanam Oktober-Maret ini, terutama saat musim hujan harus benar-benar disiapkan. Bagaimana target pertanaman pada musim tanam pertama bisa mencapai 8 juta hektar (ha) guna menjaga produksi tahun 2023. “Bagaimana kita mempersiapkan varietas padi yang tahan genangan dan tahan OPT tertentu. Ini harus dipersiapkan dengan baik, sehingga bisa mengutangi risiko,” tegasnya.

Untuk itu early warning sytem menurut Suwandi perlu dipersiapkan dengan baik. Bahkan informasi BMKG terkait cuaca harus dipantau terus menerus. Selain itu, lanjutnya, perlu dipersiapkan juga Brigade, terutama Brigade Hama dan Penyakit, serta Brigade Banjir yang kini mulai terjadi di beberapa wilayah. “Jadi gunakan benih yang tahan banjir, tahan genangan, tahan rebah, tahan hama penyakit,” ujarnya.

Karena itu Suwandi mengingatkan agar dipersiapkan varietas yang cocok. Jangan lupa pilih varietas yang genjah, seperti Cakra Buana, Padjajaran, M70D, Inpari 12, 13 dan seterusnya. Varietas Ini diminati petani karena genjah dan super genjah. “Umurnya pendek dan hasilnya bagus dan akan mendukung program IP 400,” katanya.

Selain itu mengantisipasi panen musim hujan, petani juga harus menyiapkan sistem pengering. “Untuk pengeringan petani dalam kelompok tani bisa membuat sendiri bad dryer kapasitas 20 ton/hari. Biayanya hanya Rp 80-90 juta. Jadi saat musim hujan petani tidak kesulitan untuk pengeringan,” ujarnya.

Bukan hanya itu, Suwandi juga menyarankan agar petani memperbaiki saluran air agar aliran air lancar. Dengan demikian, saat Musim Tanam Oktober-Maret, petani tidak lagi bermasalah dalam usaha taninya, dari mulai perbenihan hingga panen. “Karena kondisi yang tak baik-baik saja, kita harus bekerja yang tidak biasa-biasa saja,” tegasnya mengingatkan.

Sementara itu, Koordinator substansi Penanggulangan Dampak Perubahan Iklim (DPI), Ditjen Tanaman Pangan, Abriani Fensionita mengatakan, sebagian besar wilayah Indonesia saat ini telah memasuki Musim Hujan 2022/2023 yang siklusnya lebih maju. Diperkirakan puncaknya pada Desember-Januari 2023. Fenomena La nina diprediksi akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2022, bahkan sampai awal 2023.

“Curah hujan umumnya masih tinggi karena dipengaruhi oleh La Nina yang diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir Desember 2022 sampai Januari 2023. Untuk itu kita harus siap siaga menghadapi MH 2022/2023 dengan melakukan beberapa upaya dan antisipasi penanganan bencana banjir tersebut,” katanya.

Untuk mitigasi perubahan iklim perlu adanya inovasi. Seperti apa? Baca halaman selanjutnya?

tidak boleh di copy ya

error

suka dengan artikel ini